TRP
Ganti Rugi Lahan Akan Dititipkan
14 Agustus 2015 \\ \\ 633

Mata Bor MRT Mulai Diturunkan di Lokasi Terowongan

JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan akan menempuh langkah konsinyasi jika lahan untuk proyek mass rapid transit tak kunjung bebas. Hingga saat ini masih ada 13 bidang lahan yang bahkan belum dipetakan, padahal tenggat pembebasan lahan sudah lewat.

"Kalau sebulan ini tidak juga bebas, kami akan pakai sis-tem konsinyasi. Saya sudah minta agar pemetaan lahan dipercepat. Jadwal MRT sudah pasti terganggu," kata Basuki, Rabu (12/8).

Kemarin, Basuki menggelar pertemuan dengan Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) DKI Jakarta untuk membahas pembebasan lahan ini secara khusus. Langkah konsinyasi atau penitipan uang ganti rugi di pengadilan menjadi pilihan terakhir setelah musyawarah soal jumlah ganti rugi lahan tidak mencapai kesepakatan.

"Kami sudah sering bicara dengan BPN untuk segera membebaskan lahan ini. Sayangnya, di lapangan sering terjadi tarik ulur, saling menyalahkan. Makanya, sekarang saya panggil biar jelas salahnya di mana," ujarnya.

Untuk menentukan langkah konsinyasi ini, lanjut Basuki, perlu ada keterangan dari BPN tentang status kepemilikan tanah. Itulah sebabnya, kata dia, Pemprov DKI Jakarta sangat bergantung kepada BPN. "Kalau di lapangan BPN terlambat, susah kita," katanya.

Kepala Kantor Wilayah BPN DKI Jakarta Zulkifli Ansori mengatakan, ada 13 bidang tanah di Jakarta Selatan yang masih dalam proses pemetaan, yaitu di Pondok Labu, Cipete, dan Lebak Bulus. "Pada dasarnya ada miskomunikasi. Pak Gubernur bilang, pemetaan lahan belum selesai, padahal tinggal sedikit saja. Petugas kami juga terbatas," ujarnya.

Dari 240 bidang tanah yang diprioritaskan, kata Zulkifli, BPN sudah melakukan pengukuran dan inventarisasi untuk 227 bidang. Masih ada empat bidang tanah yang diminta oleh pemiliknya untuk diukur ulang. Sembilan bidang yang lain belum diukur karena ada perubahan trase dari dinas tata kota.

Zulkifli menambahkan, mulai Kamis ini pengukuran akan kembali dilakukan dan diharapkan selesai Senin pekan depan. Ditanya tentang lamanya proses pengukuran tanah, dia mengatakan, ada sejumlah faktor yang menghambat, seperti perubahan trase dan pergantian pejabat di tingkat kota.

Di Jalan Haji Nawi Raya, Kelurahan Gandaria Selatan, Kecamatan Cilandak, dari 31 bidang lahan yang akan dipakai untuk pembangunan stasiun layang, baru 14 bidang lahan yang siap dibebaskan. Masalah pembebasan lahan menghambat rencana pembangunan stasiun layang.

Muhammad Zen, Lurah Gandaria Selatan, mengatakan, masih banyak warga yang meminta tanahnya dibebaskan dengan harga tinggi. "Kami akan kembali bermusyawarah dengan warga," katanya.

Setelah pengukuran tanah selesai, panitia pembebasan tanah di tingkat kota yang dipimpin sekretaris kota akan kembali bermusyawarah dengan pemilik tanah untuk menentukan nilai ganti rugi. Musyawarah dengan pemilik tanah ini sering kali alot. Penyebabnya, warga meminta harga tanah diganti dengan nilai yang jauh di atas nilai jual obyek pajak (NJOP).

Pemerintah menawarkan harga appraisal atau sesuai dengan harga pasar yang besarnya di atas harga NJOP. "Jika sudah tiga kali musyawarah tidak mencapai kata sepakat, akan ada perangkat yang dibuat oleh Pak Gubernur untuk mengambil langkah konsinyasi," kata Zulkifli.

Mesin bor

Meski masih ada kendala pembebasan lahan, PT MRT Jakarta memastikan pekerjaan MRT tetap berlanjut sesuai jadwal. Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami mengatakan, pekerjaan perakitan mesin bor bawah tanah terus dilanjutkan.

"Kemarin, kami sudah menurunkan komponen mata bor di lokasi Patung Pemuda Membangun (Patung Api Nan Tak Kunjung Padam). Kami senantiasa mohon dukungan dari masyarakat agar pembangunan MRT berlangsung dengan lancar sehingga selesai tepat waktu," katanya.

Komponen mata bor berbobot 34 ton tersebut merupakan salah satu komponen terpenting dalam mesin bor terowongan. Ada beberapa komponen lain yang sebelumnya sudah dipasang, yakni body block dan motor house. Penurunan mata bor ini melengkapi proses perakitan bagian kepala mesin bor terowongan.

Selanjutnya, PT MRT Jakarta akan menyelesaikan perakitan mekanik dan elektrik mesin bor terowongan. (FRO/DNA)

Sumber: Kompas | 13 Agustus 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.