TRP
Migas di Hutan Konservasi Jadikan Strategis
14 Agustus 2015 \\ \\ 351

JAKARTA — Keberadaan potensi hasil tambang minyak dan gas ataupun mineral lain yang merupakan sumber energi di kawasan konservasi hendaknya menjadi cadangan strategis nasional. Potensi ini hanya bisa dieksploitasi jika kondisi mendesak dan darurat energi.

"Cadangan migas atau mineral batubara di dalam hutan konservasi ditetapkan saja menjadi cadangan strategis nasional yang selama ini kita belum punya. Jangan diutak-atik, kecuali dalam kondisi sangat terpaksa," kata Sonny Keraf, anggota Dewan Energi Nasional, Menteri Lingkungan Hidup 1999-2001, Selasa (11/8) di Jakarta.

Ia menanggapi berita, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan mengakomodasi permintaan melegalkan aktivitas tambang minyak dan gas di kawasan hutan konservasi. Legalitas akan dilakukan melalui revisi UU No 5/ 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Sonny mendorong agar pemerintah tetap berada di jalur peningkatan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) yang secara perlahan menggeser dominasi penggunaan bahan bakar fosil, seperti minyak dan batubara. "Syukur-syukur EBT bisa menggeser energi fosil sehingga cadangan strategis nasional tak perlu digunakan," katanya. Dengan demikian, keberadaan hutan lindung ataupun hutan konservasi tetap terjaga sesuai fungsi ekologinya, menjamin kelangsungan hidup manusia.

Ia mengingatkan agar KLHK tak mudah mengiyakan berbagai desakan atau instruksi mengatasnamakan pembangunan. "KLHK terkesan longgar sehingga fungsi-fungsi pengawasan dan kontrol bisa dijebol," ujarnya.

Sonny mengatakan, KLHK bukan institusi anti pembangunan, melainkan sabuk pengaman yang memastikan agar daya tampung dan daya dukung lingkungan tak terlampaui. "Kalau semua diiyakan, daya dukung dan daya tampung lingkungan terlampaui dan terjadi bencana. Buat apa pembangunan itu?" katanya.

Tetap komitmen

William Palitondok Sabandar, tenaga ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Energi Terbarukan, pun mengatakan, niat mengakomodasi tambang migas di hutan konservasi tak sejalan dengan semangat dalam UU Energi dan PP No 79/ 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional yang memprioritaskan pengembangan dan pemanfaatan EBT. "Rencana ataupun wacana untuk menggunakan hutan konservasi kita sebagai tambang migas itu salah besar," katanya.

Pihaknya kini sedang menyusun rancangan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dengan kondisi bauran energi 2013 berupa 46,08 persen minyak, 30,90 persen batubara, 18,26 persen gas, dan 4,7 persen EBT. Rancangan RUEN akan dirilis Oktober 2015 sebagai bukti keberpihakan pada sumber energi bersih untuk menahan perubahan iklim. (ICH)

Sumber: Kompas | 12 Agustus 2015

Berikan komentar.