TRP
Tol Mojokerto-Kertosono Mandek
07 Agustus 2015 \\ \\ 789

Proses Pembebasan Lahan di Seksi II Masih Tersendat

JOMBANG — Proyek pembangunan Jalan Tol Mojokerto-Kertosono, Jawa Timur, Seksi II hingga kini masih terkendala. Informasi lapangan yang dapat dihimpun, dari total panjang jalan tol di Seksi II sepanjang 18,7 kilometer itu, terdapat 3 kilometer lahan dengan lokasi terpotong-potong yang tak kunjung dibebaskan.

Menurut pemimpin proyek PT Marga Harjaya Infrastruktur (MHI) Samsoel Chair di Jombang, Kamis (6/8), ruas tol sepanjang 18,7 kilometer (km) itu membentang dari Desa Tamping Mojo, Kecamatan Tembelang, Jombang, hingga Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg, Mojokerto.

Akibat masih adanya lahan yang belum dibebaskan oleh pemerintah daerah setempat, pekerjaan proyek tidak bisa utuh sesuai dengan ketersediaan lahan. Penyebabnya, lahan untuk jalan tol tidak berada di satu lokasi, tetapi di banyak titik.

Lahan yang masih bermasalah itu, kata Samsoel, berada di wilayah dari Kecamatan Tembelang, Peterongan, hingga Kesamben di Kabupaten Jombang.

Sebenarnya, secara teknis, pekerjaan fisik sudah mencapai 48 persen. Namun, karena ada beberapa bagian yang belum terbebaskan, kini berhenti total. Semua alat berat bersama para pekerja ditarik dari lokasi.

Pekerjaan terpotong

Masalah krusial soal belum selesainya pembebasan tanah yang menjadi wewenang pemerintah daerah setempat mengakibatkan pekerjaan fisik baik jalan maupun jembatan jadi terpotong. Padahal, jalan tol ini merupakan rangkaian jalan tol Trans-Jawa.

Seksi I ruas Tol Mojokerto- Kertosono sepanjang 14,7 km sudah tuntas. Seksi III memiliki panjang 5 kilometer, mulai dari Desa Kemantren sampai Canggu, Kabupaten Mojokerto. Ruas ini melintasi 846 bidang lahan sepanjang 3,6 km dan sekitar 77 persen sudah dibebaskan.

Saat ini, PT MHI fokus mengerjakan konstruksi sambil menunggu pembebasan lahan sepanjang 1,4 km atau sekitar 23 persen. Proyek Tol Mojokerto- Kertosono, Seksi I-III, dibangun sepanjang 40,5 km melintasi Kabupaten Mojokerto dan Jombang, dan dikerjakan oleh MHI selaku pemegang hak konsesi dengan nilai investasi Rp 3,48 triliun.

"Begitu ada lahan yang sudah beres pembebasannya langsung digarap," kata Samsoel sembari menambahkan, panitia pengadaan tanah (P2T) di setiap daerah segera menuntaskan pembebasan agar target penyelesaian bisa terpenuhi.

Surabaya-Mojokerto

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah menyerahkan lahan seluas 163.179 meter persegi kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk percepatan pembangunan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto (Tol Sumo). Sebagai gantinya, Pemkot Surabaya mendapatkan lahan seluas 494.760 meter persegi.

Penukaran aset (ruilslag) itu telah disepakati dalam perjanjian yang ditandatangani kedua belah pihak, Rabu (5/8).

"Kami sejak awal memang ingin tukar-menukar aset itu tidak dalam bentuk uang, tetapi lahan. Meski kami mendapat bagian yang luasnya lebih besar, nilainya relatif sama dengan lahan yang kami berikan," kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Lahan seluas 163.179 meter persegi itu berada di Kelurahan Karang Pilang seluas 16.406 meter persegi dan di Kelurahan Warugunung seluas 146.773 meter persegi. Sementara lahan yang diterima Pemkot Surabaya berada di Kelurahan Medokan Ayu seluas 367.202 meter persegi, Kelurahan Sumberrejo seluas 92.272 meter persegi, dan di Kelurahan Warugunung seluas 35.286 meter persegi. Total nilai ruilslag tersebut Rp 112 miliar.

Jalan Tol Sumo ini memiliki panjang 36,27 km dan menjadi bagian dari tol Trans-Jawa. Ruas tol ini nantinya menyambung dengan ruas Tol Mojokerto-Kertosono. Pemerintah pusat saat ini masih berupaya membebaskan delapan persil lahan milik warga di ruas Tol Sumo.

"Itu sudah kewenangan pemerintah pusat, kami tidak terlibat dalam pembebasan lahan," kata Risma. (DEN/ETA)

Sumber: Kompas | 7 Agustus 2015

Berikan komentar.