TRP
Pekan Depan, Integrasi Transjabodetabek Dimulai
07 Agustus 2015 \\ \\ 552

JAKARTA — Terhitung mulai 10 Agustus mendatang, bus-bus transjabodetabek dari wilayah sekitar Jakarta bakal masuk ke jalur transjakarta. Dengan armada baru berperangkat GPS dan kamera pemantau, operator berjanji memberikan pelayanan berstandar transjakarta.

Integrasi itu merupakan hasil kesepakatan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) sebagai pengelola bus transjakarta dengan Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) sebagai operator bus-bus transjabodetabek. Kerja sama diharapkan memudahkan mobilitas warga dari Jakarta ke wilayah sekitarnya dan sebaliknya.

Direktur Utama Perum PPD Pande Putu Yasa, Sabtu (1/8), menyebutkan, sebanyak 78 armada baru akan dioperasikan di trayek Depok-PGC (Pusat Grosir Cililitan)-Grogol (25 unit), Harapan Indah Bekasi-Pasar Baru (25 unit), dan Poris Plawad-Kemayoran (28 unit). Operasional bus-bus tersebut akan melengkapi 10 bus yang lebih dulu beroperasi di rute Ciputat-Blok M.

Senin (3/8) ini, lanjut Pande, PPD dan Transjakarta akan menyurvei bagaimana integrasi akan diterapkan di lapangan, termasuk melihat kesiapan jalur, halte, serta kelengkapan bus, seperti GPS (global positioning system) dan CCTV (kamera pemantau).

Sesuai dengan kontrak kerja sama, bus-bus transjabodetabek akan memberlakukan tarif flat (datar) Rp 9.000 per penumpang dari tempat asal, baik di Bekasi, Depok, Tangerang, maupun Tangerang Selatan. Setelah tiba di Jakarta, bus masuk di jalur busway. Sebagaimana bus transjakarta, bus tidak diperkenankan mengambil penumpang di jalur kiri.

Kecepatan bus diatur maksimal 50 kilometer per jam, dikemudikan sopir besertifikat, serta dioperasikan dengan standar teknis dan keselamatan transjakarta. Awak bus tak diperkenankan memungut biaya tambahan kepada penumpang selama beroperasi di jalur transjakarta. Evaluasi akan dilakukan setelah satu-tiga bulan uji coba.

Menurut Pande, kerja sama itu menguntungkan kedua pihak. Penggabungan tersebut juga dianggap tak berseberangan dengan operasi angkutan perbatasan terintegrasi busway (APTB). "Transjabodetabek justru menguatkan keberadaan APTB," ujarnya.

Direktur Utama PT Transjakarta ANS Kosasih menambahkan, kerja sama itu positif. Sebab, akan ada tambahan bus untuk mendukung layanan transjakarta tanpa PT Transjakarta mendatangkan bus baru dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak perlu mengeluarkan anggaran subsidi (PSO/public service obligation).

Kosasih menambahkan, hingga akhir 2015, Transjakarta bakal mendapat tambahan 529 bus baru. Selain 20 bus Scania, 509 bus baru juga akan datang secara bertahap selama Oktober-Desember 2015. Tambahan itu termasuk 120 bus medium kopaja yang operasinya juga terintegrasi transjakarta dan 158 bus dari pengadaan 2012 yang terlambat dipenuhi pemenang tender.

Hingga akhir tahun lalu, jumlah armada transjakarta masih sangat kurang. Dengan total panjang jalur 210 kilometer dan target interval kedatangan (headway) 3-10 menit, idealnya ada 1.289 bus (setara bus gandeng) yang melayani 12 koridor. Namun, jumlah bus yang beroperasi saat ini baru 429-566 bus dengan jarak kedatangan 5-20 menit.

Untungkan penumpang

Komunitas pengguna angkutan umum menyambut baik integrasi transjabodetabek dan transjakarta karena menguntungkan penumpang. Namun, mekanisme integrasi diharapkan lebih baik agar tak mengulang kasus APTB.

"Integrasi dalam bentuk apa pun akan menolong pengguna angkutan umum, terutama yang tinggal di pinggiran. (Namun) mekanisme integrasi dan model bisnisnya harus diselesaikan lebih dulu. Jangan sampai seperti APTB yang izinnya dipersoalkan Kementerian Perhubungan," kata Koordinator Komunitas Suara Transjakarta David Tjahjana, Minggu.

Dia menilai, transjabodetabek bisa lebih baik karena sudah mendapat izin dari Kementerian Perhubungan. Selain itu, penumpang di jalur bus transjakarta tidak akan dipungut biaya lagi sehingga penumpang tak terbebani. (MKN/FRO)

Sumber: Kompas | 3 Agustus 2015

Berikan komentar.