TRP
Tabat Menjaga Gambut Tetap Basah
04 Agustus 2015 \\ \\ 433

PALANGKARAYA — Musim kemarau yang melanda sebagian besar wilayah Nusantara mengakibatkan sumber mata air mengering dan kanal-kanal di area lahan gambut pun surut. Akibatnya, gambut pun rawan terbakar. Jika terjadi kebakaran, hal itu menyebabkan polusi kabut asap.

Tabat atau bendung kayu di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menjadi salah satu contoh upaya menjaga kandungan air dalam gambut sehingga kebakaran dapat dicegah.

"Kebakaran lahan sebenarnya akibat dari perilaku manusia yang sembrono. Ini kemudian didukung keadaan gambut yang kering akibat pembukaan kanal-kanal," kata Kepala UPT Centre for International Co-Operation in Sustainable Management of Tropical Peatland (Cimtrop) Universitas Palangkaraya Suwido Hester Limin, Senin (3/8), di Palangkaraya.

Suwido mengatakan, setiap 1 kilogram gambut mentah dapat menyimpan air hingga 10 liter. Jika tinggi muka air kanal terjaga, gambut pun turut basah sehingga api tidak terlalu dalam membakar lapisan gambut.

Di Blok C eks Program Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar dengan luas mencapai 40.000 hektar, UPT Cimtrop membangun sekitar 30 tabat pada 2005-2009.

"Penabatan untuk pemulihan status hidrologi gambut," katanya.

Tabat itu memiliki panjang 25-30 meter sesuai lebar kanal dan lebarnya bervariasi, ada yang berukuran 8 meter untuk ukuran besar dan 2 meter untuk ukuran kecil.

"Tabat dibuat dari kayu galam yang tahan air. Biaya pembuatan per tabat untuk ukuran besar sekitar Rp 30 juta," ujar Suwido.

Di Jalan Mahir Mahar Kilometer 21, Palangkaraya, atau jalan yang mengarah ke Kabupaten Pulang Pisau, tepatnya di Desa Kameloh, Kecamatan Sebangau, Palangkaraya, tampak sebuah kanal yang menghubungkan antara Sungai Kahayan dan Sungai Sebangau. Di sana, UPT Cimtrop pun membangun sedikitnya 10 tabat.

"Empat di antaranya besar dengan ukuran 8 meter dan lainnya kecil dengan ukuran 2 meter," kata Koordinator Tim Serbu Api UPT Cimtrop Haga Salmin.

Tabat itu berupa kayu-kayu galam yang disusun membendung aliran air dengan ketinggian sekitar 3 meter. Kemudian pada bagian tengahnya diberi terpal dan ditimbun oleh tanah dan pasir. Pada musim hujan, tabat bisa terendam air hingga lebih dari 1 meter. Adapun saat kemarau tabat bisa menahan air hingga kedalaman 1-2 meter.

Pada bagian dalam tabat pun diberi sebuah pipa paralon untuk bisa mengalirkan air. Beberapa tabat dalam kondisi memprihatinkan karena diduga dijebol warga sekitar.

"Kadang warga tidak paham apa fungsi tabat. Mereka merasa terganggu dengan adanya tabat karena kapal mereka tidak bisa lewat saat kemarau," kata Haga.

Seperti diberitakan Kompas (21/3/2014), Program PLG dengan luas wilayah sekitar 1,4 juta hektar yang dilaksanakan pada 1996-1999 menyebabkan kerusakan lahan gambut sehingga perlu direstorasi. Penabatan pun dilaksanakan di sejumlah lokasi di Taman Nasional Sebangau dengan rintisan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat. Meski setiap tahun mengalami kebakaran lahan gambut, dengan adanya penabatan, dampak kabut asap yang ditimbulkan tidak separah kebakaran lahan yang terjadi di daerah Pulau Sumatera. Oleh W Megandika Wicaksono

Sumber: Kompas | 03 Agustus 2015

Berikan komentar.