TRP
RI dan Timor Leste Bahas Pengelolaan Bersama
04 Agustus 2015 \\ \\ 421

DILI — Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bertemu Menteri Pertanian dan Perikanan Timor Leste Estanislau da Silva di Dili, Timor Leste, Rabu (29/7). Mereka membahas rencana pengelolaan daerah aliran sungai yang melintasi kedua negara.

Kompleksitas isu pengelolaan DAS, terutama lintas negara, tidak dapat diselesaikan satu negara. "Harus bilateral," kata Menteri LHK Siti Nurbaya seusai pertemuan tertutup, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Hamzirwan, dari Dili, kemarin.

Saat itu, turut mendampingi, antara lain Duta Besar RI untuk Timor Leste M Primanto Hendrasmoro serta Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Kementerian LHK Hilman Nugroho.

Pertemuan bilateral pertama itu bertujuan membangun tata kelola DAS yang lestari. Di kedua negara, ada 10 DAS yang butuh pengelolaan bersama, yakni Talau, Ekad, Babulu, Tafara, Oebase, Besi, Daikain Oepotis, Meto, Mina, dan Kobalima.

Seluruh DAS seluas 466.582 hektar, 183.711 ha (39,37 persen) itu berada di Indonesia dan 282.871 ha di Timor Leste. Kerja sama pengelolaan DAS itu diharapkan bisa membangun tata kelola kehutanan dan lingkungan yang komprehensif.

Kementerian LHK akan menetapkan status DAS lintas negara dengan Timor Leste yang dilanjutkan membuat nota kesepahaman penyusunan Rencana Pengelolaan (RP) DAS Lintas Negara. Berdasarkan nota kesepahaman tersebut, kedua negara akan menyusun tiga RPDAS Lintas Negara, yaitu RPDAS Talau, RPDAS Ekad, dan RPDAS Babulu.

RPDAS itu juga termasuk gerakan penghijauan di Timor Leste. Saat ini Pemerintah Timor Leste tengah gencar mengampanyekan gerakan menanam pohon.

Pemerintah Timor Leste juga telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk pembibitan dan pemeliharaan pohon. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum mengakhiri masa jabatan mengirim sedikitnya 26.000 pohon dari kebun bibit Paguyuban Budiasi di Sentul, Bogor, Jawa Barat, yang didirikan Mayor Jenderal Doni Monardo.

Mantan Menteri Dalam Negeri Timor Leste Jorge da Conceicao Teme mengatakan, pihaknya perlu bibit untuk penghijauan lahan-lahan tandus. "Kami juga butuh pendamping yang bisa mengajari cara menanam dan memelihara pohon," katanya.

Kerja sama itu, kata pengamat militer Nuning Kertopati, diharapkan meningkat untuk kepentingan lebih luas dan bermanfaat bagi kedua negara.

Sumber: Kompas | 30 Juli 2015

Berikan komentar.