TRP
Pemahaman Baru Gempa Selatan Jawa
28 Juli 2015 \\ \\ 446

JAKARTA — Gempa bumi di Samudra Hindia sebelah selatan Cilacap pada Sabtu (25/7) dan selatan Pacitan pada Minggu (26/7), punya kesamaan mekanisme, yakni arah pergeserannya tegak lurus pergerakan lempeng. Itu pemahaman baru dan menambah kompleksitas tektonik di kawasan itu.

"Gempa selatan Malang itu tak sesederhana dugaan kami. Arah slip gempa tegak lurus arah pergerakan lempeng. Padahal, lokasi kejadian di zona subduksi. Yang menarik, ini mirip gempa hari Sabtu di selatan Cilacap," kata ahli gempa dari Research Center for Disaster Mitigation (RCDM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, Senin (27/7), dihubungi dari Jakarta.

Menurut Irwan, dua gempa itu memberi pemahaman baru fenomena tektonik di selatan Jawa. "Kemungkinannya ada tekanan pra-eksisting yang membuat arah slipnya tak kami prediksi. Ini bisa karena tarikan slab yang kuat atau mungkin pengaruh lain yang belum diketahui. Masih terus kami pelajari, katanya.

Rahma Hanifa, peneliti pada RCDM-ITB mengatakan, gempa di selatan Cilacap diduga terkait sisa relaksasi gempa Pangandaran, karena kejadiannya di batas sisi timur runtuhan gempa tahun 2006 itu. "Tapi, untuk gempa di selatan Pacitan, kami belum bisa beri penjelasan. Data patahan di daerah itu belum ada," ujarnya.

Menurut Irwan, dari sisi keilmuan, pemahaman tektonik di selatan Jawa masih sangat minim, termasuk adanya zona gelap kegempaan (seismic gap). Selama ini, gempa di zona subduksi sering terjadi di selatan Pangandaran dan selatan Banyuwangi. Sementara, di antara kedua zona itu kegempaan cukup rendah. Padahal, potensi kegempaannya sangat tinggi.

Rilis energi

Menurut Irwan, dua gempa kecil di selatan Jawa itu sapaan awal. "Seperti peringatan zona ini aktif, harus diperhatikan. Potensi sesungguhnya skala di atas M 8, yang datang M 5,8," kata Irwan.

Gempa-gempa kecil itu tak berarti mengurangi energi potensial di zona selatan Jawa. Anggapan bahwa gempa bisa dicicil energinya, kata dia, tidak tepat. Oleh karena itu, kesiapsiagaan terhadap gempa besar di selatan Jawa harus terus dilakukan.

Menurut Rahma, setelah gempa Aceh 2004 dan Tohoku (Jepang) 2011, perspektif ilmu kegempaan berubah. Pasca dua kejadian itu, para ilmuwan meyakini gempa raksasa bisa terjadi di zona subduksi manapun, termasuk di selatan Jawa yang dianggap minim data gempa besar. "Kami pernah kecolongan sehingga tak siap menghadapi gempa Aceh 2004, juga gempa Pangandaran 2006. Tidak boleh kecolongan lagi," kata Rahma.

Di Lumajang, Jatim, dinding 14 rumah retak akibat gempa di selatan Malang. "Tapi tidak membahayakan penghuni," kata Hendro Wahyono, Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lumajang.

Laporan BPBD Jatim, gempa dirasakan kuat lima detik di Kabupaten Malang, enam detik di Kabupaten Blitar, dan empat detik di Kabupaten Lumajang. (AIK/DIA/ETA/wer/cok/ody)

Sumber: Kompas | 28 Juli 2015

Berikan komentar.