TRP
Kembalinya Malang Kota Taman
27 Juli 2015 \\ \\ 627

 

Pada masa kolonial, Kota Malang dikenal keelokannya dengan aneka taman bunga. Tak ayal, sebutan Garden City (kota taman) pun sempat disematkan untuk kawasan berpenduduk 848.474 jiwa ini. Sebutan itu sempat hilang karena taman-taman kota tergeser perkembangan ekonomi.

Sebagian besar warga Kota Malang resah dengan laju pertumbuhan bangunan rumah toko (ruko) yang terus menyesaki wilayah dengan luas 110,6 kilometer persegi tersebut. Naiknya suhu udara rata-rata pun dirasakan mulai menggeser citra kota pegunungan menjadi kota besar nan panas, polusi, dan macet.

Tidak ingin citra kota taman lepas dari genggaman, pemerintah daerah mulai serius merenovasi sejumlah taman kota. Taman-taman kota yang semula semrawut dirombak lebih cantik dan memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menikmatinya.

Perombakan taman pertama dilakukan pada Februari 2013 di Taman Singha Merjosari Kota Malang. Renovasi taman dilakukan pemerintah pusat dengan dana APBN. Taman yang semula sawah dirombak menjadi taman bermain, olahraga, dan ruang terbuka hijau bagi masyarakat.

Taman Cerdas Bentoel Trunojoyo adalah taman pertama yang direnovasi dengan APBD Kota Malang. Taman yang semula tertutup oleh pedagang kaki lima itu kini diperbaiki hingga fungsi utamanya sebagai ruang publik kembali. Memanfaatkan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Bentoel, tahun 2014 taman dikembalikan menjadi ruang terbuka bagi keluarga dan siapa saja yang ingin menikmatinya. Taman dilengkapi perpustakaan mini, area bermain anak, serta tempat untuk berkumpul kolega dan keluarga. Warga pun mulai menikmati taman kota yang semula berkesan jorok dan tertutup bangunan PKL.

Berikutnya, perbaikan taman dilakukan di Taman Merbabu memanfaatkan CSR dari PT Beiersdorf Indonesia masih tahun 2014. Taman yang semula tidak maksimal fungsinya karena sering berlumpur saat hujan itu kini menjadi taman keluarga yang bisa menjadi sarana rekreatif keluarga.

Taman Tugu, taman di depan Balai Kota Malang, yang semula tertutup pagar pun dibuka. Masyarakat disilakan menikmati keindahan ruang terbuka yang semula tidak terjamah itu.

Taman Kunang-Kunang di Jalan Jakarta Kota Malang adalah taman berikutnya yang direnovasi. Di taman tersebut diberi tempat duduk dan ruang terbuka yang biasa dijadikan tempat mahasiswa untuk mengekspresikan bakat seni mereka seperti menari.

Asri

Rabu (17/6), taman utama Kota Malang, yaitu Alun-alun Kota, pun resmi dibuka untuk masyarakat. Sebelumnya selama beberapa waktu lalu, alun-alun ini tertutup seng karena tengah direnovasi.

Sejak diresmikan warga pun menjejali alun-alun yang menjadi jantung kota tersebut. Taman yang semula kotor dan banyak dihuni PKL kini disulap terbuka, hijau, asri, dan bersih. Masyarakat bisa menikmati air mancur (meski mengalirnya tidak setiap saat), duduk-duduk di bawah rindangnya pepohonan, bermain di area permainan anak, atau sekadar menonton anak-anak muda berlatih skateboard. Ya, di taman kota tersebut juga disediakan satu lapangan kecil berukuran sekitar 10 meter x 20 meter untuk lapangan latihan skateboard. Kembali, taman ini dibangun memanfaatkan CSR, kali ini dari Bank Rakyat Indonesia.

"Kami berterima kasih kepada pemerintah karena diberikan lapangan. Meskipun peralatan dari kami sendiri, adanya lapangan khusus ini menjadikan kami tidak perlu berlatih di jalan lagi," ujar Vito Ardiansyah (23), atlet skateboard yang berlatih di Alun-alun Kota Malang, Selasa (23/6) sore.

Vito bercerita bahwa selama ini ia bersama komunitas skateboard berlatih di jalan-jalan tertentu di Kota Malang. Mulai dari Jalan Jakarta, Jalan Panggung, Jalan Delima, dan beberapa jalan lainnya. "Risikonya kalau ada mobil lewat, kami harus berhenti dan menunggu dulu. Kini, di tempat ini kami bisa berlatih sepuasnya tanpa takut tertabrak mobil," ujarnya.

Muhammad Yunus (40), warga Jabung Kabupaten Malang, pun menjadi salah satu penikmat Alun-alun Kota Malang saat ini. Ia jauh-jauh dari rumahnya yang berjarak lebih kurang 30 kilometer, sengaja datang ke Alun-alun Kota Malang untuk rekreasi.

"Di sini alun-alunnya sudah diperbaiki dan menjadi indah serta nyaman. Dahulu mungkin terkesan kotor. Kini, sangat terbuka, indah dan nyaman. Anak-anak senang bermain di sini," ujar Yunus yang datang bersama istri dan dua anaknya.

Mohammad Anton, Wali Kota Malang, mengatakan, ia ingin membangun taman-taman kota menjadi ruang terbuka bagi masyarakat. Taman harus tidak berjarak dengan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat merasa memiliki dan menjaganya dengan baik.

"Masih ada taman yang akan diperbaiki, seperti Taman Mojolangu di Kecamatan Lowokwaru. Lalu, akan dibangun taman di wilayah Blimbing dan Sukun. Semua warga di lima kecamatan harus bisa menikmati kotanya dengan murah dan meriah," ujar Anton.

Upaya mengembalikan taman-taman di Kota Malang mulai melegakan masyarakat. Mereka bebas menikmati keelokan kota setiap saat dengan murah meriah. Tidak melulu disuguhi bangunan beton menjulang tinggi tanpa bisa dinikmati oleh kantong-kantong cekak masyarakat.

Kota Malang sedang bersolek mengembalikan citranya sebagai kota taman. Berusaha menikmati keindahan yang disuguhkan oleh jajaran gunung di sekitarnya seperti Gunung Semeru, Gunung Kawi, Gunung Arjuno, dan Gunung Welirang. Tidak ingin melepas keindahan tersebut terbang di antara gedung-gedung menjulang. Oleh Dahlia Irawati.

Sumber: Kompas | 21 Juli 2015

 

Berikan komentar.