TRP
Proyek Itu Sudah Lima Tahun Menyiksa Warga Sekitar
15 Juli 2015 \\ \\ 472

Penunjuk cuaca mencapai 35 derajat celcius, Kamis (9/7). Sodikin (45) duduk santai menunggu pembeli di tokonya di Jalan Cilincing Raya, Koja, Jakarta Utara, di antara debu dan deru kendaraan, serta bising alat berat di jalanan depan tokonya.

Setumpuk masker berwarna hijau berada tak jauh dari tempatnya. Lap dan kemoceng ditaruh di meja tempat jualan peralatan kapal. "Toko harus dibersihkan minimal pagi, siang, dan malam. Kalau tidak, debunya bisa lebih tebal dari ini," ujar ayah tiga anak ini sambil menunjukkan debu dengan menyapukan tangan ke atas tumpukan barang jualan.

Menurut dia, debu semakin banyak sejak pilar-pilar tol yang tepat berada di depan tokonya dibongkar pelaksana proyek. Suara mesin-mesin yang bekerja siang-malam juga sangat mengganggu aktivitas warga.

Sekitar empat tahun terakhir, sejak proyek pembangunan Tol Tanjung Priok, khususnya Seksi E2, dilakukan, situasi ini mengusik warga. Setiap hari warga harus berjibaku dengan debu yang mengganggu aktivitas. Belum lagi soal kemacetan lalu lintas saban hari.

"Dampaknya sampai penurunan omzet, sekitar 10 persen. Soalnya pembeli jarang yang mau ke daerah sini karena terkenal macet. Belum lagi dinding penghalang pengerjaan tol membatasi pengendara ke tempat kami. Jadi jualan semakin terganggu," ujarnya.

Hal serupa dikeluhkan Farsilah (52), pedagang makanan di area itu.

Sementara itu, Hendrik Manurung, Ketua RT 011 RW 010, Kelurahan Semper Barat, Cilincing, menuturkan, debu dari pengerjaan tol adalah hal yang paling mengganggu kehidupan warga. Dua minggu sebelumnya, warga berniat unjuk rasa kepada pelaksana proyek. Pasalnya, debu dari pengerjaan pilar tol sangat tebal. Debu-debu itu masuk ke rumah, bahkan hingga ke kamar tidur. Pakaian yang dijemur menjadi kekuningan kena debu.

Pembangunan tol yang tidak kunjung selesai ini tidak hanya berdampak pada ekonomi dan lingkungan, tetapi juga pada faktor keamanan pengendara. Wilayah Jampea-Cilincing terkenal rawan tindakan kriminalitas di jalan, seperti penodongan dan perampokan.

Menurut Fajar Santoso (32), pengemudi kontainer, tindakan para pelaku tak tanggung-tanggung. Mereka tak segan menusuk korbannya apabila korban melawan. Kejadian ini biasanya terjadi saat kemacetan panjang, yaitu pada pagi atau sore hari.

Setiap hari, sekitar 18.000 truk melintasi wilayah Tanjung Priok. Sekitar 70 persen dari jumlah truk itu melalui rute timur, yaitu Jampea-Cilincing, sedangkan sisanya melalui jalur barat dan tengah.

Pembangunan molor

Tol Tanjung Priok memang diharapkan menjadi solusi kemacetan sekaligus akses logistik nasional ke Pelabuhan Tanjung Priok. Kelak, tol ini diharapkan mampu menampung 1.500 kendaraan di setiap lajur. Lajur jalan di setiap seksi bervariasi, 4-6 jalur.

Meski demikian, pembangunan Tol Tanjung Priok terlambat dari jadwal yang direncanakan. Tol sepanjang 11,4 kilometer yang terbagi dalam lima seksi pengerjaan ini mengalami sejumlah masalah. Pembebasan lahan di beberapa titik membuat tol yang awalnya ditargetkan selesai Januari 2014 ini molor.

Sejak mulai dibangun pada 2009 lalu, akses Tol Priok sebenarnya mampu melalui sejumlah hambatan tersebut. Seksi E1 sepanjang 3,4 kilometer saat ini telah digunakan. Seksi NS Link sejauh ini dianggap selesai meski masih tersisa 11 pilar yang belum terbangun. Sebanyak 11 pilar itu diamandemen ulang dan dimasukkan ke Seksi E2A yang saat ini memiliki progres sekitar 80 persen.

Sementara Seksi NS Direct dengan panjang 1,1 kilometer juga telah mencapai kemajuan 80 persen. Hal yang sangat berbeda justru terjadi di Seksi E2, Cilincing-Jampea, yang memiliki panjang 2,74 kilometer. Seksi dengan pendanaan Rp 1,1 triliun ini mengalami masalah konstruksi.

"Sebanyak 66 pilar yang telah dibangun diinvestigasi. Sebab, kami menemukan adanya ketidaksesuaian mutu dari tiga pilar yang kami cek. Keputusan Pak Menteri pada Januari lalu menginstruksikan agar semua pilar yang telah terbangun dicek ulang, dan jika ada yang rusak segera dibongkar," ucap Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Tanjung Priok dari Kementerian Pekerjaan Umum Bambang Nurhadi.

Sejauh ini, delapan pilar telah dihancurkan dan akan dibangun ular. Sebanyak 58 pilar dalam investigasi pengawas, dan akan juga dibongkar apabila terdapat kesalahan mutu. Karena itu, pemerintah memberikan tambahan waktu 26 bulan kepada pelaksana, dalam hal ini Kajima-Waskita, terhitung Januari 2015.

Mau tidak mau, menurut Bambang, pembangunan tol akan molor hingga 2017 mendatang. Keputusan ini diambil karena mengutamakan keamanan serta keselamatan pengendara nantinya. Pihaknya tidak ingin tol mengalami hal yang tidak diinginkan semua pihak, yaitu pilar roboh saat tol ramai kendaraan.

Terkait kemacetan panjang, Bambang menuturkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian dan Pemkot Jakarta Utara. Pengaturan lalu lintas harus terus dilakukan agar kemacetan tidak berdampak luas.

"Begitu juga tingkat kriminalitas yang tinggi. Kami harapkan agar pengamanan kepolisian semakin intensif," ujarnya.

Kepala Laboratorium Transportasi Universitas Indonesia Ellen Tangkudung mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah sehingga dampak molornya tol tidak meluas. Selain dampak kemacetan, juga dampak ekonomi terhadap warga, bahkan hingga nasional. (SAIFUL RIJAL YUNUS)

Sumber: Kompas | 14 Juli 2015

Berikan komentar.