TRP
Perambahan Lahan Masih Berlangsung
15 Juli 2015 \\ \\ 509

JAKARTA — Taman Nasional Gunung Leuser masih dirambah. Selain menebang pohon untuk kayu, perambahan itu diduga kuat terkait dengan pembersihan lahan untuk pertanian ataupun perkebunan. Jika terus berlangsung, aktivitas tersebut berdampak buruk bagi warga sekitar.

"Minggu (12 Juli 2015) malam kami menangkap empat orang membawa kayu damar olahan dari dalam kawasan," kata Andi Basrul, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Senin (13/7) di Medan, Sumatera Utara. Mereka adalah BK (44), SK (50), MT (40), dan KR (44); yang merupakan warga Langkat dan Binjai Utara. Bersama mereka, ditemukan kayu meranti yang diolah menjadi 520 gagang cangkul dan 37 gagang pemetik kelapa sawit.

"Kami ikuti mereka dua bulan terakhir," kata Andi. Para perambah itu ditangkap di jalan antara Kecamatan Padang Tualang dan Batang Serangan, pukul 18.45.

Selain menyita kayu damar olahan, aparat juga memiliki barang bukti getah karet 2,5 ton dan dua kendaraan bak terbuka yang digunakan pelaku untuk mengangkut hasil perambahan. "Saat ini pelaku dan barang bukti ada di kantor BBTNGL Medan untuk pemeriksaan," katanya.

Pelaku dijerat UU No 18/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Saat ini, petugas sedang menginterogasi para pelaku tersebut.

Upaya antisipasi perambahan lebih lanjut, Andi menugaskan personelnya untuk mengamankan lebih intensif dengan menjaga titik-titik rawan aktivitas ilegal di dalam dan sekitar kawasan TNGL. Ia tak ingin pelaku memanfaatkan liburan hari raya.

Terkait penangkapan itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rasio Ridho Sani mengatakan, penangkapan keempat pelaku itu menjadi perhatian. Bukan hal baru jika kawasan hutan lindung dan konservasi dirambah.

"Modus pelaku beragam, mulai dari pembalakan kayu hingga perambahan kawasan untuk perkebunan, akhirnya rawan bencana ekologis termasuk kebakaran hutan. Pelaku sering kali didanai pihak tertentu," tuturnya.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar beberapa kali menegaskan, metamorfosis kejahatan kehutanan berkaitan dengan pembalakan kayu ilegal dan perambahan kawasan. Pembalakan jadi jalan masuk penguasaan lahan.

Menanggapi kejahatan lingkungan itu, Siti juga berulang kali menyatakan, Presiden Joko Widodo berpesan agar tak ada kompromi bagi kejahatan kehutanan dan perusakan lingkungan serta pelaku harus ditindak tegas.

Ridho Sani meminta partisipasi publik untuk melaporkan informasi terkait kejahatan kehutanan dan lingkungan. (ICH)

Sumber: Kompas | 14 Juli 2015

Berikan komentar.