TRP
Terminal Pulogadung "Filter" Keruwetan
13 Juli 2015 \\ \\ 678

Kesan suram dan rawan kejahatan kuat melekat pada Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, yakni mulai dari pencopetan, gendam, hingga pemerasan oleh calo tiket. Padahal, terminal ini merupakan salah satu terminal vital di Jakarta. Terminal Pulogadung tidak hanya pengendali kemacetan Ibu Kota, tetapi juga jalur keluar masuk kaum urban ke Ibu Kota.

Sedari pagi hingga petang, Minggu (12/7), puluhan bus antarkota dan antarprovinsi masuk bergantian ke Terminal Pulogadung di Jalan Bekasi Raya, Jakarta Timur. Saat menginjakkan kaki di terminal itu, puluhan petugas perusahaan otobus pun menghampiri dan kukuh menawarkan tiket bus.

Seribu lebih orang datang silih berganti ke terminal ini. Bangunan ruang tunggu dan kantor dinas perhubungan di terminal itu sudah tampak tua. Warna tembok yang kusam, beberapa plafon ruang tunggu penumpang berlubang, plus aroma asap bus yang mengepul menjadi gambaran umum Terminal Pulogadung. Terminal Pulogadung berada tepat di antara pertemuan Jalan Raya Bekasi Timur dan Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur.

Di dalam terminal itu terdapat terminal dalam kota dan terminal antarkota dan antarprovinsi (AKAP). Terminal AKAP Pulogadung melayani enam trayek, ke Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, hingga Bali, dan 26 jurusan ke berbagai kota, seperti Surabaya, Medan, dan Bima. Sebanyak 117 perusahaan otobus menjadi tumpuan pemudik saat Lebaran.

Meski belum tersentuh mesin elektronik untuk pengadaan tiket seperti di stasiun kereta api, terminal tersebut berperan sebagai pintu masuk urbanisasi. Terminal seluas 35.196 meter persegi itu menjadi salah satu saksi kemajuan Kota Jakarta.

"Sebelum ada Terminal Pulogadung, di sekitar Jalan Bekasi Raya hanya ada hutan dan rawa," ujar Abdul Latif (62), mantan Ketua RT 004 RW 002, Rawaterate, Cakung, Jakarta Timur. Saat itu belum ada listrik dan belum padat penduduk.

Namun, sejak Terminal Pulogadung dibangun dan beroperasi, orang-orang dari pulau Jawa hingga Sumatera mulai berdatangan. "Saat awal-awal terminal beroperasi, para penumpang bahkan menginap di terminal. Jalanan juga dipenuhi penumpang," kata Abdul.

Masih terang di ingatan Iik (49), warga sekitar Terminal Pulogadung, kali pertama terminal itu dibuka. "Waktu itu artis dangdut Elvi Sukaesih datang," katanya.

Iik, yang merupakan warga Betawi, merasakan, semenjak terminal itu ada, dirinya mulai berkenalan dan hidup bersama orang-orang dari luar Jakarta.

Keruwetan lalu lintas

Entah sudah berapa juta warga urban yang menginjakkan kaki di Terminal Pulogadung, salah satu terminal terbesar tahun 1990-an. Tahun 1975, Kompas mencatat Pemerintah DKI Jakarta era Gubernur Ali Sadikin membangun terminal bus antarkota di Jakarta.

Lokasinya berada di Jalan Raya Bekasi, jalur pantai utara di Jakarta yang terhubung ke Bekasi hingga Cikampek, Jawa Barat. Saat itu belum tersedia jalan tol sehingga arus bus antarkota masih melalui jalan nasional melalui Bekasi hingga Cikampek dan jalur pantai utara di Pamanukan.

Terminal Pulogadung dibangun karena keruwetan lalu lintas yang terjadi di tengah kota Jakarta pada masa itu. Semua jenis kendaraan masuk ke dalam kota Jakarta, termasuk bus antarkota.

Berdasarkan catatan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (Kompas 25 Agustus 1975), ruas jalan di Jakarta pada masa itu nyaris didominasi kendaraan jenis bus antarkota. Dari sekitar 5.000 perjalanan kendaraan yang masuk ke Jakarta, 3.072 perjalanan adalah bus antarkota yang datang dari arah timur Jakarta.

Hal itu tidak bisa dihindari karena pada era 1970-an satu-satunya terminal bus yang ada di Jakarta hanya Terminal Lapangan Banteng di Jakarta Pusat. Dengan demikian, seluruh bus antarkota dari berbagai daerah yang masuk ke Jakarta harus melalui pusat kota.

Kondisi itulah yang mendorong Pemprov DKI Jakarta membangun terminal bus AKAP di pinggiran Jakarta, yang kemudian dikenal sebagai Terminal Pulogadung.

Menurut Kepala DLLAJR DKI P Harahap, kala itu Terminal Pulogadung, dikenal sebagai anak Terminal Lapangan Banteng di sisi timur Jakarta. Sementara Terminal Grogol di wilayah Barat Jakarta masih dalam perencanaan. Terminal ini direncanakan untuk menampung bus antarkota dari daerah barat Jakarta, seperti Merak, yang volume busnya lebih kecil.

Proyek pembangunan Terminal Pulogadung ini awalnya juga tidak berlangsung mulus. Realisasi proyek ini juga sempat terganjal alotnya proses pembebasan lahan meski proyek itu dinilai strategis. Pada September 1975, di tengah hiruk-pikuk arus mudik Lebaran, Pemerintah DKI Jakarta digugat lima warga yang tempat tinggalnya terkena proyek Terminal Pulogadung.

Mereka menggugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara-Jakarta Timur karena tempat tinggal mereka dibongkar paksa tanpa ganti rugi.

Pembangunan proyek Terminal Pulogadung yang memakan waktu 9 bulan ini akhirnya dioperasikan pada Mei 1976. Terminal ini melayani bus antarkota dari Jawa Barat sampai Jawa Timur. Sementara Terminal Grogol untuk menampung bus antarkota dari Banten dan Sumatera via Pelabuhan Merak. Adapun Terminal Bus Cililitan melayani perjalanan bus antarkota dari selatan Jakarta.

Beroperasinya tiga terminal antarkota itu memberikan dampak terhadap kelancaran lalu lintas di Jakarta. Setidaknya 3.000 bus antarkota tidak lagi masuk ke tengah kota Jakarta, melainkan sudah terjaring di Terminal Pulogadung, Terminal Grogol, dan Cililitan.

Hingga saat ini, hanya Terminal Pulogadung yang tetap bertahan sebagai terminal bus antarkota yang cukup sibuk. Kepala Unit Pelaksana Teknis Terminal DKI, Dinas Perhubungan DKI, Muslim, Minggu (12/7), menyampaikan, pembangunan terminal bus antarkota di Jakarta tak lepas dari perkembangan kota dan arus urbanisasi.

Perilaku masyarakat enggan masuk ke dalam terminal juga bukan hal yang baru. Pada Agustus 1976, Kompas memperoleh surat pembaca yang mengeluhkan kebijakan Pemerintah DKI mewajibkan penumpang naik bus antarkota di dalam Terminal Pulogadung. Alasannya karena untuk menjangkau terminal cukup jauh, dan di dalam terminal rawan kejahatan. Hal serupa diungkapkan sejumlah penumpang bus antarkota saat ini yang lebih memilih naik bus dari pinggir jalan.

Sukarman (45), salah satu warga urban asal Purwakarta, Jawa Barat, lebih menyukai naik bus dari pinggir jalan karena lebih aman. "Kalau masuk terminal, pasti dicegat calo. Parahnya lagi bisa digendam," kata Sukarman, yang bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta.

Kepala Terminal Pulogadung Simon Ginting pun tak menampik, kejahatan konvensional masih terjadi di dalam Terminal Pulogadung, mulai dari pencopetan, gendam, hingga pemerasan oleh calo tiket.

"Sekarang yang sudah dapat dikendalikan adalah perilaku calo menarik-narik calon penumpang. Itu sudah dapat ditertibkan," kata Simon. (B05)

Sumber: Kompas | 13 Juli 2015

Berikan komentar.