TRP
Saatnya "Detoks"
10 Juli 2015 \\ \\ 410

Asyik, sebentar lagi gue bisa nikmatin car free day setiap hari," kicau seorang warga Jakarta. Car free day atau hari bebas kendaraan bermotor, antara lain di Jalan MH Thamrin-Sudirman, biasa diselenggarakan setiap hari Minggu.

Hanya pejalan kaki dan pesepeda yang bisa melewati jalan tersebut. Kendaraan bermotor dilarang lewat, kecuali bus transjakarta. Saat itulah, di lokasi HBKB warga bisa menikmati Jakarta dari kesumpekan lalu lintas walau sesaat saja.

Beberapa hari ke depan, Ibu Kota ibaratnya akan menjadi kota yang menyenangkan. Jalanan yang setiap hari menjadi tempat parkir kendaraan alias macet diperkirakan akan lengang. Sebagian dari pemilik lebih dari 3 juta mobil pribadi serta 13 juta kendaraan bermotor akan pulang kampung. Mereka yang tidak mudik bisa menikmati jalanan kosong Jakarta.

Trotoar akan senyap karena pedagang kaki lima hingga tukang tambal ban yang biasa mengokupasinya juga pulang kampung. Warung tegal hingga sejumlah restoran akan menutup dapurnya, tidak berjualan. Yang tersisa hanya gerobak kaki lima dengan bangku-bangku dibalik tanpa mereka tutup. Belum tahu, apakah saat mereka kembali akan menemukan tempat usahanya raib digaruk petugas ketertiban DKI Jakarta?

Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta memperkirakan lebih dari 6,5 juta penghuni Jakarta akan mudik alias pulang kampung. Para pengamat menyebutkan, walaupun pertumbuhan ekonomi melambat, hal itu diperkirakan tidak akan mengurangi animo pemudik.

Di sebuah perkantoran di bilangan selatan Jakarta, misalnya, orang sampai rela antre untuk menukarkan uangnya dengan pecahan uang baru. Para penjual jasa penukaran uang baru pun sudah mulai berjajar di trotoar sejumlah ruas jalan Jakarta.

Uang itu biasanya dibagi-bagikan di kampung sekaligus melambangkan kesuksesan yang bersangkutan. Branding merek atau perusahaan serta jualan apa pun pada musim ini disandingkan dengan yang berbau mudik: mudik bareng, tempat beristirahat di jalur mudik, hingga operator telepon seluler yang sudah berperang sejak awal Ramadhan.

Namun, tidak sepenuhnya Jakarta menyenangkan saat ditinggalkan para pemudik. Keluarga yang biasa mengandalkan pembantu rumah tangga akan bahu-membahu mengganti pekerjaan yang selama ini dikerjakan para asisten rumah tangga itu. Sebagian mencoba mencari pengganti asisten rumah tangga (infal) dengan membayar upah yang lebih mahal.

Hotel pun menjadi pilihan sebagian keluarga melewatkan hari tanpa asisten rumah tangga. Para pekerja yang biasa makan di warung kesulitan karena warung langganan tutup.

Tiba-tiba saja, semua orang akan merasakan bahwa tanpa kehadiran mereka yang mudik itu, Jakarta tidak berkutik. "Selamat mudik, jangan bawa teman jika kembali ke Jakarta," yang biasa diungkapkan para pejabat setiap tahun pun terasa klise. Kenyataannya, Ibu Kota masih ibarat gula yang mengundang semut atau lampu bagi laron-laron.

Boleh jadi di saat musim mudik yang terjadi setiap tahun itu, Ibu Kota sedang menjalani "detoks" untuk memurnikan dan membersihkan tubuhnya dari "racun-racun".

Sesaat, Jakarta bisa lepas dari kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas, udara yang polutif, serta berbagai ketidaktertiban lainnya. Tantangannya, andai saja semua itu bertahan setelah musim mudik selesai. Kalau memang mampu, kita kasih jempol ramai-ramai untuk para pengelola Kota Jakarta. Oleh Agus Hermawan

Sumber: Kompas | 10 Juli 2015

Berikan komentar.