TRP
Integrasi Diterapkan di Sejumlah Lokasi
09 Juli 2015 \\ \\ 291

JAKARTA — Sejumlah cara dilakukan sejumlah pihak untuk mengintegrasikan moda transportasi. Meskipun belum menjadi aturan baku, langkah pengintegrasian ini diharapkan bisa memudahkan pengguna angkutan umum.

Direktur Operasional PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Dwiyana Slamet Riyadi, Rabu (8/7), mengatakan, salah satu langkah integrasi yang ia lakukan adalah menyediakan area untuk ojek dan bajaj di Stasiun Juanda, Jakarta Pusat. Salah satu stasiun layang ini memiliki lahan cukup luas untuk mengakomodasi moda angkutan lain meskipun belum semua.

"Meski ada lahan di depan tangga turun penumpang, kami mesti membatasi jumlah ojek atau bajaj karena ruang yang ada terbatas. Setiap hari ada sekitar 100 ojek dan 50 bajaj di stasiun ini. Kami sekadar menata ojek dan bajaj agar rapi," ucapnya.

Selain itu, tangga menuju halte bus transjakarta juga terletak di dalam pagar jalur pedestrian menuju Stasiun Juanda.

Di area parkir stasiun tersebut juga ada 2-3 bus Kementerian Perhubungan yang tiap hari mengantar-jemput pegawai di kementerian itu. "Kami berharap semakin banyak perusahaan yang bekerja sama dengan kami untuk penyediaan bus-bus kantor di stasiun. Nanti kami fasilitasi area penjemputan sejauh memungkinkan," ujarnya.

Penyediaan area parkir di stasiun juga dilakukan untuk memudahkan warga datang ke stasiun. Dwiyana mengatakan, area parkir di Stasiun Tangerang diharapkan memudahkan warga datang ke stasiun. Sebab, stasiun ini tidak berada di pusat kota Tangerang sehingga moda transportasi umum sangat terbatas.

Data KCJ menunjukkan, kenaikan jumlah penumpang KRL lintas Duri-Tangerang merupakan tertinggi di Jabodetabek. Jumlah penumpang rata-rata lintas ini pada bulan Mei tumbuh 7,04 persen dibandingkan Januari. Di lintas lain, pertumbuhan penumpang 2-6 persen. Jumlah penumpang di lintas Duri-Tangerang memang masih sedikit, yakni 32.940 orang per hari, tetapi terus bertambah.

Masih macet

Di bagian lain Jabodetabek, kesemrawutan masih terjadi di sekitar stasiun. Di Jalan Ir H Juanda di depan Stasiun Bekasi, Jawa Barat, misalnya, kemacetan terjadi setiap hari saat jam berangkat dan pulang kerja. Hingga kini belum ada solusi untuk mengatasi kemacetan yang dipicu angkutan umum dan ojek yang ngetem sembarangan di depan stasiun.

Penumpang KA mengeluhkan kondisi ini. "Setiap hari, kalau pagi atau sore selalu macet begini di depan stasiun. Bikin stres," ujar Agung Kurniawan (29) saat ditemui di depan Stasiun Bekasi, Rabu.

Oleh sebab itu, Agung memilih menggunakan sepeda motor untuk pulang ke rumahnya di kawasan Pondok Timur, Bekasi Timur, daripada naik angkutan umum. "Daripada harus terjebak macet, habis waktu di jalan. Lebih baik saya pakai sepeda motor," ujarnya.

Wakil Kepala Stasiun Bekasi Agus Setiawan mengungkapkan, setiap hari rata-rata 32.000 penumpang di Stasiun Bekasi menggunakan 76 perjalanan KRL commuter line.

"Memang, saat jam berangkat dan pulang kerja jalan di depan stasiun selalu macet. Hal ini banyak dikeluhkan penumpang kereta," ujar Agus, yang berharap ada integrasi antarmoda angkutan dan penataan lalu lintas untuk mengatasi kemacetan itu.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi Supandi Budiman, jalan di depan Stasiun Bekasi merupakan satu dari 19 titik macet di Kota Bekasi yang perlu solusi menyeluruh. Penegakan hukum terhadap angkutan umum yang berhenti sembarangan juga masih lemah.

Menurut Supandi, pihaknya telah mengusulkan kepada PT KAI untuk membangun jalan yang menjorok ke dalam Stasiun Bekasi agar angkutan umum yang mengangkut penumpang tidak berhenti di tengah jalan.

Sebelumnya, perencana kota Andy Siswanto mengatakan, salah satu konsep transit oriented development yang terintegrasi dengan KA komuter adalah penyediaan berbagai moda transportasi yang bervariasi. Hal itu bertujuan untuk memudahkan mobilitas warga.

Jika integrasi kawasan dan KA komuter ini tercapai, sejumlah manfaat seharusnya bisa dirasakan masyarakat, seperti berkurangnya waktu tempuh dan biaya transpor, turunnya konsumsi energi dan emisi, serta meningkatnya kualitas udara dan kesehatan publik. (ART/ILO)

Sumber: Kompas | 09 Juli 2015

Berikan komentar.