TRP
Kota Semarang Disiapkan Menjadi Tangguh
09 Juli 2015 \\ \\ 1623

SEMARANG — Kota Semarang, Jawa Tengah, termasuk salah satu kota besar di dunia yang dipersiapkan menjadi kota yang tangguh terhadap berbagai guncangan dan tekanan. Ini diperlukan karena tantangan kota besar semakin tinggi, dengan jumlah penduduk yang akan terus bertambah dan persoalan yang semakin kompleks.

Semarang terpilih sebagai salah satu dari 100 kota yang disiapkan menjadi kota yang tangguh (resilient city) dalam program Rockefeller Foundation. Kota lain yang juga masuk dalam program serupa di antaranya Los Angeles dan New York (Amerika Serikat), Mexico City (Meksiko), Roma (Italia), Rotterdam (Belanda), serta Bangkok (Thailand).

Wiwandari Handayani, peneliti Departemen Urban dan Perencanaan Regional Universitas Diponegoro Semarang, Rabu (8/7), mengatakan, Semarang merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang masuk dalam program itu. Semarang dinilai memiliki kerentanan yang tinggi, dengan berbagai upaya yang sudah dilakukan, tetapi permasalahan belum juga selesai.

"Kerentanan yang paling besar di Kota Semarang adalah persoalan fisik. Rob dan banjir, persoalan infrastruktur, juga krisis air bersih. Persoalan lain adalah kemiskinan dengan tingkat pengangguran yang sangat tinggi," ujar Wiwandari.

Penurunan tanah di Kota Semarang rata-rata 8-10 sentimeter per tahun, sementara muka air laut terus naik. Sekitar 120.000 jiwa terdampak banjir dan rob setiap tahun. Di sisi lain, terjadi krisis air bersih di daerah Ngaliyan dan Gunungpati, sedangkan di kawasan Semarang Utara air tercemar limbah.

"Saat ini kami masih dalam tahap merumuskan, apa saja potensi guncangan dan tekanan di Kota Semarang. Apa yang sudah dimiliki, sedang dikerjakan, dan rencana ke depan juga ikut dikaji. Harapan kami, akan terbentuk strategi kota tangguh (city resilient strategy). Seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat luas, ikut terlibat," ujar Wiwandari.

Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang Purnomo Dwi Sasongko mengatakan, Kota Semarang sudah memiliki rencana jangka panjang yang dibuat sejak 15 tahun lalu. Kini, dengan banyaknya perubahan, termasuk perubahan regulasi, diperlukan penyesuaian.

"Persoalan fisik memang terus menjadi fokus utama kami. Untuk persoalan banjir dan rob, secara bertahap, penanganan telah dilakukan di zona tengah, antara kanal banjir barat dan anal banjir timur. Ini pun terus dievaluasi apakah sudah efektif atau belum. Persoalan banjir dan rob sangat kompleks karena di Semarang, yang luasnya hanya 373 kilometer persegi, terdapat 21 sungai," kata Purnomo.

Ia pun menyebutkan, belum semua warga mendapat air bersih dengan mudah. PDAM Kota Semarang baru menjangkau 58 persen warga. (uti)

Sumber: Kompas | 09 Juli 2015

Berikan komentar.