TRP
Pembebasan Lahan MRT Dilanjutkan
09 Juli 2015 \\ \\ 341

JAKARTA — Setelah berhenti sekitar enam bulan, proses pembebasan lahan untuk pembangunan kereta massal cepat kembali dilanjutkan. Sebagian pemilik lahan sudah setuju dengan harga appraisal yang ditawarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, masih ada sebagian warga yang mempertimbangkan tawaran harga lahan tersebut.

Sekretaris Pemerintah Kota Jakarta Selatan Herry Supardan, Rabu (8/7), menuturkan, pihaknya baru saja bermusyawarah dengan warga Kecamatan Cilandak yang terkena dampak pembangunan. Dalam pertemuan itu, dia mengajukan harga appraisal yang nilainya berdasarkan taksiran tim independen. Ini berbeda dengan proses pembebasan tahun 2014 yang menggunakan harga sesuai nilai jual obyek pajak (NJOP).

Setelah harga baru tersebut disosialisasikan, lanjut Herry, sebagian warga setuju. Namun, masih ada juga warga yang ragu-ragu. "Kami memberi waktu dua hingga tiga hari kepada warga yang masih ragu untuk berpikir. Setelah itu, kami akan kembali bertemu warga," kata Herry.

Camat Cilandak Dhany Sukma mengatakan, 60 orang hadir dalam pertemuan pembebasan lahan tersebut. Warga yang hadir berasal dari Kelurahan Lebak Bulus, Cilandak Barat, Cipete Selatan, Gandaria Selatan, dan Pondok Pinang. Harga yang ditawarkan kepada warga paling tinggi Rp 26 juta per meter persegi.

"Harga sudah lebih tinggi dari NJOP. Kami tidak bisa menaikkan harga lagi karena penilaian sudah dilakukan tim independen," kata Dhanny.

Menurut dia, apabila masih ada warga yang tidak setuju dengan harga appraisal, warga diminta mengajukan keberatannya ke pengadilan.

Menurut Herry, proses pembebasan lahan untuk pembangunan MRT berhenti enam bulan karena ada perubahan peraturan pemerintah. Pengadaan lahan untuk pembangunan yang biasanya dilakukan Panitia Pengadaan Tanah (P2T) kini dikoordinasikan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Namun, khusus pembangunan kereta massal cepat (MRT), menurut Herry, pembebasan lahan tetap dilaksanakan P2T. Berdasarkan data Kantor Wilayah BPN Jakarta Selatan, pembebasan lahan MRT sudah mencapai 80 persen (Kompas, 1/4).

Pembangunan berlanjut

Proses pembangunan MRT terus berlanjut. Dari depo di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, MRT melintas melalui jalur layang sepanjang 9,8 kilometer (km). Begitu mendekati Patung Api Nan Tak Kunjung Padam di Bundaran Senayan, MRT melewati jalur menurun hingga akhirnya masuk jalur bawah tanah sepanjang 5,9 km menuju Bundaran HI.

Di Jalan Fatmawati Raya, Jakarta Selatan, petugas memasang tiang bor. Di Jalan Sisingamangaraja hingga Blok M, pekerja memasang balok sambungan tiang penyangga.

Di jalur bawah tanah, pekerja terus membangun lantai dasar dan lantai dua stasiun. Ada enam stasiun bawah tanah yang akan dibangun, yaitu Bundaran HI, Dukuh Atas, Setiabudi, Bendungan Hilir, Istora, dan Bundaran Senayan. Setiap stasiun bawah tanah terdiri atas tiga lantai.

Corporate Secretary PT MRT Jakarta Hikmat mengatakan, saat ini pekerja juga sedang menyiapkan lantai kerja untuk memasang mesin bor terowongan bawah tanah. Mesin bor sudah tiba di Jakarta dari pabrik pembuatnya di Jepang. Lokasi pengeboran pertama di depan Patung Api Nan Tak Kunjung Padam di Bundaran Senayan.

Dibutuhkan empat mesin bor berdiameter 6,7 meter untuk membangun jalur dari Senayan hingga Bundaran HI. "Kami perkirakan pengeboran dilakukan pada minggu ketiga September," kata Hikmat.

Sejumlah warga mendukung pembangunan MRT. Namun, mereka mengeluhkan dampak pembangunan yang tak diantisipasi pemerintah daerah. Di Jalan Fatmawati Raya, misalnya, setiap hari selalu padat kendaraan bermotor. Jalan yang biasanya terdiri dari dua jalur kini hanya tinggal satu jalur.

Sebagian jalan dipakai untuk meletakkan alat-alat berat. Kemacetan pun tak terelakkan. "Saya membutuhkan waktu dua jam untuk melintas di Jalan Fatmawati Raya hingga Cipete. Padahal, jaraknya hanya 1,5 km," tutur Mahes (57), warga Cilandak.

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan Priyanto mengatakan, pihaknya akan menutup sejumlah lokasi putaran kendaraan di Jalan Fatmawati. Putaran kendaraan dinilai memperparah kemacetan lalu lintas. (DNA)

Sumber: Kompas | 09 Juli 2015

Berikan komentar.