TRP
Perbaikan Tak Diikuti Penataan Lalu Lintas
08 Juli 2015 \\ \\ 434

Dinas Perhubungan Mencari Lahan Khusus di Dekat Stasiun untuk Ojek

JAKARTA — Perbaikan Stasiun Palmerah, Jakarta Pusat, banyak diapresiasi warga. Sayangnya, perbaikan stasiun itu belum diikuti pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dan penataan lalu lintas di sekitarnya. Jalanan di sekitar stasiun tetap macet, dipadati berbagai jenis angkutan umum yang ngetem.

Pantauan pada Selasa (7/7) pagi menunjukkan, sisi barat atau Jalan Tentara Pelajar arah Pejompongan masih semrawut. Jalan dipadati kendaraan pribadi, bus kota, serta ojek dan taksi yang berhenti menunggu penumpang.

Bus kopaja 86 jurusan Lebak Bulus-Kota terlihat ngetem di bawah jembatan penyeberangan lebih dari 10 menit. Badan bus memakan hampir separuh badan jalan sehingga lalu lintas dari arah Permata Hijau ke Pejompongan macet. Pengendara sepeda motor yang tak sabar pun membunyikan klakson berkali-kali.

Sopir terlihat sengaja memberhentikan bus di mulut jembatan penyeberangan untuk mendekati penumpang yang baru saja turun dari kereta komuter. Selain bus, di mulut jembatan itu juga berdesak-desakan puluhan ojek.

Kondisi trotoar di sisi barat stasiun ini juga masih buruk. Ada lubang besar menganga karena selokan tidak tertutup sempurna. Akibatnya, warga tak bisa optimal memanfaatkan trotoar itu.

Di sisi timur stasiun atau di Jalan Tentara Pelajar arah ke Permata Hijau, lalu lintas sedikit lebih teratur. Ada tiga polisi lalu lintas yang berjaga di lokasi itu.

Meski demikian, sejumlah ojek dan taksi tetap mangkal di tepi jalan menunggu penumpang. Ojek dan taksi memang masih menjadi andalan warga untuk berpindah moda dari KRL menuju lokasi tujuan.

Eko (32), misalnya, sering memanfaatkan ojek dari Stasiun Palmerah menuju Menara Imperium di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Karyawan perusahaan telekomunikasi ini memilih ojek karena lebih cepat.

"Sekarang kondisi stasiun lebih nyaman. Apalagi, setelah ada jembatan penyeberangan. Namun, trotoar masih harus diperbaiki supaya lebih nyaman," ujar Eko. Menurut Eko, ojek perlu diberi lahan khusus sehingga tak mengganggu lalu lintas di sekitarnya.

Ridwan (30), karyawan kantor di Jalan Jenderal Sudirman, juga mengatakan hal senada. Keberadaan jembatan penyeberangan di stasiun sangat membantu penumpang kereta. Mereka lebih nyaman menyeberang dari stasiun dan lalu lintas sedikit lebih teratur daripada saat warga masih menyeberang badan jalan. "Sudah mendingan daripada dulu, ketika penumpang masih harus menyeberang," kata Ridwan.

Dia berharap pemerintah segera merealisasikan rencana integrasi moda kereta komuter dengan moda lain, seperti kereta monorail. Saat ini, ia masih mengandalkan ojek atau taksi untuk menuju kantornya.

Mencari lahan

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah, yang dihubungi terpisah, mengatakan, pihaknya sedang mencari lahan untuk memberikan tempat khusus bagi para tukang ojek. Ia berharap tukang ojek tidak lagi mangkal di tepi jalan supaya tak mengganggu lalu lintas.

Ia juga melarang angkot dan bus ngetem karena hal itu mengganggu kelancaran lalu lintas. "Kalau ketahuan ngetem lama, langsung kami tilang," ujarnya.

Menurut Andri, saat ini memang belum ada petugas Dishub DKI Jakarta yang ditugaskan di sekitar stasiun karena keterbatasan personel. Namun, ia berjanji akan segera menertibkan ojek, taksi, dan angkot yang ngetem di sekitar stasiun.

Kondisi semrawut karena angkot dan ojek yang mangkal sembarangan juga terlihat di sekitar Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Setiap hari, angkutan umum berhenti di badan jalan untuk menunggu penumpang KRL keluar dari stasiun.

Kepala Stasiun Tebet Sutayat mengatakan, setiap hari ada 400 perjalanan kereta api di Stasiun Tebet dan sekitar 50.000 penumpang yang keluar-masuk stasiun itu. Begitu turun dari kereta, penumpang langsung berhamburan keluar stasiun.

"Potensi kecelakaan tinggi karena kereta hampir setiap menit melintas. Di sekitar perlintasan, banyak angkutan umum dan ojek yang ngetem," katanya, Selasa.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan menumpang angkutan umum, ojek, taksi, atau bajaj yang berhenti di sekitar stasiun.

Sutayat mengatakan, pihaknya sudah melaporkan kondisi di lapangan kepada pihak terkait. Dia berharap ada langkah konkret dari Dinas Perhubungan untuk mengatur lalu lintas.

Menanggapi hal itu, Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan AB Nahor mengatakan sudah mengusulkan kepada Kepala Dishub DKI untuk membekukan trayek angkutan umum yang kerap melanggar aturan. Pembekuan trayek bisa berlangsung 3-6 bulan.

"Kami sudah sering menertibkan, menderek, mengandangkan kendaraan yang melanggar aturan. Tetapi, tak ada efek jera bagi pemilik kendaraan. Karena itu, pembekuan trayek diperlukan," tutur Nahor.

Selain di Tebet, angkutan umum juga kerap berhenti sembarangan di Stasiun Kalibata, Lenteng Agung, Tanjung Barat, dan Pasar Minggu. Ketiadaan lahan khusus untuk naik-turun penumpang membuat kondisi di sekitar stasiun semrawut.

Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek MN Fadilah mengatakan, pihaknya masih terus berkomunikasi dengan PT Transportasi Jakarta untuk menyinergikan KRL dan bus transjakarta. "Diharapkan, penumpang KRL bisa berganti moda dengan mudah ke bus transjakarta, begitu pula sebaliknya. Di beberapa titik masih kami bicarakan," katanya, Senin.

Penumpang yang terangkut KRL saat ini sekitar 870.000 orang per hari. Jumlah ini diperkirakan baru 4 persen dari perjalanan komuter Jabodetabek setiap harinya. "Keterbatasan kami juga disebabkan keterbatasan prasarana," ucap Fadhila.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Aditya Dwi Laksana, mengatakan, persoalan infrastruktur untuk memudahkan pengguna KRL tidak cukup diselesaikan dengan perluasan stasiun. Dibutuhkan juga integrasi antarmoda angkutan.

"Stasiun Palmerah yang baru diresmikan ini, misalnya, harus ditata agar terintegrasi dengan moda lain. Kalau penumpang KRL keluar dari stasiun, mereka tidak mempunyai banyak pilihan selain ojek dan 1-2 bus sedang dan bus kecil. Selain itu, kondisi trotoar juga belum nyaman bagi pejalan kaki," ucapnya, Senin (6/7). (DEA/DNA/ART)

Sumber: Kompas | 08 Juli 2015

Berikan komentar.