TRP
Jangan Hanya Menonton
07 Juli 2015 \\ \\ 591

Hingga 2019, pemerintah menargetkan dapat membangun jalan tol sepanjang 1.000 kilometer. Ruas tol yang hendak dibangun tersebut terdiri dari Tol Lintas Sumatera, Tol Trans-Jawa (Merak-Banyuwangi), Tol Non-Trans-Jawa, Tol Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek), dan Tol Non-Jabodetabek. Selain itu, jalan tol di Kalimantan, Bali, dan Sulawesi juga hendak dibangun.

Untuk Tol Trans-Jawa, ada delapan ruas yang ditargetkan selesai pada 2018, bahkan dipercepat pada 2017. Tol Trans-Jawa yang sedang dikebut terdiri dari ruas Pejagan-Pemalang (57,5 km), Pemalang-Batang (39,2 km), Batang-Semarang (75 km), Semarang-Solo (72,64 km), Solo-Ngawi (90,1 km), Ngawi-Kertosono (87,2 km), Kertosono-Jombang-Mojokerto (40,5 km), dan ruas Mojokerto-Surabaya (36,27 km). Tol Cikopo-Palimanan, sebagai salah satu ruas terpanjang Tol TransJawa sepanjang 116,75 km, sudah diresmikan pada pertengahan Juni lalu.

Keberadaan jalan tol berdampak besar. Jalan tol akan membuat waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lain menjadi lebih cepat hingga separuhnya. Biaya logistik juga bisa ditekan.

Pengendara punya pilihan untuk beralih dari jalan biasa ke jalan tol. Salah satu contohnya, setelah Tol Purbaleunyi beroperasi, jumlah pengguna kendaraan roda empat atau lebih-sebelumnya melalui jalan biasa, baik jalan provinsi maupun jalan nasional-yang beralih menggunakan tol mencapai 70 persen. Kereta Api Parahyangan relasi Jakarta-Bandung pun sempat dihilangkan. Sebaliknya, bisnis jasa travel justru makin berkembang.

Ketika Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) diresmikan, muncul harapan besar agar tol ini mengurangi kepadatan jalan raya di jalur pantai utara. Diperkirakan 40 persen kendaraan yang biasanya melintasi jalur pantura, terutama kendaraan pribadi, akan pindah melalui jalan tol.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran merosotnya perekonomian di sepanjang jalur pantura, seperti usaha rumah makan, usaha makanan khas setempat, dan bisnis penginapan atau hotel. Manisnya rezeki di sepanjang jalur pantura diperkirakan akan memudar karena pengendara lebih memilih melewati tol yang menawarkan waktu tempuh lebih cepat. Pengelola Tol Cipali akan menampung beberapa usaha kecil dan menengah, seperti rumah makan, untuk menjajakan dagangannya di tempat istirahat. Namun, masih terlalu kecil dibandingkan dengan orang-orang yang menggantungkan hidupnya di jalur pantura.

Di sini kreativitas kepala daerah dan para wirausaha dibutuhkan. Pembangunan infrastruktur jalan tol harus ditangkap sebagai peluang mengembangkan potensi daerah. Bandung adalah contoh kota yang menangkap peluang itu. Kemudahan akses transportasi berupa jalan tol dan kereta api membuat Bandung menjadi kota yang menarik dikunjungi.

Kepala daerah mesti mempersiapkan diri memanfaatkan keberadaan jalan tol. Apalagi, arah ke depan sudah jelas, yakni mendorong pembangunan infrastruktur, termasuk jalan tol. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton karena terlambat menangkap peluang atau karena pemerintah tidak bisa mengarahkan. (Norbertus Arya Dwiangga M)

Sumber: Kompas | 07 Juli 2015

Berikan komentar.