TRP
Butuh Percepatan Perbaikan Stasiun
07 Juli 2015 \\ \\ 357

Banyak Penumpang Sulit Pindah Peron karena Stasiun Sempit

JAKARTA — Sejumlah stasiun yang dilintasi kereta komuter sudah tidak memadai lagi untuk menampung lonjakan penumpang. Perluasan stasiun menjadi keharusan jika PT Kereta Api Indonesia mau meningkatkan jumlah penumpang kereta komuter itu hingga 1,2 juta orang per hari.

Saat ini, jumlah penumpang kereta komuter atau kereta rel listrik (KRL) berkisar 870.000 orang per hari. "Kami pernah mencapai 914.000 orang penumpang per hari. Padahal, jumlah penumpang KRL tahun ini ditargetkan 700.000-800.000 orang per hari," kata Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek MN Fadhila, Senin (6/7), di sela-sela peresmian perluasan Stasiun Palmerah.

Di satu sisi, penambahan jumlah penumpang KRL mencerminkan semakin banyak orang memilih angkutan massal sebagai moda transportasi. Di sisi lain, ada stasiun yang tidak cukup lagi mengakomodasi pergerakan penumpang.

Salah satu stasiun yang terasa sesak adalah Stasiun Tanah Abang. Akses masuk ke stasiun ini kerap ditutup lantaran jumlah penumpang di peron stasiun sudah sangat padat. Antrean penumpang yang akan keluar stasiun juga sering mengular hingga menutupi jalur rel.

Menurut Fadhila, jumlah penumpang yang keluar-masuk Stasiun Tanah Abang sering kali lebih dari 100.000 orang per hari, bahkan pernah mencapai 124.000 orang per hari. Jumlah ini belum termasuk penumpang yang akan berpindah kereta. Adapun kapasitas Stasiun Tanah Abang hanya 60.000 orang.

Kondisi tersebut menyebabkan penumpang dari gerbang masuk menuju peron sulit bergerak. Begitu pula penumpang yang akan berganti peron. Keadaan kian parah manakala ada keterlambatan KRL.

"Sudah penumpangnya banyak, kedatangan antarkereta lama. Akibatnya, penumpang menumpuk lebih banyak," ujar Rina, warga Serpong pengguna KRL yang berganti kereta di Tanah Abang.

Direktur Logistik dan Pembangunan PT KAI Hanggoro Budi Wiryawan mengatakan, Tanah Abang merupakan salah satu stasiun yang diprioritaskan untuk pengembangan. Selain itu, Stasiun Sudirman juga akan dikembangkan karena akses keluar sering kali tidak sepadan dengan jumlah penumpang yang akan meninggalkan stasiun.

Fadhila mengatakan, untuk tahap awal, pihaknya akan membuat jembatan penyeberangan baru di Stasiun Tanah Abang. Jembatan ini menghubungkan kedua peron. Keberadaan jembatan ini diharapkan memudahkan penumpang berganti peron. PT KCJ juga tengah mengkaji kemungkinan pembangunan terowongan untuk akses penumpang berpindah peron di lima stasiun. Pembangunan terowongan diprioritaskan untuk stasiun yang berada di lokasi strategis dan memiliki penumpang tinggi, serta jumlah perjalanan KRL yang tinggi pula.

"Kondisi infrastruktur, seperti stasiun, memang harus ditingkatkan untuk melayani 1,2 juta penumpang. Tetapi, peningkatan infrastruktur tidak bisa dilakukan cepat," ucap Fadhila.

Pegiat Indonesian Railway Preservation Society, Aditya Dwi Laksana, mengatakan, sebagian besar stasiun yang disinggahi KRL merupakan stasiun peninggalan Belanda. Karenanya, kapasitas di banyak stasiun itu tidak lagi memadai untuk menampung pergerakan penumpang saat ini.

Jembatan penyeberangan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membangun jembatan penyeberangan orang untuk menghubungkan Stasiun Tanah Abang dengan pusat aktivitas di Pasar Tanah Abang. Namun, rencana yang diwacanakan sejak tahun 2012 itu belum terealisasi hingga kini.

Sekretaris Dinas Perhubungan DKI Jakarta Anton Parura memastikan, pembangunan jembatan penyeberangan tertunda. Proyek yang sedianya dilaksanakan Dinas Perhubungan itu akan diambil alih PD Pasar Jaya.

Proyek pembangunan jembatan penyeberangan di Tanah Abang sebenarnya dianggarkan tahun lalu sekitar Rp 37 miliar. Namun, proyek itu tertunda karena dua kali gagal lelang. Proyek lalu dianggarkan lagi tahun ini. Hingga April 2015, lelang belum bisa dilaksanakan karena molornya pembahasan APBD 2015.

Stasiun Palmerah

Stasiun Palmerah menjadi salah satu stasiun yang ideal untuk mengakomodasi pergerakan penumpang saat ini. Stasiun ini diperluas dari ukuran awal 173 meter persegi menjadi 2.520 meter persegi dengan dua lantai.

Rata-rata penumpang KRL yang naik-turun di Palmerah pada Mei 11.805 orang per hari. Jumlah ini meningkat jadi 12.585 orang per hari saat area stasiun baru dioperasikan pada Juni.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan meminta stasiun diprioritaskan untuk memudahkan penumpang keluar-masuk ataupun berpindah peron. Area komersial sebaiknya dibatasi dan dialokasikan di tempat yang tidak mengganggu penumpang.

Kepala Konservasi, Perawatan, dan Desain Arsitektur PT KAI Ella Ubaidi mengatakan, Palmerah merupakan halte KA pertama di jalur Merak yang digunakan untuk naik-turun penumpang. "Jalur KA dari Tanah Abang hingga Merak semula merupakan jalur KA barang. Seiring perkembangan, jalur ini difungsikan untuk angkutan penumpang. Pada saat itulah mulai dibangun halte-halte seperti Palmerah," katanya.

Halte merupakan sebutan untuk tempat kecil yang mengakomodasi naik-turun penumpang KA. Ukuran halte lebih kecil daripada stasiun karena jumlah penumpang juga tidak banyak. Karenanya, bangunan lawas Stasiun Palmerah tergolong kecil. Peron lama juga masih pendek sehingga menyulitkan penumpang yang ingin naik-turun.

Proses pembangunan konstruksi jalur, pemasangan rel, dan halte hingga Rangkasbitung selesai pada tahun 1899. Selain Palmerah, tiga stasiun lain yang akan dibenahi Ditjen Perkeretaapian adalah Kebayoran, Parung Panjang, dan Maja. (MDN/MKN/ART)

Sumber: Kompas | 07 Juli 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.