TRP
Kesemrawutan Semakin Parah
06 Juli 2015 \\ \\ 422

Aktivitas Proyek Infrastruktur Transportasi Berdampak terhadap Perekonomian

JAKARTA — Kemacetan parah terjadi di sekitar lokasi pembangunan jalan dan proyek infrastruktur lain di DKI Jakarta. Di ruas Jalan Ciledug Raya, misalnya, kemacetan bahkan terjadi setiap hari dan mengganggu mobilitas warga. Jalur alternatif dan penanda keselamatan tidak memadai sehingga membahayakan pengguna jalan.

Kemacetan terjadi sejak proyek pembangunan jalan layang transjakarta Ciledug-Kapten Tendean dimulai awal tahun ini. Pada Sabtu (4/7) siang, misalnya, antrean kendaraan terjadi dari titik tiang pertama di sekitar Petukangan hingga ke Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Jarak sekitar 3 kilometer itu harus ditempuh dalam waktu 40 menit dengan sepeda motor. Artinya, kecepatan rata-rata tak lebih dari 10 km per jam. Jika menggunakan mobil, waktu tempuh bisa dua bahkan tiga kali lipat.

"Kalau hari kerja, saya memilih tidak lewat sini, " kata Yuni, warga Ciledug.

Lajur jalan yang biasanya dilalui tiga kendaraan berkurang hanya menjadi dua, bahkan satu kendaraan, seperti di sekitar Cipulir hingga Seskoal. Titik terparah terjadi di pintu keluar tol JORR W2 di Ciledug. Kendaraan masuk dari tiga jalan, yakni jalan tol, Jalan Ciledug Raya, dan Jalan Saidi Raya menuju Jalan Ciledug Raya yang menyempit dan hanya bisa dilalui dua lajur kendaraan, lalu menyempit lagi hanya bisa untuk satu lajur. Di beberapa persimpangan, kendaraan berebut untuk berjalan. Akibatnya, lalu lintas mengunci. Pengendara yang tidak sabar nekat masuk lewat mulut jalan tol dan berputar arah melawan arus.

Tidak ada penambahan lajur jalan. Hanya ada perkerasan jalan tanah di tepi jalan, itu pun tidak di sepanjang jalur proyek.

Di lokasi proyek yang berada di median jalan dari Petukangan sampai Kebayoran Lama, pengamanan belum memadai. Tidak terdapat pagar yang menutup seluruh area proyek. Pagar hanya terpasang di beberapa lokasi. Selebihnya hanya dibatasi beton, pita hitam kuning, atau kerucut oranye.

Alat berat tampak menjulang dekat sekali dengan bangunan sekitarnya. Ujung ekskavator tampak seperti menjuntai ke jalan.

Rambu-rambu pun masih minim. Tidak terlihat pula petugas berjaga. Sepanjang 3 km itu hanya terlihat satu polisi di dekat Pusat Grosir Cipulir Mas.

Kepala Bidang Simpang dan Jalan Tak Sebidang Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo mengatakan, pemasangan pagar di sekitar proyek disesuaikan dengan kinerja alat berat yang digunakan. "Saat manuver, alat berat bisa mengenai pagar karena area kerja yang sempit. Itu sebabnya ada lokasi yang dipasangi pagar dan ada yang tidak," katanya.

Adanya pita hitam kuning, katanya, menandai di lokasi itu akan dilakukan pengeboran sehingga posisinya terus bergerak. Rambu-rambu keselamatan sudah dikoordinasikan dengan Dinas Perhubungan dan Transportasi serta Polda Metro Jaya.

Berdampak pada ekonomi

Pengerjaan proyek juga berdampak terhadap kegiatan ekonomi warga. Di Jalan Raya Fatmawati, Jakarta Selatan, misalnya, lebar jalan tinggal 3-4 meter dari kondisi awal 6-8 meter.

Pemandangan serupa juga terjadi di sekitar proyek pembangunan jalan layang Ciledug- Tendean, Jakarta Selatan. Omzet pedagang yang membuka usaha di sekitar proyek terganggu. Jumat lalu, tak hanya itu, pedagang yang membuka usaha di sekitar area proyek juga ikut merugi. Fitriana (41), pemilik toko lukisan Wirasona di Jalan Ciledug Raya, menuturkan, omzetnya anjlok karena penyempitan jalan.

"Hari ini belum ada satu pun lukisan yang laku. Pelanggan saya tidak ada lagi yang mau mampir karena macet dan kesulitan parkir," kata Fitriana.

Sejak empat bulan lalu, omzetnya kian tak menentu. "Sebelum pembangunan ini, saya bisa dapat Rp 300.000-Rp 500.000 per hari. Sekarang, seminggu hanya sekitar Rp 300.000," ujarnya.

Pedagang Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, juga mengeluhkan omzet penjualan yang menurun akibat pembangunan proyek Jalan Raya Ciledug-Tendean. Sejak dahulu, jalan raya itu sudah macet. Namun, kemacetan diperparah oleh pembatas jalan dan pengerjaan proyek tiang pancang jalan.

Ridwan (55) menuturkan, omzetnya selama Ramadhan menjelang Lebaran turun. Dari omzet Rp 30 juta-Rp 40 juta per hari kini turun menjadi Rp 10 juta-Rp 15 juta. Pelanggannya yang berasal dari luar kota, seperti Kalimantan dan Sulawesi, mengeluh sulit mengakses ke pasar. Untuk bergerak dalam jarak 100 meter perlu waktu 1 jam.

"Kami harus siap merasakan penurunan omzet ini sampai 2-4 tahun mendatang," ujarnya.

Pengaduan

Dinas Bina Marga DKI Jakarta membuka jalur pengaduan yang terkoneksi dengan TMC Polda Metro Jaya. Warga bisa menyampaikan pengaduan melalui telepon atau pesan singkat ke nomor 081225678961. Pengaduan juga bisa disampaikan melalui jejaring sosial Facebook dengan akun Jalan Layang Tendean-Blok M-Ciledug dan Twitter @jalanlayangcmt.

Heru mengatakan, proses pengeboran tiang fondasi bawah ini berlangsung dalam waktu enam bulan dan diperkirakan selesai pada Agustus 2015. Pengeboran memakan ruas jalan selebar 6 meter.

"Setelah pengeboran selesai, tidak akan ada lagi penyempitan jalan. Awal tahun depan kami targetkan konstruksi bagian atas sehingga tidak mengganggu jalan," ujarnya.

Dalam beberapa kesempatan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta warganya bersabar. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mengejar pembangunan infrastruktur yang tertinggal selama bertahun-tahun. Dia mengibaratkan Jakarta sebagai kota yang sakit dan butuh operasi lewat pembangunan infrastruktur dalam skala yang masif.

"Pasti ada rasa sakit saat operasi. Namun setelah selesai, infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan transportasi massal terbangun. Jakarta punya moda transportasi yang modern. Mobilitas dengan angkutan publik menjadi lebih nyaman ke depan," ujarnya. (FRO/MKN/DEA/B08)

Sumber: Kompas | 06 Juli 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.