TRP
Pemerintah Kaji Ulang Persiapan Proyek
02 Juli 2015 \\ \\ 519

JAKARTA — Pemerintah mengkaji ulang persiapan proyek-proyek strategis nasional yang sudah dicanangkan lima tahun ke depan. Pemerintah memastikan kembali adanya persiapan yang lengkap pada proyek-proyek tersebut. Langkah ini dilakukan pemerintah agar tidak ada lagi kerugian karena persiapan proyek yang buruk.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah menginginkan proyek-proyek yang dicanangkan itu dapat dilaksanakan. "Yang paling penting bagaimana persiapan proyek itu. Sebab, selama ini hambatannya adalah ketika dana sudah siap, persiapan proyek belum ada. Oleh karena itu, persiapan proyek harus dipersiapkan betul-betul," kata Sofyan Djalil, Rabu (1/7), di Kantor Wakil Presiden Jakarta.

Menurut Sofyan seluruh kementerian harus melihat ulang persiapan proyek-proyek prioritas. Persiapan yang dimaksud meliputi studi kelayakan, gambar kerja detail, dan persoalan-persoalan teknis lain. Proyek yang menjadi perhatian adalah proyek yang dikerjakan lewat skema pinjaman langsung, kerja sama antara BUMN dan swasta, serta proyek yang dikerjakan lewat kerja sama antara swasta dan pemerintah.

Pemerintah tidak ingin kasus mangkrak-nya sejumlah proyek terulang lagi seperti yang disampaikan sebelumnya oleh Kepala Staf Kepresidenan Luhut B Pandjaitan. Luhut mengungkapkan bahwa proyek-proyek yang mangkrak selama empat tahun nilainya 11 miliar dollar AS. Hal ini menjadi beban pemerintah karena harus menanggung bunga pinjaman dana proyek tersebut.

Koreksi

Sejalan dengan langkah itu, pemerintah membuka ruang untuk mengoreksi semua proyek yang tercantum dalam buku biru (blue book), yaitu daftar proyek yang dibiayai dengan skema tertentu. Menurut Sofyan, ada kemungkinan penambahan butir proyek dalam satu minggu ini. "Satu pekan ini, semua menteri diminta melihat kembali mana-mana yang bisa masuk dalam buku biru," ujarnya.

Tahun ini, pemerintah menyiapkan alokasi anggaran untuk proyek di buku biru 38 miliar dollar AS yang mencakup sekitar 60 proyek prioritas. Harapannya, saat kebutuhan dana sudah tersedia, proyek yang dicanangkan siap dikerjakan. Kuncinya, kata Sofyan, persiapan proyek sudah ada di tingkat kementerian.

Dari seluruh proyek prioritas pemerintah, proyek paling banyak ada di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Kementerian Perhubungan. Proyek yang dimaksud adalah pembangunan jalan dan jembatan, perbaikan jalan nasional, penyediaan air minum, penanganan kawasan kumuh, pengelolaan air limbah, irigasi, pembangunan waduk, pembangunan pembangkit listrik, kereta bawah tanah, dan sejumlah proyek lain.

Pertemuan yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla, kemarin, berlangsung sekitar dua jam mulai pukul 13.00. Selain Sofyan, pertemuan itu dihadiri Luhut Pandjaitan, sejumlah menteri, dan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Seusai pertemuan, Menteri BUMN Rini Soemarno mendukung langkah tersebut. Hal ini dibutuhkan untuk mempercepat proyek infrastruktur yang dicanangkan pemerintah. Prioritas utama, kata Rini, kementerian akan konsentrasi melengkapi persiapan proyek tahun 2015. Namun, hal serupa juga dilakukan untuk melihat ulang yang dicanangkan lima tahun ke depan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago mengatakan, pendalaman persiapan proyek dibutuhkan agar kualitas proyek menjadi lebih baik. Menurut dia, perlu ada standar yang bisa menjadi pegangan di setiap proyek. Selama ini, banyak proyek infrastruktur yang kualitasnya buruk karena persiapannya buruk. (NDY)

Sumber: Kompas | 02 Juli 2015

Berikan komentar.