TRP
Kreatif di Jalur Utama Sumut
30 Juni 2015 \\ \\ 719

Dengan luas hanya 38,85 kilometer persegi, Pemerintah Kota Tebing Tinggi, Provinsi Sumatera Utara, harus inovatif untuk mengembangkan semua potensi kewilayahannya. Letak yang strategis di jalur persimpangan menuju sejumlah wilayah di Sumut, membuat kota ini hidup selama 24 jam.

Tebing berada persis di titik persimpangan antara Pantai Timur dan wilayah bekas karesidenan Tapanuli. Kota ini berada di jalur lintas Sumatera yang menghubungkan Medan dengan sejumlah kota besar di Pantai Timur seperti Kisaran, Tanjung Balai, hingga Rantau Prapat. Tebing Tinggi juga menjadi pintu masuk sejumlah kota utama di bagian dalam wilayah Sumut, seperti Pematang Siantar, daerah wisata Danau Toba (Parapat, Pulau Samosir, Balige, Tarutung), hingga ke wilayah-wilayah lain di bekas karesidenan Tapanuli.

Kondisi sebagai perlintasan beberapa kota utama di Sumut ini, disadari betul oleh Wali Kota Tebing Tinggi Umar Zunaidi Hasibuan, sebagai potensi ekonomi luar biasa yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Umar menyadari untuk bisa menggali potensi ekonomi tersebut, Tebing Tinggi harus menjadi kota yang cerdas.

Agar terarah dalam upaya membangun Tebing Tinggi sebagai kota cerdas, Umar menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kerja sama dengan Bappenas ini kemudian mempertemukan Tebing Tinggi dengan Pemerintah Korea Selatan yang membantu mereka menyusun studi kelayakan untuk membangun kota cerdas.

"Memang arahnya menuju ke sana. Ini dibuktikan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Wali Kota Tebing Tinggi dan Pemerintah Korea Selatan, terutama untuk penyusunan feasibility study. Melihat dulu kondisi existing-nya bagaimana. Mana potensi apa yang bisa dikembangkan ke depan. Itulah yang akan dituangkan dalam dokumen perencanaannya," kata Kepala Badan Perencanaan Daerah Kota Tebing Tinggi Gul Bahri Siregar.

Tebing Tinggi bersemangat menggagas kota cerdas. Ini diakui Umar karena potensi ekonomi yang sangat besar dari letak strategis Tebing Tinggi. Dari survei terakhir yang dilakukan pemkot terhadap jumlah mobil yang melewati Tebing Tinggi, per harinya mencapai 42.189 kendaraan. "Kalau satu mobil isi empat orang saja, bus-bus enggak usah dihitung penuh, ada hampir 170.000 orang lewat di Tebing Tinggi dalam 24 jam. Kalau 10 persennya singgah, buang air kecil, makan, berarti ada 17.000 orang. Itu pasar yang luar biasa besar, dan tidak ada di tempat lain," katanya.

Jalan tol

Nilai strategis lain yang dimiliki Tebing Tinggi adalah rencana pembangunan ruas Jalan Tol Tanjung Morawa (Medan)-Bandara Kuala Namu (Kabupaten Deli Serdang)-Tebing Tinggi. Saat ini rencana tersebut sedang dalam tahap pembebasan lahan. Menurut Umar, pembebasan lahan untuk proyek Jalan Tol Tanjung Morawa-Kuala Namu-Tebing Tinggi telah mencapai 80 persen. Sebagian besar yang sudah dibebaskan adalah lahan milik perkebunan, baik swasta maupun BUMN. Sementara sebagian besar yang belum dibebaskan adalah lahan milik warga.

Di Tebing Tinggi saat ini, tantangannya adalah bagaimana memberdayakan warga untuk berpartisipasi mendukung keberhasilan mewujudkan kota cerdas. Dari sisi pemkot, niat itu sudah mulai diwujudkan. "Gagasan kota cerdas lainnya adalah bagaimana pendapatan warga bisa bertambah sementara consumptioncost (biaya konsumsi) menurun. Biaya hidup harus menurun karena kemampuan daya saing kita terbatas dibandingkan negara asing. Maka, masyarakatnya harus cerdas," katanya.

Upaya pemberdayaan yang tengah dilakukan Pemkot Tebing Tinggi untuk mewujudkan kota cerdas adalah pengembangan usaha kecil dan menengah (UMKM) milik warga. Pemkot menggandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk mendirikan klinik bisnis. Pelaku UMKM dimasukan ke klinik bisnis agar mereka bisa bersaing menjual produknya. Salah satunya lewat pemasaran secara daring (online). "Sementara kami membantu agar mereka dapat memperoleh sertifikasi halal hingga melakukan packaging dengan baik," kata Umar.

Pemkot juga menyiapkan pasar khusus untuk mereka. Tebing Tinggi selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil berbagai jenis makanan ringan yang khas. Namun tak ada sentra pemasaran yang khusus untuk para pelaku UMKM ini. Menurut Umar, pemkot sedang menyiapkan pasar khusus untuk menjual berbagai produk ekonomi kreatif warga. Dari makanan khas, kerajinan, hingga produk tekstil. "Sayangnya ini masih terkendala dengan ketersediaan listrik. PLN masih belum menyanggupi mengaliri listrik ke pasar ini. Ada sekitar 100 kios di pasar ekonomi kreatif ini. Warga hanya membayar listrik, air, dan kebersihan saja nantinya," ujar Umar.

Infrastruktur

Tebing Tinggi mulai menyiapkan infrastruktur yang memudahkan kegiatan ekonomi. Proses perizinan dilakukan satu pintu. Bila perlu kantor perizinan satu pintu (KTSP) melakukan jemput bola. "Pakai mobil keliling untuk memudahkan mereka yang memerlukan izin," katanya.

Menurut Umar, suka atau tidak Tebing Tinggi akan tumbuh dan berkembang karena posisinya yang strategis. "Makanya kita harus menyediakan diri kita menjadi kota yang smart tadi. Orang bisa mengakses apa pun yang dibutuhkan kota ini melalui sistem IT yang ada," katanya.

Pemkot Tebing Tinggi juga melakukan kerja sama dengan sejumlah pemkot lain di Indonesia, seperti Surabaya, Depok, dan Tangerang Selatan. Salah satu hasil kerja sama yang sudah diwujudkan adalah urban farming (pertanian wilayah kota). Ketua Kelompok Tani Kelurahan Satria, Kecamatan Padang Hilir, Fivi Manurung menuturkan, setiap kelompok dituntut mengembangkan konsep urban farming-nya.

Jalan yang menjadikan Tebing Tinggi sebagai kota cerdas sedang dirintis. Dalam perspektif pemkot, tahun ini sudah memasuki tahun kedua dan masih membutuhkan setidaknya lima tahun lagi mewujudkan gagasan ini. "Yang digariskan tadi (gagasan kota cerdas) belum tercapai semua karena kami masih tahap awal dari wujud smart city. Kami pasti akan melangkah ke situ," ungkap Umar. Oleh Khaerudin

Sumber: Kompas | 30 Juni 2015

Berikan komentar.