TRP
Belajar demi Kota Cerdas
30 Juni 2015 \\ \\ 357

Wali Kota Tebing Tinggi Umar Zunaidi Hasibuan termasuk tipikal kepala daerah yang serius mau belajar dari keberhasilan daerah lain untuk membangun wilayah yang dipimpinnya. Hasrat menjadikan Tebing Tinggi sebagai salah satu kota yang cerdas misalnya, telah membawa Umar ke Korea Selatan demi menggandeng pemerintah negara tersebut untuk membantu melakukan studi kelayakan mewujudkan kota cerdas.

Tebing Tinggi belajar dari kesuksesan dan kegagalan kota-kota lain dalam mewujudkan konsep kota yang cerdas. Urban farming yang mulai digalakan di Tebing Tinggi dicontoh dari Surabaya. "Kami lakukan kerja sama dengan Kota Surabaya untuk urban farming ini," kata Umar.

Untuk mewujudkan kota cerdas, Umar berangkat dari apa saja potensi yang sudah dimiliki Tebing Tinggi saat ini. Mantan Kepala Dinas Jalan dan Jembatan Provinsi Sumut ini mengungkapkan, dengan membangun Tebing Tinggi menjadi kota cerdas, keterbatasan yang dimiliki wilayahnya tetap dapat dioptimalkan untuk mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki kota tersebut.

"Kota cerdas itu harus dalam berbagai aspek. Warga gampang mendapat informasi. Biaya bagi masyarakat rendah, tetapi pemerintah tetap mendapat pendapatan yang tinggi. Bagaimana metode itu dilakukan? Informasi harus mudah didapat masyarakat, tentu dengan sistem IT (informasi dan teknologi). Tanpa sistem IT yang memadai mustahil lah," ujar Umar dalam perbincangan, Selasa (21/4).

24 Jam

Gagasan mewujudkan Tebing Tinggi sebagai kota cerdas juga tak main-main. Pemkot Tebing Tinggi menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk menggarap rencana tata kelola Tebing Tinggi sebagai kota cerdas.

Kerja sama menggandeng Bappenas tersebut membuat Umar setidaknya memiliki panduan bagaimana dia harus membangun Tebing Tinggi menjadi salah satu kota cerdas di Indonesia. Dia paham bagaimana memanfaatkan potensi Tebing Tinggi yang berada pada perlintasan utama Jalur Lintas Sumatera. Letak kota ini yang dekat dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke, juga sudah dipikirkan oleh Umar dengan merencanakan infrastruktur pendukung.

Dia mulai memikirkan bagaimana mengubah tata ruang kota demi menjadikan Tebing Tinggi sebagai supporting area untuk KEK Sei Mangke. "Kami mengharapkan program ke depan adalah masalah pergudangan. Karena supporting Kuala Tanjung (pelabuhan yang terhubung dengan KEK Sei Mangke) jaraknya cuma 22 km. Tentu kami perlu memikirkan. Kami sudah mengubah tata ruang," ujar Umar.

Tebing Tinggi memang seperti tumbuh sendiri di antara daerah-daerah lain yang berada di dekat KEK Sei Mangke. Sei Rampah, ibu kota Kabupaten Serdang Bedagai dan Lima Puluh, ibu kota Kabupaten Batubara, secara ekonomi justru bergantung pada Tebing Tinggi.

"Saya dengan teman-teman Bappenas di Jakarta sudah melakukan kajian. Kota-kota lain selain Tebing Tinggi, kan, enggak tumbuh. Sei Rampah itu mana kotanya. Lima Puluh itu, 26 km dari Kuala Tanjung, mana kotanya. Aturannya dia men-support Sei Mangke, tapi dia tak bisa karena tak ada kotanya. Kotanya di sini. Makanya kita menghendaki investasi perhotelan di sini. Karena kota ini tidak boleh tidur sebab lintasan orang 24 jam. Namanya kota, supporting-nya 24 jam. Apotek 24 jam, tempat makan 24 jam, oleh-oleh 24 jam, tiket 24 jam, tukar duit 24 jam," katanya. (BIL)

Sumber: Kompas | 30 Juni 2015

Berikan komentar.