TRP
Komitmen Mengelola Kota Tua
30 Juni 2015 \\ \\ 507

Bunyi sirene pada silo, penimbun batubara, di depan kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, pada pukul 16.00 seolah menyambut kami saat tiba di kota itu 21 Mei lalu. Pada zaman Belanda, sirene itu penanda jam kerja orang rantai atau narapidana/kuli tambang.

Hingga kini, sirene itu tetap berbunyi setiap pukul 07.00, 13.00, dan 16.00. Sawahlunto pernah berjaya hampir 100 tahun dari tambang batubara sejak 1888. Namun, kota ini juga pernah kehilangan harapan saat tambang yang menopang kehidupan kota terus merosot, puncaknya pada 1988. Kondisi itu membuat kemiskinan melonjak 20 persen, pertumbuhan ekonominya terpuruk hingga minus 6,7 persen.

Kondisi itu membuat kota ini pernah dijuluki kota mati. Hingga akhirnya, muncul harapan ketika sejumlah pihak menawarkan ide untuk memanfaatkan apa yang tersisa dari kegiatan tambang, terutama bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda.

Dari serangkaian proses, lahirlah Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2001 tentang Visi Misi Kota Sawahlunto, yakni menjadikan Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya Tahun 2020. Kawasan kota tua dibenahi, sisa kegiatan tambang dikemas jadi tujuan wisata. Bangunan cagar budaya dijaga sedemikian rupa untuk tetap menghadirkan kesan kota tambang.

Di kompleks Museum Goedang Ransoem yang dahulu merupakan dapur umum perusahaan tambang batubara Ombilin, misalnya, masih ditemukan bangunan gudang persediaan bahan mentah, padi, tungku pembakaran, menara cerobong asap, serta gedung pabrik dan gudang es. Terdapat juga peralatan masak yang dahulu digunakan untuk memasak makanan bagi sekitar 4.000 pekerja tambang. Ada pula foto-foto dokumentasi.

Begitu juga dengan Info Box dan Lubang Mbah Suro. Gedung Infobox merupakan gedung yang berisi berbagai informasi dan dokumentasi tentang kegiatan tambang di Sawahlunto pada masa kolonial. Adapun Lubang Mbah Suro merupakan tambang bawah tanah yang dibuka pada 1898 dan dibuka kembali pada 2007 untuk wisata. Wisatawan bisa menyusuri lubang itu.

Pemkot juga membangun destinasi penunjang seperti Waterboom, Taman Satwa Kandi, Taman Buah. Masyarakat disiapkan, baik dengan membentuk kelompok-kelompok sadar wisata maupun pengembangan homestay mengingat jumlah hotel di Sawahlunto hanya tujuh dengan jumlah kamar 200. Kini paling tidak terdapat 40 homestay.

Kunjungan wisatawan pun terus meningkat. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto Efriyanto mengatakan, jumlah wisatawan yang pada 2004 hanya 14.425 orang, tahun 2014 sekitar 764.000 orang, di mana 3-5 persen di antaranya wisatawan asing. Perekonomian Sawahlunto merengkak, salah satunya ditandai angka kemiskinan yang kini tersisa 2,08 persen atau terbaik kedua di Indonesia.

Komitmen pemkot

Namun, pengembangan wisata kota tambang itu belum optimal karena 90 persen bangunan cagar budaya milik PT Bukit Asam (BA), perusahaan milik negara yang menambang batubara di Sawahlunto. "Begitu juga pada 74 cagar budaya yang kini dipakai pemkot, 64 persen milik PT Bukit Asam," kata Kepala Kantor Permuseuman dan Peninggalan Bersejarah Kota Sawahlunto Afrinaldi. Selain PT BA, kepemilikan cagar budaya juga di tangan PT Kereta Api Indonesia, antara lain Museum Kereta Api dan lokomotif uap Mak Itam.

Semula, sejak 2004, penggunaan bangunan cagar budaya tersebut menggunakan sistem pinjam pakai. Namun, adanya Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Aset BUMN, pemanfaatan aset PT BA dan PT KAI tersebut harus menggunakan sistem sewa pakai.

General Manager PT BA Unit Penambangan Ombilin Eko Budi Saputro mengatakan, aturan tersebut mulai berlaku tahun ini. Namun terlepas dari aturan tersebut, Eko mempertanyakan komitmen pemkot dalam menjadikan Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya. Sebab, tidak sedikit perubahan terjadi pada aset PT BA ketika dikelola pemkot.

"Pada 2006-2010 kita masih bisa menemukan rumah-rumah karyawan yang berupa rumah bambu panggung beratap seng tebal. Namun, pemkot justru memberikan bantuan yang membuat warga berlomba-lomba mengganti atapnya. Perubahan itu membuat nilai sejarah hilang," katanya.

Hal itu juga terjadi pada perkampungan karyawan di sekitar kawasan gedung Info Box dan Lubang Mbah Suro. Dapur umum yang dulu ada di kawasan itu berubah menjadi hunian. Pemkot juga merobohkan Gedung Pertemuan Karyawan diganti gedung baru yang kini berfungsi sebagai Info Box.

Pariwisata

Ketua Paguyuban Adikarsa Raharja atau Paguyuban etnis Jawa di Sawahlunto, Purwoko, menilai, arah pengembangan Kota Sawahlunto semakin jauh dari visi awal kota. Visi awal diarahkan agar Sawahlunto tidak sekadar menjadi destinasi wisata, tetapi juga tempat belajar. Tidak hanya belajar soal tambang, tetapi juga kekayaan budaya mengingat masyarakat Sawahlunto terbentuk oleh beragam etnis seperti Minang, Jawa, Batak, Tionghoa, dan Bugis.

"Sejalan dengan itu, dilakukan pula reproduksi cerita tentang tambang, mengaktifkan kembali jalur dan lori, dan lubang-lubang yang punya deposit bisa untuk pembelajaran," kata anggota Tim Tujuh, perumus visi Kota Sawahlunto itu. Namun dalam perjalan waktu, area penunjang justru yang lebih banyak dikejar.

Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Bung Hatta Padang, Joni Wongso, mengatakan, Pemkot Sawahlunto telah memiliki sejumlah aturan terkait pengelolaan kota tuanya. Misalnya Perda No 2/2010 tentang Penataan Kawasan Kota Lama. Ini cukup menjadi dasar bagi pemkot mengelola baik aset yang ada. Apalagi ada juga UU No 11/2010 tentang Cagar Budaya yang mengatur tentang pengelolaan aset cagar budaya.

Staf Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumbar, Riau, Kepulauan Riau, Azwar Sutihat, mengatakan, Sawahlunto berstatus Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional sejak 2014. Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf mengatakan, Pemkot terus berusaha mengembangkan pariwisata kota tua. Oleh ISMAIL ZAKARIA dan YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas | 29 Juni 2015

Berikan komentar.