TRP
Ekstensifikasi Manfaatkan Lahan Kurang Subur
30 Juni 2015 \\ \\ 371

BOGOR — Perluasan lahan pertanian di Indonesia menemui kesulitan karena lahan subur terbatas. Pemanfaatan lahan suboptimal atau kurang subur menjadi salah satu solusi perluasan lahan pertanian.

Hal itu disampaikan Prof Dr Ir Djadja Subardja Sutaatmadja, MS dan Prof Dr Ir Bambang Sutaryo, MS dalam orasi pengukuhan profesor riset pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Jumat (26/6), di Bogor, Jawa Barat.

Djadja dikukuhkan sebagai profesor riset ke-122 dengan orasi "Pendekatan Pedologis dalam Pemanfaatan Lahan Suboptimal untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan". Sementara Bambang menjadi profesor riset ke-123 dengan orasi "Prospek Perakitan dan Pengembangan Padi Hibrida Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan".

Seiring dengan waktu, lahan subur banyak mengalami penurunan mutu dan konversi. Produktivitas padi cenderung menurun akibat penggunaan lahan sangat intensif dan pemberian pupuk anorganik berlebihan. "Sementara kebutuhan pangan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk" kata Djadja.

Demi memenuhi kebutuhan pangan atau swasembada, lanjut Djadja, perluasan lahan pertanian memanfaatkan lahan suboptimal, yang mayoritas di luar Pulau Jawa, mutlak dilakukan.

Djadja menyatakan, perluasan lahan pertanian di Indonesia sebaiknya diarahkan memanfaatkan lahan suboptimal antara lain lahan kering masam, lahan kering beriklim kering, dan lahan rawa sulfat masam.

Dari total 191,1 juta hektar luas daratan Indonesia, lahan suboptimal mencapai 114,9 juta hektar, lebih luas dari lahan pertanian yang saat ini luasnya 70,2 juta hektar.

Permasalahan pemanfaatan lahan tidak subur antara lain belum tersedia informasi rinci dan akurat tentang sebaran, karakteristik, potensi, dan kendala lahan seperti itu. Dengan pendekatan pedologis (pemetaan dan survei lahan), Djadja berharap informasi itu bisa tersedia sehingga bisa ditentukan teknologi pengolahan lahan spesifik.

Akibat ketiadaan peta yang memadai, menurut Djadja, sering terjadi salah pengelolaan antara lain salah memilih jenis tanaman, yang berdampak pada kegagalan produksi. Selain itu, terjadi tumpang tindih kepentingan dan kerusakan lingkungan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Muhammad Syakir mengatakan, salah satu lahan suboptimal yang sudah diuji coba adalah lahan rawa di Sulawesi Selatan dan di Kalimantan Selatan. Hasil uji coba menunjukkan, produktivitas 5 ton-6 ton per hektar, mendekati produktivitas lahan subur irigasi sekitar 8 ton per hektar. (B01)

Sumber: Kompas | 29 Juni 2015

Berikan komentar.