TRP
Ganti Rugi Dibayarkan
30 Juni 2015 \\ \\ 512

Penggenangan Waduk Jatigede Butuh 219 Hari

SUMEDANG — Warga yang rumahnya terkena pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (26/6), mulai menerima uang pembayaran ganti rugi dan santunan. Hal itu merupakan bagian dari upaya percepatan pembangunan waduk.

Pemerintah pusat menyediakan sedikitnya Rp 741 miliar untuk penyelesaian dampak sosial tersebut pada tahun 2015.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mudjiadi, Jumat, berkunjung ke proyek Waduk Jatigede. Secara simbolis ia menyerahkan dokumen pembayaran ganti rugi dan santunan kepada warga di 19 desa. Uang ganti rugi dan santunan akan ditransfer langsung ke setiap rekening warga yang berhak setelah melalui proses registrasi, verifikasi, dan validasi.

"Harapannya, penanganan dampak sosial ini akan tuntas dalam dua bulan. Pada 31 Juli atau 1 Agustus, kami akan menggenangi waduk," ujar Mujiadi.

Penanganan dampak sosial terhadap 11.000 keluarga, lanjutnya, akan diselesaikan secepatnya oleh pemerintah.

Ia menyatakan, uang Rp 741 miliar dialokasikan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015. Selain pembayaran ganti rugi dan santunan, pemerintah harus merelokasi sarana lain, yakni situs sejarah, jalan kampung, dan makam. "Jika dihitung secara keseluruhan, pemerintah mengeluarkan sekitar Rp 1 triliun," kata Mudjiadi.

Mulai Jumat, warga sudah bisa mengambil haknya dengan mendatangi pos fasilitas pembayaran santunan dan ganti rugi.

Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Jabar Hamonangan Simarmata mengatakan, dari hasil verifikasi yang dilakukan, ia masih mendapati ada nama ganda penerima, penerima yang terlewat, dan belum tuntasnya problem ahli waris.

Siap digenangi

Seiring dengan penanganan dampak sosial, kondisi fisik Waduk Jatigede kini sudah siap. Areal yang rencananya digenangi seluas 5 hektar akan mampu menampung air 980 juta meter kubik. Penggenangan waduk perlu waktu sekitar 219 hari.

Air Waduk Jatigede diprediksi mampu mengairi 90.000 hektar lahan pertanian di wilayah pantai utara (pantura) Jabar. Selain itu, air dari waduk juga akan dipakai sebagai sumber air baku masyarakat. Untuk mendukung operasi waduk, badan pelaksana akan dibentuk pemerintah paling lambat tengah tahun depan.

"Secara fisik, semuanya sudah siap. Kami tinggal merampungkan satu penutup terowongan atau plugging. Pembangunan itu bisa dilanjutkan sembari pengisian air dilakukan. Penyelesaian terowongan itu tidak akan mengganggu operasional waduk," kata Airlangga Mardjono, Kepala Satuan Kerja Pembangunan Waduk Jatigede.

Pembangunan waduk itu diharapkan dapat mengatasi kendala kekeringan di lumbung-lumbung pangan nasional di Jabar, seperti Indramayu, Cirebon, dan Majalengka. Keberadaan Waduk Jatigede menjamin pasokan air saluran irigasi Bendung Rentang yang vital.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung Tri Trisasongko Widianto menambahkan, Waduk Jatigede juga akan menggerakkan pembangkit listrik tenaga air dengan daya 110 megawatt. Khusus untuk air baku, empat wilayah akan menikmati, yakni Sumedang, Indramayu, serta Kota dan Kabupaten Cirebon.

"Selama ini, 1,7 miliar meter kubik air Sungai Cimanuk terbuang sia-sia ke laut, sekarang sebagian memberikan manfaat luas," kata Widianto.

Dari Kupang, NTT, dilaporkan, pengerjaan Bendungan Rotiklot di Desa Fatuketu, Kecamatan Kakulukmesak, Kabupaten Belu, belum bisa dimulai karena masih harus menunggu izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Lokasi rencana bendungan itu masuk wilayah kawasan hutan. Demikian dikemukakan Kepala Balai Sungai Nusa Tenggara II Charisal A Manu, Kamis lalu. (rek/ans)

Sumber: Kompas | 27 Juni 2015

Berikan komentar.