TRP
Pembangunan Sesuai Aturan
26 Juni 2015 \\ \\ 454

Sejak ditetapkan sebagai daerah penyangga, Pemerintah Kota Jakarta Selatan sadar keberadaan ruang terbuka hijau amat penting. RTH dalam bentuk taman, halaman, area rekreasi, jalur hijau, waduk, dan situ berkontribusi untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman warga. RTH berfungsi untuk mengamankan wilayah Jakarta Selatan dari pencemaran dan kerusakan tanah, air, dan udara.

Wali Kota Jakarta Selatan Syamsudin Noor, Kamis (18/6), di Jakarta, mengatakan, jumlah RTH di Jakarta Selatan mencapai 30,48 persen. "Jumlah itu lebih tinggi daripada ketentuan di undang-undang (UU). Jumlah itu juga lebih tinggi daripada RTH DKI Jakarta yang masih di bawah 10 persen," katanya.

Untuk mempertahankan kawasan hijau di wilayah Jakarta Selatan, koefisien dasar bangunan (KDB) dibatasi hanya 30 persen. Untuk mewujudkannya, kata Syamsudin, keterlibatan berbagai unit perangkat kerja penting. Ia meminta pegawai negeri sipil (PNS) di Jakarta Selatan mengawasi pembangunan agar berjalan sesuai dengan ketentuan.

Syamsudin juga mengajak warga ikut serta mengawasi dan melaporkan jika ditemukan bangunan yang tak sesuai ketentuan. Laporan masyarakat ditampung oleh tim monitoring dan pengendalian pembangunan. Tim itu juga bertugas merespons pengaduan masyarakat.

Kepala Seksi Perencanaan dan Evaluasi Suku Dinas Penataan Kota Jakarta Selatan Yanuar Yadi mengatakan, setiap bulan menerima sekitar 130 laporan masyarakat terkait pelanggaran pembangunan. "Kami memberikan surat peringatan kepada warga yang melanggar aturan. Kalau masih melanggar, bangunan dibongkar," ujarnya.

Syamsudin menjelaskan, selain pengawasan, Pemerintah Kota Jakarta Selatan juga melakukan penertiban kawasan. Sejak tahun 2014, ada 43 kegiatan penertiban kawasan yang dikerjakan. Total lahan yang terkumpul dari kegiatan ini mencapai 7,8 hektar. Lahan itu akan difungsikan kembali sebagai ruang terbuka hijau, seperti untuk taman atau jalur hijau.

Salah satu kawasan yang ditertibkan adalah Pasar Minggu. Puluhan lapak pedagang kaki lima dan bangunan liar yang ada di kawasan itu dibongkar. Sejumlah pedagang kaki lima yang selama ini mengokupasi taman, badan jalan, dan trotoar ditempatkan di empat pusat perbelanjaan modern, seperti di Mal Kota Kasablanka dan Gandaria City.

Di Pasar Minggu, Pemkot Jakarta Selatan akan membangun jalan raya, trotoar, dan jalur hijau. "Kami mengupayakan semaksimal mungkin memberi kenyamanan kepada masyarakat untuk berinteraksi melalui taman dan jalur hijau yang akan dibangun," ujar Syamsudin.

Beli ekskavator

Dalam rangka mengendalikan banjir dan mewujudkan sebagai daerah resapan air, Pemkot Jakarta Selatan berupaya membangun dan merawat waduk serta situ yang jumlahnya mencapai puluhan. Untuk mendukung program, dua unit ekskavator (alat pengeruk) buatan Eropa dan satu unit alat berat amfibi bernilai total Rp 11 miliar dibeli.

Menurut Kepala Suku Dinas Tata Air Jakarta Selatan Deddy Budiwidodo, alat itu akan dipakai untuk mengeruk sedimentasi yang selama ini menyumbat waduk dan saluran air. Dalam waktu dekat alat itu juga akan dipakai untuk mengeruk Waduk Rawa Lindung. Waduk seluas 3 hektar itu kini dipenuhi enceng gondok dan lumpur. Selain dirawat, waduk juga akan dibangun menjadi daerah resapan air sekaligus ruang rekreasi. (DNA)

Sumber: Kompas | 26 Juni 2015

Berikan komentar.