TRP
Pusat Keramaian Belum Terkoneksi Angkutan Massal
26 Juni 2015 \\ \\ 316

Sebagai pusat ekonomi, Jakarta memiliki banyak pusat bisnis dan perdagangan. Sebut saja Tanah Abang, Mangga Dua, Jatinegara, dan Pasar Senen. Pusat-pusat kegiatan tersebut tak hanya populer di Jakarta, tetapi sudah dikenal se-Indonesia, bahkan menjadi rujukan wisatawan mancanegara.

Sayang, titik-titik tersebut belum diintegrasikan dengan layanan angkutan massal. Akibatnya, pusat keramaian bisnis seolah identik dengan kemacetan.

Pusat perdagangan pakaian jadi Tanah Abang, misalnya, menjadi tempat rujukan banyak pedagang. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi pedagang dari sejumlah kota dan negara untuk mencari stok barang. Kemacetan pun tak terelakkan.

Angkutan umum yang melintasi Tanah Abang juga padat. Peron Stasiun Tanah Abang kerap kali tak cukup menampung luberan penumpang yang turun atau naik KRL. Sementara jalur pejalan kaki masih buruk dan membuat orang sering harus berjalan di aspal jalan di tengah sesaknya berbagai jenis kendaraan yang terjebak kemacetan.

Pengguna angkutan massal yang juga Koordinator Suara Transjakarta, David Tjahjana, mengakui, integrasi antara pusat-pusat aktivitas warga dan angkutan massal masih buruk. Kasus Tanah Abang merupakan contoh keburukan kepaduan kawasan dan angkutan massal itu.

"Akses bagi pejalan kaki di banyak tempat masih sangat buruk. Padahal, jalur pejalan kaki ini penting untuk menghubungkan stasiun, halte, dan terminal dengan pusat kegiatan. Tujuannya agar orang mau pakai angkutan massal ke tempat tujuan," ucapnya.

Kepaduan kawasan dan akses angkutan massal ini merupakan bagian dari konsep transit oriented development (TOD). Dalam rencana tata ruang wilayah DKI Jakarta 2030, sejumlah kawasan dijadikan TOD, termasuk Tanah Abang dan Pasar Senen di Jakarta Pusat. Namun, di lapangan, kepaduan wilayah dan akses angkutan massal ini belum pas.

David mengatakan, kawasan Senen seharusnya bisa menjadi contoh kawasan yang memiliki keterpaduan antarmoda dan antarkawasan yang baik. Sebab, selain memiliki pasar yang luas dan mal, di Senen juga terdapat stasiun, terminal, dan halte transjakarta untuk dua koridor.

"Sayang, titik-titik kegiatan dan akses angkutan umum itu belum terhubung dengan baik. Pengguna angkutan umum harus mencari jalan sendiri jika ingin berpindah moda angkutan atau saat hendak menuju pusat kegiatan. Idealnya, harus ada akses yang nyaman dan aman bagi pejalan kaki. Luas tempat bagi pejalan kaki pun harus disesuaikan dengan keramaian kawasan itu," ucapnya.

Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek MN Fadhila berpendapat, integrasi fisik antara halte dan stasiun bisa berupa petunjuk bagi pejalan kaki. Selain itu, area pejalan kaki juga mesti nyaman dan aman.

Adapun integrasi halte dan stasiun sudah beberapa kali dibicarakan. Halte bus transjakarta Cikoko sempat direncanakan akan terhubung dengan Stasiun Cawang di Jakarta Timur. Kenyataannya, halte dan stasiun itu tak terhubung dengan baik.

Hal serupa terjadi di Sudirman. Antara halte bus Dukuh Atas dan Stasiun Sudirman tak terhubung baik. Pengguna angkutan massal yang akan berpindah moda harus menyeberang jalan. Padahal, arus lalu lintas di sini tergolong padat.

Ego sektoral

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Aditya Dwi Laksana, mengatakan, buruknya integrasi angkutan massal seperti ini merupakan cerminan ego sektoral yang masih melekat di setiap institusi.

"Selama ego sektoral ini masih ada, sulit membuat integrasi yang nyata. Akibatnya, pengguna angkutan massal terus dikorbankan," ucap Aditya yang juga pengguna angkutan umum.

Dia menambahkan, di lapangan, pengguna angkutan massal sering kali harus menempuh jalan naik-turun di trotoar yang rusak untuk berpindah angkutan massal. Hal ini kontras dengan kebebasan kendaraan pribadi yang bisa masuk hingga ke lobi-lobi gedung perkantoran atau pusat perbelanjaan.

Dia berharap rencana Pemprov DKI dan pemerintah pusat menambah angkutan massal di Jakarta harus disertai detail integrasi yang baik. Integrasi harus dibuat ramah bagi pengguna sehingga angkutan massal menjadi menarik dibandingkan kendaraan pribadi. (AGNES RITA SULISTYAWATY)

Sumber: Kompas | 25 Juni 2015

Berikan komentar.