TRP
Kawasan Khususuntuk Tarik Investasi
26 Juni 2015 \\ \\ 385

JAKARTA — Pemerintah segera merealisasikan pembangunan kawasan pariwisata khusus baru di sejumlah daerah. Pengembangan tersebut dilakukan untuk mendongkrak kunjungan wisata dan investasi dalam negeri. Upaya ini diharapkan dapat mendukung program mendatangkan wisatawan 20 juta per tahun pada tahun 2019.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan A Djalil mengatakan, pengembangan kawasan itu untuk meningkatkan daya saing dengan negara-negara di sekitarnya.

"Kami akan melihat kelayakan rencana itu, tentunya juga kesiapan sponsor yang mendukung," kata Sofyan Djalil, Rabu (24/6), seusai mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden di Jakarta.

Dalam rapat itu, Kementerian Pariwisata memaparkan rencana pembangunan kawasan pariwisata khusus. Kawasan yang sudah disiapkan di antaranya Kawasan Khusus Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kawasan berikutnya adalah Kawasan Morotai, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Kawasan lain adalah Kawasan Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Kawasan khusus yang dimaksud berada di area dengan luas minimal 100 hektar, memiliki akses yang baik, dan berada pada area kawasan pengembangan pariwisata nasional.

Menurut Sofyan, program pembangunan kawasan khusus tersebut dapat ditunjang dengan program perbaikan destinasi wisata yang sudah menjadi andalan seperti Danau Toba, kawasan Borobudur, dan sejumlah tempat lainnya. Perbaikan tersebut meliputi akses transportasi, kebersihan, maupun kenyamanan wisatawan.

Sofyan mengapresiasi langkah Kementerian Pariwisata membuat sejumlah terobosan. Respons program pemberlakuan izin bebas visa sejauh ini positif.

Menurut Sofyan, semakin banyak wisatawan yang datang ke Indonesia diharapkan semakin banyak uang yang dibelanjakan.

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah seminar di Makassar, Menteri Pariwisata Arief Yahya optimistis bahwa sektor pariwisata bisa naik kelas menggantikan sektor migas sebagai penyumbang devisa terbesar. Hal ini hanya bisa terjadi manakala pariwisata digarap dengan benar mulai dari hulu sampai hilir oleh seluruh pemangku kepentingan.

Pemerintah sendiri, kata Arief, telah menetapkan pariwisata sebagai satu dari lima sektor prioritas. Adapun empat sektor lainnya adalah maritim, infrastruktur, energi, dan pertanian.

Komitmen itu terwujud dalam politik anggaran. Pada 2015, anggaran promosi wisata dalam APBN adalah Rp 300 miliar. Tahun 2015, alokasinya naik menjadi Rp 1,3 triliun. Tahun 2016, pagu indikatifnya Rp 3,6 triliun.

Mulai Juli, menurut Arif, promosi melalui media global sudah akan diluncurkan, di antaranya adalah Discovery, CNN, CCTV, Google, Youtube, dan TripAdvisor. "Sudah ada 4 juta orang yang tanya di TripAdvisor tentang Indonesia, tetapi karena kita belum promosi di situ, maka penanya ke negara lain," kata Arief. (NDY/why)

Sumber: Kompas | 25 Juni 2015

Berikan komentar.