TRP
Sengketa Lahan Picu Dua Bentrokan
24 Juni 2015 \\ \\ 617

BANDAR LAMPUNG — Dalam waktu kurang dari seminggu, dua bentrokan terjadi di Lampung, yaitu di Mesuji pada Sabtu (20/6) dan di Tulang Bawang pada Minggu (21/6). Kedua bentrokan tersebut masing-masing dipicu sengketa lahan di antara dua kelompok masa.

"Polanya nyaris serupa karena masing-masing saling mengklaim memiliki hak atas lahan tersebut," ujar Kepala Kepolisian Daerah Lampung Brigadir Jenderal (Pol) Edward Syah Pernong dalam jumpa pers di Markas Polda Lampung, Selasa (23/6).

Di Tulang Bawang, bentrokan melibatkan dua kelompok massa pimpinan Jefri dan kelompok Yincari. Pertikaian terjadi saat kelompok Jefri yang hendak mengawal kendaraan angkutan tebu milik PT Pratama Nusantara Sakti melalui lahan PT Aruna Wijaya Sakti dihadang kelompok Yuncari. Alasannya, Jefri dianggap tidak berkoordinasi terlebih dahulu.

"Dalam kasus di Tulang Bawang, sebenarnya kedua belah pihak sudah menjalin komunikasi yang baik. Namun, karena ada salah satu pihak yang tidak menjalankan kesepakatan, terjadilah gesekan di antara keduanya," kata Edward.

Satu orang tewas

Adapun di Hutan Kawasan Register 45, Mesuji, bentrokan terjadi antara kelompok massa asal Sungai Camba, Mesuji, dan Sungai Ceper, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Bentrokan ini menewaskan seorang warga Sungai Camba bernama Warso.

Empat warga dijadikan tersangka dalam kasus ini, yaitu MS, Bpr, Dnd, dan Bdm. Polisi masih memburu lima warga lainnya, beberapa di antaranya diduga oknum yang biasa menjadi makelar lahan di Register 45.

"Sengketa ini sebenarnya melibatkan dua pihak yang sama-sama tidak berhak atas lahan tersebut. Kelompok seperti ini biasanya berusaha ingin menjadi yang tercepat (mengklaim). Salah satu cara menjaga lahan yang ilegal tersebut ialah dengan kekuatan dan kekuasaan. Dengan begitu, kalau tidak punya kekuatan, lahan tersebut rawan dikuasi pihak lain," ujar Edward.

Karena itu, Edward mengusulkan adanya peningkatan program kemitraan dalam pengelolaan lahan di Register 45. Dengan demikian, katanya, diharapkan ada batasan dan aturan yang jelas dalam pengelolaan lahan di hutan produksi tersebut.

Maraknya perambah di Register 45, menurut Direktur Kriminalitas Umum Komisaris Besar Purwo Sahyoko, terjadi karena ada pihak-pihak tertentu yang memperjualbelikan lahan yang bukan miliknya. "Saat ini, Polda Lampung juga berupaya mencari oknum yang menjadi makelar lahan di Register 45," katanya.

Tersangka MS mengakui konflik yang terjadi karena tumpang tindih kepemilikan tanah. "Warga kami mengaku mendapat tanah itu dari pemberian orang, tetapi ada yang mengakui bahwa tanah itu milik orang lain," ujar MS. (GER)

Sumber: Kompas | 24 Juni 2015

Berikan komentar.