TRP
Air Bersih dan Sampah Masih Jadi Masalah
24 Juni 2015 \\ \\ 346

Diperlukan Terobosan untuk Memenuhi Kebutuhan Penghuni Rusunawa

JAKARTA — Masalah air bersih dan sampah masih menjadi masalah utama bagi penghuni rumah susun sederhana sewa di Jakarta. Diperlukan terobosan untuk mengatasi dua masalah ini sehingga penghuni rusunawa akan makin nyaman dan terpenuhi kebutuhannya.

Di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Muara Baru, Pluit, Jakarta Utara, misalnya, pasokan air bersih melalui pipa jaringan belum masuk di rusun berpenghuni 1.200 orang ini.

Menurut warga rusun tersebut, selain pasokannya terbatas, air yang ada juga belum bisa dimasak sehingga warga tetap harus membeli air untuk kebutuhan minum sehari-hari.

Novi Puspitasari (21), warga Blok 3, Rusunawa Muara Baru, menyampaikan, terbatasnya air bersih membuat warga harus menyisihkan dana agar tetap bisa minum setiap hari. Bahkan, untuk keperluan mandi, dia terkadang harus membeli air.

Untuk menanggulangi hal tersebut, pihak PAM Jaya membuat instalasi pengolahan air bersih sementara. Satu mesin ditempatkan sejak 2013 dan satu lagi pada awal 2015.

Mesin ini memanfaatkan air dari Waduk Pluit yang berada tak jauh dari rusun. Air dari waduk dipompa untuk dialirkan ke tempat pengolahan air di halaman rusunawa, yang berjarak sekitar 100 meter.

Tri Kurniawan (25), operator instalasi ini, Selasa (23/6), menyampaikan, air baku yang dipompa tersebut lalu ditampung dulu untuk disaring dan diberi kaporit. Setelah itu, air dimasukkan ke mesin ultrafiltrasi.

Tidak berhenti di situ, setelah difiltrasi dan mencapai standar air bersih, air dikarbonisasi agar jernih.

"Air lalu dibagi ke tempat penampungan di 12 blok, kemudian dialirkan ke unit rumah-rumah warga melalui perpipaan yang telah terpasang sebelumnya. Namun, karena jumlah air masih terbatas, hanya dialirkan pada waktu tertentu," ujarnya.

Produksi air dari mesin pengolahan di tempat ini memang masih sangat terbatas. Meski telah terdapat dua mesin pengolah, produksi air waduk hanya mampu menghasilkan air 2 liter per detik. Padahal, kebutuhan warga mencapai 7-8 liter per detik.

Secara umum, produksi air bersih per hari sebanyak 240-280 liter. Sementara kebutuhan warga dari 400 liter hingga 600 liter per hari.

Direktur Teknik PD PAM Jaya, Hendri Limbong, mengatakan, pihaknya akan membuat pengolahan air bersih permanen di Rusunawa Muara Baru. Diharapkan, mesin ini nantinya bisa memenuhi kebutuhan warga dengan kapasitas produksi mencapai 30 liter per detik.

"Apabila telah selesai, pasokan air ini tak hanya memasok rusun, tetapi juga warga sekitar yang belum mendapat pasokan air bersih selama ini," kata Hendri saat dihubungi, Selasa.

Menurut rencana, mesin ini akan diadakan tahun ini. Saat ini masih menunggu tuntasnya kajian program, termasuk rencana anggaran.

Selain kapasitas produksi, lanjut Hendri, masalah lain adalah kualitas air baku dari Waduk Pluit. Saat ini, kajian kualitas air masih dilakukan karena kualitas air di Waduk Pluit sangat buruk.

Air yang diolah saat ini telah bersih, tetapi belum disarankan untuk diminum. "Hal ini yang harus kami pastikan terkait kandungan amonia dan zat padat terlarut. Kalau kualitasnya seperti ini terus, kami harus menggunakan mesin yang lebih baik lagi," ucapnya.

Mengolah sampah

Sementara itu, penghuni Rusunawa Cinta Kasih Buddha Tzu Chi Cengkareng di Jakarta Barat berupaya membuat terobosan untuk mengatasi persoalan sampah. Di tangan pengelola depo sampah rusun tersebut, sampah yang bisa didaur ulang, seperti botol, plastik, kertas, kardus, pakaian, dan benda elektronik, dikumpulkan lalu dijual.

Hasilnya disalurkan untuk kegiatan sosial masyarakat ataupun dana kemanusiaan Yayasan Buddha Tzu Chi.

Hari Senin lalu, lingkungan sekitar rusunawa itu terlihat bersih dan terawat. Di setiap blok hunian terdapat tempat sampah kering dan basah yang dipisah.

Wenni (71), salah seorang penghuni, mengatakan, ketua RT setempat selalu mengingatkan penghuni rusunawa untuk memilah sampah. Sebuah karung plastik dipasang di sudut koridor untuk menampung sampah.

Sri Harti, petugas administrasi depo sampah rusunawa tersebut, menuturkan, depo sampah didirikan untuk memberikan pembelajaran kebersihan lingkungan terhadap warga rusunawa dan sekitarnya. (DEA/JAL)

Sumber: Kompas | 24 Juni 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.