TRP
Masalah Lahan Belum Tuntas
24 Juni 2015 \\ \\ 816

Bendungan Diperlukan untuk Produksi Pangan

SERANG — Pembangunan bendungan atau waduk di daerah, seperti Banten, Aceh, dan Jawa Tengah, dibayangi masalah pembebasan lahan yang belum selesai. Bahkan, pembebasan lahan belum separuh dari luas lahan yang dibutuhkan. Padahal, bendungan sangat penting mendukung program pemerintah terkait ketahanan pangan.

Menurut Sekretaris Daerah Banten Kurdi Matin, Selasa (23/6), di Serang, Banten, kebutuhan akan lahan Bendungan Karian, Lebak, Banten, seluas 2.170 hektar (ha). Hingga saat ini, lahan yang sudah dibebaskan sekitar 800 ha. Sebelumnya, pemerintah pusat menandatangani kontrak pembangunan empat bendungan, termasuk bendungan Karian, di Jakarta, Senin lalu.

Selain Karian, pembebasan lahan Bendungan Sindang Heula juga belum selesai. Sesuai program percepatan untuk Sindang Heula, lahan yang sudah siap seluas 36,5 ha dari kebutuhan seluas 131 ha.

Di Kudus, Jawa Tengah (Jateng), sebagian lahan untuk pembangunan Waduk Logung yang tengah dibangun belum terbebaskan. Namun, hal itu dinilai tidak akan mengganggu pengerjaan fisik bangunan bendungan hingga tahun 2016.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jateng Prasetyo Budi Yuwono, Selasa, mengatakan, lahan seluas 3,3 ha yang belum dibebaskan masuk dalam wilayah Kabupaten Pati.

Volume Waduk Logung diperkirakan mencapai 20 juta meter kubik, dan dibangun di lahan seluas total 196 ha. Waduk itu diperkirakan dapat mengairi 5.000 ha lahan sawah dan menyediakan air baku untuk Kabupaten Kudus 200 liter per detik.

Di Provinsi Aceh, pembebasan lahan untuk pembangunan Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah belum tuntas hingga sekarang. Paling tidak, lahan seluas 800 ha untuk wilayah genangan bendungan itu belum terbebaskan. Pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera I Provinsi Aceh berharap pembangunan bisa selesai tepat waktu.

Jika terealisasi, pembangunan waduk-waduk tentu bermanfaat untuk peningkatan produksi pangan. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah diagendakan pembangunan setidaknya lima dari 49 bendungan skala besar untuk penguatan produksi pangan. Lokasi lima bendungan itu sudah dipastikan, yaitu di Raknamo, Kabupaten Kupang; Rotiklot (Belu), Temef (Timor Tengah Selatan), Lambo (Nagekeo), dan Napunggete (Sikka).

Kepala Dinas Pertanian NTT Yohanis Tay Ruba, Selasa (23/6), di Kupang, membenarkan sejumlah lokasi itu yang telah diusulkan untuk proyek pembangunan bendungan di NTT. Tujuan pembangunan bendungan itu adalah penguatan produksi pangan di NTT, untuk kebutuhan air bersih, dan berwisata.

Dari informasi yang diperoleh Kompas, dari lima lokasi itu, baru satu lokasi, yakni Bendungan Raknamo yang mulai dikerjakan. Pelaksanaan pembangunan didahului peletakan batu pertama oleh Presiden Joko Widodo di Raknamo, akhir Desember 2014.

”Realisasi fisiknya saat ini sekitar 10 persen. Pelaksanaan pembangunan direncanakan bertahap selama 5 tahun, tetapi mungkin dipercepat menjadi 3 tahun,” kata Kepala Balai Sungai Nusa Tenggara II Charisal A Manu, yang dihubungi. Proyek Bendungan Raknamo akan menelan biaya Rp 782 miliar, dan dikerjakan oleh PT Waskita Karya. Waduk itu berdaya tampung 14,09 juta meter kubik air.

Mulai dikerjakan

Pembangunan bendungan Paselloreng di Kecamatan Gilireng, Wajo, Sulawesi Selatan, telah mulai dikerjakan pada awal Juni 2015. Namun, pemerintah masih harus membebaskan lebih dari 2.000 ha lahan selama 3 tahun untuk penyelesaian proyek. Menurut Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Hariyono Utomo, lahan yang telah dibebaskan tahap awal seluas 19,7 ha. Lahan itu untuk pembangunan tapak bendungan yang sedang dikerjakan. (BAY/ANS/UTI/RAZ/ENG/DRI/JUM)

Sumber: Kompas | 24 Juni 2015

Berikan komentar.