TRP
Berumah dengan Mengeruk Karang
24 Juni 2015 \\ \\ 363

Reklamasi dalam bayangan awam adalah mengeruk pasir untuk menambah luas daratan. Di Pulau Panggang, warga mereklamasi laut dengan mengeruk karang. Bahkan, karang yang sejatinya menjadi habitat ikan dijadikan fondasi rumah. Konservasi tak sebanding dengan laju eksploitasinya.

Batu karang teronggok di pantai barat Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta, dua pekan silam. Di situlah, di sela-sela perahu nelayan, Junaedi (65) bercengkerama bersama anak-cucunya.

Tidak jauh dari tambatan perahu, tampak bangunan fondasi rumah yang belum selesai. Fondasi itu berupa susunan karang yang direkatkan dengan adukan semen dan pasir. Belum lagi fondasi itu rampung, muncul lagi fondasi baru yang kian menjorok ke laut.

Rumah Junaedi berdempetan dengan rumah warga lain sesama nelayan. Rumah-rumah berdinding tembok itu tumbuh sesak di pulau seluas lebih kurang 12 hektar itu. Gang-gang sempit menjadi ruang cengkerama bagi warga.

"Dulu, lokasi rumah saya ini laut," kata Junaedi (65), salah seorang warga Pulau Panggang. "Saya butuh waktu tiga bulan ngangkutin batu karang dari laut buat bangun rumah."

Junaedi menceritakan, sekitar 15 tahun lalu, Pulau Panggang tidak seluas sekarang. Kian sesaknya pulau ini membuat lahan terdesak tandas. Akhirnya, warga berinisiatif mereklamasi pantai untuk membuat daratan baru agar bisa membangun hunian. Bahan urukan diambil dari karang masif sekitar pulau.

Beban lingkungan akibat ledakan penduduk manusia dan kegiatannya membuat kondisi Pulau Panggang tak lagi proporsional.

Berdasarkan data Kelurahan Panggang, tahun 2011 pulau itu dihuni 1.033 keluarga. Tahun 2015, membengkak menjadi 1.239. Jadilah Pulau Panggang tercatat sebagai pulau terpadat di Kepulauan Seribu.

Terletak di area kepulauan, tak ada pilihan bagi warga kecuali mengandalkan karang sebagai bahan urukan dan fondasi rumah. Junaedi mengakui betapa repotnya jika keperluan bahan untuk reklamasi harus diambil dari tanah atau batu pegunungan di daratan Jakarta dan Banten. "Harga karang saja sudah selangit, apalagi batu gunung?" katanya.

Belakangan ini sejumlah warga memang memosisikan karang sebagai komoditas. Hasan Basri, tokoh masyarakat Panggang, menyebutkan, sewaktu dia membangun rumah tahun 1990, harga 1 kubik batu karang Rp 7.000. Kini, melesat menjadi Rp 120.000 per kubik.

Intrusi air laut

Berbeda dari pulau-pulau tetangganya yang rimbun pohonan kelapa dan ketapang, pulau ini tampak gersang. Dari kejauhan, pulau ini tak ubahnya dempetan bangunan rumah penduduk, sekolah, puskesmas, dan kelurahan. Tak heran, cuacanya begitu terik

"Ya, sesuai nama pulau ini, sarasa dipanggang," ujar Samiun (47), tokoh masyarakat setempat, berseloroh.

Di sini, satu rumah bisa dihuni lima atau enam keluarga. Meski hidup berdesak-desakan, warga tetap betah. Padahal, air tanah yang disedot untuk kebutuhan rumah tangga berasa asin karena intrusi air laut. Urukan batu karang memperderas rembesan air laut. Warga memenuhi kebutuhan air bersih dengan menampung air hujan dan air sumur yang disuling.

Kawin-mawin

Wacana pemerintah merelokasi penduduk ke pulau-pulau lain yang belum terhuni disambut dingin oleh warga. "Sudah enak di sini. Ngumpul sama rumpun keluarga," ujar Lupus (46), warga setempat.

Warga pulau ini berasal dari berbagai suku, seperti Bugis, Makassar, Mandar, Jawa, dan Sunda. Mereka menyebut diri sebagai Orang Pulo. Lupus dan istrinya adalah warga keturunan Bugis yang sudah tiga generasi menghuni pulau ini.

Tidak diketahui secara pasti kapan pulau ini mulai dihuni. Penduduk setempat memercayai pulau ini adalah pulau berpenghuni pertama di gugusan Kepulauan Seribu.

Warga lantas menyebar ke pulau lain di sekitarnya, salah satunya adalah Pulau Pramuka. Pulau Pramuka, yang dulunya disebut Pulau Lang, kini, menjadi pusat pemerintahan di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Pulau ini berjarak sekitar 2 kilometer sebelah timur Pulau Panggang.

Kedua pulau ini terhubungkan kapal ojek yang berdurasi 20-30 menit. Anak-anak Pulau Panggang melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Pulau Pramuka.

Berdasarkan gambar yang dibuat pembuat peta VOC, Gerrit de Haan, sejak tahun 1761, Pulau Panggang sudah dihuni manusia. Seperti disebutkan dalam buku Orang Pulo di Pulau Karang, di bawah nama P Pangang (Panggang), terdapat tulisan 'bewoond yang artinya berpenduduk.

"Tinggal di sini kalau mau kerja keras sedikit gampang nyari duit, tinggal mancing ke laut, ikannya yang datang sendiri menyambar umpan," kata Euce (48), Orang Pulo yang membuka usaha sate gepuk, penganan khas, sejenis pepes ikan.

Ancaman

Mahariah, aktivis lingkungan di Pulau Panggang, yakin keberadaan terumbu karang sebagai sumber nafkah. Itu yang membuat warga menghuni pulau ini. "Karang adalah surga tempat ikan berpijah. Sayangnya, 'rumah' ikan ini terancam karena diguncang dan dihancurkan untuk reklamasi," katanya.

Keprihatinan guru SD ini sejalan dengan pandangan Tomas Tomascik, ahli kelautan dari Kanada. Tomascik dalam bukunya, The Ecology of the Indonesian Seas II (1997), menyebutkan, masalah krusial di perairan Kepulauan Seribu, di antaranya, eksploitasi berlebih seperti pemanfaatan karang dan perikanan, rekayasa pesisir (reklamasi), limbah, serta polusi.

Ancaman, kini, mulai tampak. Nurdin (60), juragan ikan di Pulau Panggang, mengatakan, dari tahun ke tahun, jumlah ikan yang bisa ia setor ke restoran di Jakarta terus menurun. Sekarang paling banyak 15 kantong kerapu per hari.

"Dulu pada 2007 masih bisa 40 kantong," kata Nurdin. Satu kantong ikan berisi 2-3 kilogram kerapu yang harganya Rp 280.000 per kilogram.

Menggiatkan transplantasi karang bersama warga dan dukungan CSR sejumlah perusahaan adalah solusi menunda kehancuran habitat ikan. Namun, menurut Ismail (41), aktivis konservasi karang, pertumbuhan karang yang dicangkok paling tinggi hanya 1 sentimeter per tahun.

Sungguh tak sebanding dengan laju eksploitasi....

Oleh Prasetyo Eko P/Nasrullah Nara

Sumber: Kompas | 24 Juni 2015

Berikan komentar.