TRP
Menanti Wajah Baru Pasar Rumput
22 Juni 2015 \\ \\ 692

Purwanti (52), pedagang makanan di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, tengah melayani pembelinya, Kamis (18/6). Di dekatnya, seorang anak berusia 6 tahun terlelap. Anak itu berbaring di atas kardus dan tumpukan pakaian. "Ini cucu saya," katanya sambil mengelus kepala bocah perempuan itu.

Kios yang disewa Rp 200.000 per bulan dan berukuran sekitar 3 meter persegi itu difungsikan juga sebagai tempat tinggal Purwanti dan keluarganya. Di dalam kios ada meja tripleks untuk meletakkan dagangan nasi, lauk, pauk, dan sayuran. Ada pula televisi berukuran 14 inci. Di atas kios, Purwanti menjemur baju dan celana.

Purwanti sudah tinggal di kawasan Pasar Rumput itu selama puluhan tahun sejak ia dan orangtuanya meninggalkan daerah asal di Bantul, Yogyakarta, untuk mengadu nasib di Ibu Kota, 50 tahun silam.

Empat dari lima anaknya kini sudah dewasa dan memilih tinggal di tempat lain. Selain bersama salah satu cucunya, kini Purwanti tinggal dengan suami dan anak bungsunya di Pasar Rumput. Mereka biasa tidur di mana saja, di dalam los sayur, di atas tangga, atau di emperan lorong pasar.

Nur (40), pedagang lain di Pasar Rumput, mengatakan, penghasilannya sebagai penjual makanan tak mencukupi untuk sewa rumah. "Saya sudah 20 tahun tinggal di sini," kata ibu lima anak itu.

Nur sadar Pasar Rumput bukan lokasi ideal untuk tempat tinggal keluarganya. Kondisi pasar yang dibangun tahun 1974 itu tak layak huni. "Saya tak tahu harus pindah ke mana lagi. Saya tak punya biaya sewa kontrakan," kata Nur.

Nur dan Purwanti, serta orang-orang lain yang tinggal di pasar itu kini mempertanyakan masa depan mereka jika kawasan Pasar Rumput jadi dirombak dan dibangun ulang.

Strategis tetapi kumuh

Edo, Kepala Pasar Rumput, mengatakan, pasar akan diperbaiki dan dibangun menjadi 24 lantai. Selain dipakai untuk pasar modern, pasar juga akan difungsikan sebagai rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Oleh sebab itu, sebanyak 1.500 pedagang harus direlokasi sementara. "Saya belum tahu kapan," tutur Edo.

Menurut rencana, lantai 1 dan lantai 2 gedung baru nanti tetap akan difungsikan sebagai pasar, sedangkan lantai 3 dipakai untuk ruang publik. Di lantai 4-24 akan dijadikan rusunawa.

Sesuai data PD Pasar Jaya, Pasar Rumput dibangun sekitar tahun 1970 dengan 1.782 kios. Pasar berdiri di lahan seluas 22.740 meter persegi di tepi Jalan Sultan Agung, penghubung antara Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat.

Pasar Rumput berada di lokasi yang sangat strategis, tetapi kini kondisinya amat memprihatinkan. Atap pasar ini bolong- bolong, keramik lantai pecah-pecah, tangga berkarat, dan dinding kios retak. Di lantai atas, berserak sampah berbau menyengat.

Bangunan tiga lantai itu pernah terbakar pada 2014. Bekas- bekas kebakaran masih terlihat di tiang-tiang beton di lantai 3, dibiarkan begitu saja tanpa ada perbaikan. Sejumlah kios di lantai 2 difungsikan menjadi diskotek, kelab malam, panti pijat, dan salon.

Simpul TOD

Pasar Rumput merupakan salah satu simpul pengembangan kawasan terpadu yang terintegrasi angkutan massal (transit oriented development/TOD) di Manggarai. Fungsi utama pasar ini nantinya adalah tempat hunian sekaligus pasar.

Lokasi Pasar Rumput memang agak jauh dari Stasiun Manggarai, yakni sekitar 1 kilometer. Namun, di depan pasar ini terdapat halte bus transjakarta yang bisa menghubungkan ke Terminal dan Stasiun Manggarai.

Rencana pengembangan Pasar Rumput ini ditargetkan bisa mengurangi persoalan akses hunian layak bagi warga berpenghasilan rendah di kawasan ini.

Kepala Seksi Perencanaan dan Evaluasi Suku Dinas Penataan Kota Jakarta Selatan Yanuar Yadi mengatakan, pihaknya menargetkan penghuni rusunawa Pasar Rumput adalah warga yang selama ini tinggal di bantaran Sungai Ciliwung.

Sekretaris Camat Tebet Muhammad Isa Sarnuri mendukung rencana penataan TOD Manggarai. Dia juga mendukung rencana relokasi warga bantaran Sungai Ciliwung ke rusunawa Pasar Rumput. Dia menyebutkan, normalisasi Sungai Ciliwung berdampak pada kehidupan sekitar 3.000 warga Kelurahan Bukit Duri yang tinggal di bantaran sungai.

Nur dan Purwanti pun tak tahu, apakah mereka kelak turut berhak tinggal di rusunawa itu. (DENTY PIAWAI NASTITIE)

Sumber: Kompas | 22 Juni 2015

Berikan komentar.