TRP
Dampak Tol Cipali, Cirebon Perlu Berbenah
22 Juni 2015 \\ \\ 785

CIREBON — Kota dan Kabupaten Cirebon di Jawa Barat harus cepat berbenah seiring dengan beroperasinya Jalan Tol Cikopo-Palimanan. Potensi pariwisata, perdagangan, dan jasa harus dimunculkan. Jika tidak, Cirebon akan sekadar jadi kota pelintasan yang tidak disinggahi wisatawan ataupun pebisnis.

Imam Reza Hakiki, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Cirebon, Minggu (21/6), di Cirebon, mengatakan, pengoperasian Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) membuat waktu tempuh dari Jakarta atau Bandung hanya sekitar 2,5 jam. Namun, hal itu bisa menjadi bumerang jika Cirebon tidak mengembangkan daya tarik wisata. Orang akan mudah pulang dalam sehari dan tidak menginap di Cirebon. Bisnis hotel dan restoran akan rugi besar," kata Reza.

Kalangan pengusaha hotel di Cirebon beberapa waktu terakhir ini resah karena okupansi hotel relatif rendah jika dibandingkan dengan banyaknya tempat penginapan serta hotel berbintang dan kelas melati di kota tersebut. Dalam sehari, Cirebon harus dikunjungi 1.500-2.000 pengunjung yang menginap di kota pesisir itu untuk membuat usaha pariwisata, khususnya hotel bisa tetap hidup sehat. Saat ini tercatat lebih dari 50 hotel besar dan kecil di Cirebon.

"Ada sekitar 30 hotel besar di Cirebon, mulai dari bintang tiga sampai bintang lima. Hotel-hotel itu perlu tamu semua dengan biaya operasional yang tidak sedikit. Dibangunnya Tol Cipali adalah kesempatan sekaligus bisa jadi hambatan bagi usaha hotel. Sebab, bukan tak mungkin orang dalam sehari bisa pergi-pulang ke Cirebon sehingga tak perlu menginap," ujarnya.

Saat ini kawasan wisata di Kota dan Kabupaten Cirebon belum terkelola baik. Potensi seni budaya dan kekuatan keraton pun relatif masih lemah dan belum mampu diberdayakan dengan optimal oleh pemerintah daerah setempat. Contohnya Makam Sunan Gunung Jati di Kabupaten Cirebon, yang tidak hanya situs sejarah, tetapi juga situs religi yang berkelas nasional. Para turis dan peziarah dari sejumlah daerah datang ke makam itu Namun, kawasan ini kumuh dan dipenuhi pengemis.

Reza berharap Cirebon tidak lantas jatuh menjadi seperti Cianjur, yang kemudian usaha pariwisatanya mati setelah Tol Cipularang dibangun pada 2005. Pembangunan tol itu membuat perjalanan Bandung-Jakarta tidak lagi harus melalui jalur utama Kota Cianjur-Bandung.

Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat menyatakan saat ini yang diperlukan ialah dukungan pemda untuk mengelola potensi. "Kami, pihak keraton, siap menjadikan Cirebon sebagai kota wisata. Ada tiga keraton dan penampilan seni-budaya yang bisa dikemas untuk keperluan pariwisata yang lebih baik. Baru-baru ini, kami bekerja sama dengan Asosiasi Biro Perjalanan Asia Pasifik. Setiap kunjungan turis ke Jabar yang memakai jasa travel anggota asosiasi itu akan singgah di Cirebon, utamanya untuk berjalan-jalan ke keraton," ujarnya.

Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis menyadari dampak pembangunan Tol Cipali terhadap perkembangan kota. "Cirebon menjadi kota wisata adalah salah satu fokus kami. Pembenahan kota tua dalam waktu dekat akan dilakukan. Cepat atau lambat wisatawan akan datang ke Cirebon, terlebih didukung infrastruktur. Tak hanya wisatawan, investor pun akan ke Cirebon," ujarnya. (REK)

Sumber: Kompas | 22 Juni 2015

Berikan komentar.