TRP
Hentikan Cara-cara Merusak
22 Juni 2015 \\ \\ 585

Kerusakan mangrove dan pembangunan infrastruktur bisa berdampak abrasi pada wilayah pesisir dan pantai. Pembangunan pemecah ombak dan tanggul yang bertujuan baik pun bisa memperparah kerusakan tersebut. Untuk itu, perlu ada survei komprehensif dan penerapan konstruksi "hijau".

Survei Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 20 tahun lalu menunjukkan, sekitar 70 persen lingkungan pantai rusak. Kerusakan berupa abrasi pantai bukan hanya karena hutan mangrove hilang, melainkan terumbu karang hancur.

Abrasi di antaranya di sepanjang pantai Sumatera Barat, Bengkulu, timur Lampung, utara Jawa, selatan Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan pantai Sulawesi Utara. "Kerusakan di pantura Jawa terparah," ujar Subandono Diposaptono, Direktur Tata Ruang Laut, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan. Di Indramayu, pantai terabrasi lebih dari 2.000 hektar tersebar di 7 kecamatan. Tingkat abrasi 10 meter per tahun.

Kerusakan lingkungan pantai sebagian besar karena manusia. Pembangunan infrastruktur pantai, seperti dermaga, jeti, dan pelabuhan, memperparah kerusakan. Pembangun tanggul, bendungan, dan pemecah ombak pun tak mampu meredam penggerusan pasir pantai tersebut.

Penelitian Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menunjukkan, desain pelabuhan dan pembangunan di pantai tergolong gagal. Keberadaannya menimbulkan kerusakan wilayah pantai.

Di Jember, Jawa Timur, ratusan nelayan menuntut perombakan pemecah ombak di Plawangan yang menimbulkan pendangkalan dan pusaran air laut. Bahkan, keberadaan bangunan tak ramah lingkungan itu dilaporkan menelan korban jiwa karena kapal mereka pecah terempas di konstruksi pemecah ombak tersebut.

Protes juga terjadi di Sanur yang termasuk 10 besar wisata selancar dunia. Masyarakat lokal pernah menolak pembangunan peredam gelombang berbentuk T atau tipe jeti. Keberadaannya mengganggu para peselancar. Selain itu, lokasinya di dekat pantai dan di atas permukaan mengurangi keindahan daerah wisata tersebut.

Pola alaminya, sedimentasi dan perpindahan pasir di pantai yang terbawa air laut berada dalam keseimbangan. Pola pergerakan air laut itu dipengaruhi angin yang berembus paralel ke pantai dan efek coriolis. Namun, apabila terusik dan berubah karena terhalang, pola hidrodinamika pun berubah.

Penggalian karang atau pasir pantai, misalnya, akan memicu perubahan batimetri, pola arus, pola gelombang, dan erosi. Bangunan pantai yang menjorok ke laut, seperti pemecah ombak, groin (bangunan yang menjorok ke laut untuk menahan gerak sedimen sepanjang pantai), dan jeti, dapat mengurangi, bahkan menghentikan perpindahan sedimen pasir sejajar pantai.

Penumpukan sedimen di satu sisi bangunan mengubah keseimbangan arus hidrodinamika laut sehingga menyebabkan abrasi di sisi lain. Erosi karena arus pusaran, yang disebabkan bangunan tembok laut itu.

Solusi ramah lingkungan

Lalu, solusi apa yang tepat? Dikatakan Subandono, penanganan perlindungan kawasan pesisir terhadap erosi pantai masih banyak menggunakan pendekatan "keras", yakni membuat pelindung pantai tidak estetis dan ekologis.

Penanganannya juga sporadis, parsial, dan kurang komprehensif. "Cara demikian menimbulkan masalah baru. Hanya memindahkan lokasi erosi dari tempat terlindungi ke lokasi sekitarnya yang kurang diperhatikan. Dengan demikian, abrasi tak pernah tuntas," ujar pakar teknik pantai itu.

Keberadaan tembok laut menimbulkan refleksi yang menambah tinggi gelombang datang hingga dua kali dan dapat terjadi gelombang tegak. Akibatnya, di depan struktur itu justru terjadi gerusan yang dapat menggerus sekeliling struktur.

Meredam abrasi harus menyeluruh dan komprehensif dengan pendekatan sel pantai (untuk menghitung sedimen). Pantai semestinya dikarakteristikkan sebagai masukan, perpindahan, penyimpanan, dan pengurangan sedimen.

Konsep itu mengidentifikasi, sistem pantai terdiri atas sejumlah unit terkait banyak proses perpindahan dalam skala ruang dan waktu berbeda. Alternatif proteksi juga harus diseleksi sesuai aspek teknis, ekonomi, lingkungan, estetika, dan sosial.

Aspek teknis meliputi kemampuan mereduksi transpor sedimen sejajar pantai, mereduksi transpor sedimen tegak lurus pantai, dan perubahan morfologi skala besar.

Belajar dari kegagalan masa lalu, perlu dikembangkan konsep penanganan permasalahan pesisir lebih "lunak" dan ramah lingkungan. Beberapa cara pendekatan "lunak", meliputi peremajaan pantai, pembentukan dune, peremajaan dan restorasi mangrove, rehabilitasi koral, terumbu karang buatan, serta pengelolaan kawasan pantai secara terpadu. Strategi ini lebih murah, aman, dan ampuh dalam mengatasi erosi pantai.

Cara restorasi dengan peremajaan pantai, misalnya, alternatif yang cukup dikenal. Proses ini meliputi pengambilan material dari tempat yang tidak membahayakan dan diisikan ke tempat yang membutuhkan.

Menurut Widjo Kongko, Kepala Seksi Uji Komputasi BPDP BPPT, untuk mengetahui pola arus ada perangkat lunak komputasi untuk simulasi. Dengan itu, diketahui daerah yang akan terabrasi dan tersedimentasi.

Belakangan, penghalang ombak ramah lingkungan mulai dikenalkan berupa ranting kayu yang dianyam atau ditumpuk sebagai perangkap sedimen. Demplot uji coba penghalang ombak ini dilaksanakan Balitbang Kelautan dan Perikanan tahun 2014 di pesisir Demak. Keberadaan ranting itu mampu memerangkap sedimen.

Di Sulawesi Utara, lembaran keset dari sabut kelapa dihamparkan untuk menahan pasir. Pemasangan itu bisa dipadukan penanaman vetiveria (akar wangi). "Itu digunakan Brasil, Banglades, dan Thailand," kata Widjo, pakar teknik sipil dan teknik pantai, serta tsunami. Oleh YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas | 20 Juni 2015

Berikan komentar.