TRP
Hutan Harapan Dibakar
18 Juni 2015 \\ \\ 377

Perambah Perluas Areal untuk Permukiman Baru

BATANGHARI — Perambahan liar kian mengancam kelestarian kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan di perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan. Bukan hanya untuk membuka kebun, para perambah terorganisasi belakangan memperluas areal untuk permukiman baru.

Pemantauan pada Rabu (17/6) menunjukkan, di bagian timur hutan itu di wilayah Sungai Lalan, Kabupaten Musi Banyasin, Sumatera Selatan, hamparan seluas hampir 5 hektar baru selesai dibakar perambah. Satu papan dipasang, bertuliskan: Lokasi Perumahan Kebun Baru.

Namun, Kompas yang tiba bersama tim patroli Hutan Harapan, Rabu, tidak mendapati pelaku di lokasi. "Setelah membakar areal ini, mereka biasanya lari agar tidak terlacak tim," ujar Anderi Satya, Asisten Komunikasi PT Restorasi Ekosistem, selaku pengelola Hutan Harapan.

Pihaknya masih menelusuri pelaku pembukaan hutan. Namun, kata Anderi, surat berisi laporan adanya ancaman pembangunan permukiman dalam Hutan Harapan telah dikirimkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Warga Bathin IX yang merupakan warga suku asli yang tinggal dalam Hutan Harapan selama turun temurun, Mat Munce, mengatakan, dia dan sejumlah penduduk asli yang sedang melewati wilayah itu pada pekan lalu mendapati kedatangan puluhan pendatang menggunakan sepeda motor. Mereka membawa parang panjang untuk membersihkan semak dan menebang pohon di sekitar lokasi.

Para perambah itu juga memasang puluhan papan yang teridentifikasi untuk pengaplingan lahan. Namun, warga lokal langsung mencabuti kembali papan-papan tersebut.

PT Restorasi Ekosistem memetakan perambahan dan pembalakan dalam Hutan Harapan telah meluas hingga 20.000 hektar atau 20 persen dari total konsesi restorasi ekosistem hutan itu seluas 98.000 hektar.

Ancaman perusakan

Sebagai hutan pertama di Indonesia yang ditetapkan sebagai hutan restorasi, dengan tujuan memulihkan ekosistem hutan setempat, dalam perjalanannya, ancaman perusakan terus membayangi pengelolaan Hutan Harapan sejak 2007.

Kelompok-kelompok besar perambah memperjualbelikan hutan kepada pendatang dari Sumatera Utara, Lampung, serta sejumlah daerah di Provinsi Jambi. Mereka menjual tanah kepada pendatang dengan harga sekitar Rp 5 juta per kapling (2 hektar). Para pendatang lalu membuka menjadi kebun sawit. Perambah bahkan membangun infrastruktur dan prasarana umum. Pembukaan kawasan permukiman mulai marak dalam kawasan ini sejak 2011.

Menurut Mat Munce, kehadiran para perambah sudah sangat meresahkan masyarakat Bathin IX. Selama ini kelompok Bathin IX menggantungkan sumber penghidupan dari hasil hutan berupa rotan, damar, madu, ikan, dan binatang buruan. Di lokasi perambahan yang baru dibakar di Sungai Lalan, kata Mat Munce, juga merupakan salah satu lokasi utama satwa buruan mereka.

Peneliti Satwa Air dari Universitas Jambi, Tedjo Sukmono, mengatakan, pembakaran hutan dan pembukaan permukiman di Hutan Harapan mengancam kelestarian hidup satwa kunci Sumatera dan satwa air. Dosen yang selama dua tahun melaksanakan penelitian di Hutan Harapan itu mendapati jejak-jejak harimau sumatera, tapir, dan beruang di sekitar Sungai Lalan. Ditemukan pula sejumlah biota air.

Kebakaran hutan

Dari Temanggung, Jawa Tengah, dilaporkan, kebakaran terjadi di kawasan hutan Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Kwadungan, Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Temanggung, Rabu. Api mulai terlihat sejak sekitar pukul 09.00 WIB dan belum tuntas dipadamkan pada Rabu sore.

Kepala BKPH Temanggung Cahyono mengatakan, hingga pukul 15.00, pihaknya baru mampu memadamkan sebagian areal terbakar seluas 4,5 hektar di sisi timur Gunung Sindoro.

Kebakaran terjadi di kawasan lereng Gunung Sindoro, pada ketinggian 1.700-1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Jenis tanaman yang terbakar adalah semak belukar dan rumput ilalang. Api, menurut Cahyono, diduga berasal dari aktivitas pembuatan arang. (ita/egi)

Sumber: Kompas | 18 Juni 2015

Berikan komentar.