TRP
Taman Raya atau Lubang Duka
18 Juni 2015 \\ \\ 359

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar berulang kali menceritakan bahaya lubang tambang, yang di Kalimantan memakan korban jiwa. Pelanggaran ketentuan merehabilitasi lahan tambang seperti hal biasa. Pengalaman berbeda ditemui sejumlah awak media saat mengunjungi wilayah kerja PT Vale Indonesia Tbk di Soroako, Kabupaten Luwu Timur, akhir Mei 2015.

Hari Ananto dari bagian Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) menegaskan, PT Vale Indonesia Tbk (PT VI) berkomitmen mewujudkan tambang ramah lingkungan. Lubang tambang ditutup lagi, di atasnya dilakukan penghijauan.

Menurut Manajer Mines Production and Cost Control, Primus Priyanto, penambangan dilakukan dengan sistem backfilling. "Lapisan tanah pucuk-lapisan teratas-dan overburden, lapisan di atas lapisan yang ditambang, yang dikupas dari satu area digunakan lagi untuk menimbun lahan purnatambang di area lain," ujar dia di lokasi tambang di Blok Barat, Peteya, Selasa (26/5).

Mengitari lokasi tambang sistem tambang terbuka itu, di pinggir jalur yang dilalui kendaraan, bertumpuk tanah-tanah coklat galian setinggi bus. Area tambang kecoklatan nan gersang itu, di sana-sini diselingi bukit-bukit menghijau. Sebagian tampak baru ditanami tumbuhan sebangsa cemara setinggi 1,5 meter, sebagian lagi cukup rimbun dengan pohon dua meter.

Tiba di areal pengupasan tanah, truk-truk pembawa tanah dan alat berat pengeruk tebing tanah berseliweran. Truk-truk pembawa tangki air berlalu lalang menyiram jalur jalan tambang berdebu. Debu itu diminimalisasi siraman ribuan galon air yang diambil dari danau.

Penimbunan mempertimbangkan kestabilan menghindari longsor. "Kami maksimal mengembalikan ke bentuk awal dengan lereng berkemiringan satu (jarak horizontal) dibanding tiga (vertikal/ketinggian)," tambahnya. Sekali menambang, luasan maksimum yang ditambang bersamaan, sekitar 1.100 hektar.

Luas lahan yang direklamasi, hingga tahun 2014, mencapai 3.976 hektar dari luas lahan yang ditambang hingga 2014 seluas 4.973 ha. Sisa luasan masih jadi areal pertambangan aktif dan untuk pendukung operasional.

Tanaman lokal

Untuk mendukung program penghijauan kembali lahan bekas tambang, sejak April 2006, area pembibitan 2,5 hektar dibangun di Sorowako. Tempat pembibitan itu membiakkan sekitar 200 jenis tanaman, 53 di antaranya tanaman lokal, antara lain pohon eboni (Macassar ebony), kayu hitam (Diospyros celebica), gaharu (Aquilaria malaccensis), balam (Palaqium spp), tengkawang (Shorea tengkawang), dan cemara (Casuarina equisetifolia), yang bisa menahan longsor. "Juga ada mangga hutan, manggis hutan, dan berbagai buah lainnya," tutur supervisor nursery, Erlin Harry.

Area itu dilengkapi rumah pembibitan, sistem penyemprotan uap air, dan penyiraman otomatis. Dalam satu siklus pembibitan bisa dibibit sekitar 300.000 bibit. Di sana juga terdapat pembibitan sistem hidroponik, serta pembuatan pupuk hayati mikoriza dengan kapasitas produksi 2 ton per tahun.

Menurut Erlin, mereka mampu menanami lahan maksimal 110 ha per tahun. "Tahun ini kami rencanakan menanami 77,24 hektar, dilakukan bertahap," ujar Erlin. Luas tergantung dari kondisi iklim dan cuaca. Kapasitas pembibitan 700.000 bibit. Fasilitas pembibitan dimiliki PT VI sejak mendapat kontrak karya pertama kali, Juli 1968.

Taman raya

Perusahaan yang lebih dari separuh sahamnya dikuasai Vale Canada Limited, itu kini ada mimpi besar. Di areal yang sekarang lokasi pembibitan akan dibangun taman raya, lengkap dengan beberapa jenis hewan.

"Kami mulai membangun taman raya. Menurut rencana bisa selesai lima tahun ke depan," ujar Erlin. Luas taman raya yang bakal dinamai Taman Raya Wallacea Sawerigading itu, sekitar 110 hektar. "Tahun 1968 dulu juga areal tambang," ujar Erlin.

Lokasi pembibitan bersebelahan dengan area hutan kecil rimbun pepohonan setinggi lebih dari 5 meter. Di dalam lokasi pembibitan terdapat kandang rusa dengan beberapa ekor rusa di dalamnya. Untuk mewujudkan taman raya disediakan dana Rp 32 miliar.

Jika pembangunan taman raya itu terwujud, bisa menginspirasi perusahaan tambang lain. Adalah kewajiban pemerintah menegaskan: perusahaan mematuhi regulasi. Tanpa ketegasan dan integritas, lubang-lubang bekas tambang menanti waktu memakan korban lagi. Lubang tangis dan duka. Oleh brigitta isworo

Sumber: Kompas | 16 Juni 2015

Berikan komentar.