TRP
Perbatasan Dinilai Belum Prioritas
17 Juni 2015 \\ \\ 474

PONTIANAK — Daerah perbatasan Indonesia dengan Malaysia di Kalimantan Barat memiliki potensi ekonomi yang besar, baik sumber daya alam maupun perdagangan. Namun potensi itu belum dioptimalkan, karena pemerintah pusat dinilai belum menjadikan pembangunan di perbatasan menjadi prioritas. Bahkan belum ada perbaikan dalam infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia.

Munsin, Kepala Badan Pembangunan Perbatasan dan Daerah Tertinggal Kalimantan Barat dalam workshop "Mewujudkan Sinergitas Pembangunan dan Pemberdayaan Kawasan Wilayah Perbatasan Kalbar Menuju Masyarakat yang Adil dan Sejahtera", Senin (15//6), di Pontianak, mengatakan, pada 2013 potensi perdagangan di perbatasan di Entikong, Kabupaten Sanggau; dan Jagoi Babang, Kabupaten Sambas, mencapai 178.000 dollar AS. Jumlah itu lebih besar dari impor hanya 80.000 dollar AS. Belum lagi potensi lain.

Namun, potensi yang ada belum dioptimalkan. Pembangunan infrastruktur pun belum direalisasikan hingga saat ini. Pemerintah belum menjadikan perbatasan sebagai prioritas pembangunan, karena masih mengutamakan pembangunan di Pulau Jawa termasuk Jakarta dan sekitarnya.

Munsin mengatakan, pemerintah pusat berencana menjalankan program transmigrasi di daerah-daerah di perbatasan.

John Bamba, Ketua Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih dan juga Ketua Perkumpulan Institut Dayakologi dalam kesempatan itu menuturkan, perbatasan dapat dikatakan daerah yang spesial karena memiliki masalah khusus. Masalah itu, antara lain masyarakatnya yang marjinal karena minimnya pembangunan dan rawan kejahatan lintas negara, misalnya perdagangan manusia. Untuk itulah perlu perbaikan dalam pembangunan.

Beka Ulung Hapsara, Manajer Advokasi INFID menuturkan, pemerintah sudah memiliki sasaran pengembangan kawasan perbatasan. Pengembangan pusat ekonomi perbatasan pada tahun 2014 terdapat 111 lokasi prioritas sasaran, sedangkan pada tahun 2019 terdapat 187 lokasi prioritas. (esa)

Sumber: Kompas | 17 Juni 2015

Artikel Terkait.
Berikan komentar.