TRP
Lahan Waduk Masih Kurang
16 Juni 2015 \\ \\ 769

Solusi Banjir di Kelapa Gading Belum Optimal

JAKARTA — Waduk Kelapa Gading yang diproyeksi bisa menjadi salah satu solusi banjir mulai dibangun sejak Mei lalu. Namun, dengan luas 3,8 hektar, daya tampung waduk belum sepadan dengan luapan air akibat masifnya bangunan permanen di kawasan seluas 1.500 hektar itu.

Bangunan yang dimaksud antara lain gedung perkantoran, apartemen, kompleks perumahan, dan pusat perbelanjaan.

Kepala Bidang Sungai dan Pantai Sistem Aliran Timur Dinas Tata Air Provinsi DKI Jakarta Monang Ritonga mengatakan, pembangunan waduk di kawasan Kelapa Gading sangat dibutuhkan mengingat terbatasnya area resapan air. Kelak waduk ini berkedalaman 5-7 meter.

"Namun, kapasitas waduk itu masih minim jika dibandingkan dengan padatnya bangunan. Saat musim hujan volume air tentu tidak tertampung," kata Monang di Jakarta, Senin (15/6).

Lahan waduk, katanya, bisa ditambah jika pengembang yang memiliki lahan di sekitar waduk mau menyetujui pembebasan lahan. Pemerintah siap melakukan appraisal harga di lahan seluas 6 hektar milik salah satu pengembang tersebut. Namun, hingga kini belum ada keputusan akhir terkait pembebasan lahan itu.

Senin pagi, sejumlah pekerja mengeruk lahan waduk yang berada di RW 013, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Lima alat berat mengeruk lumpur dan meratakan sisa bangunan.

Pada tiga bulan pertama ini, pengerjaan waduk hanya dilakukan di lahan seluas 1,8 hektar. Sebab, 70 bangunan masih berada di sisa lahan yang ada. Hingga saat ini, Pemerintah Kota Jakarta Utara terus mengusahakan agar pengosongan lahan cepat dilakukan.

Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi menuturkan, pihaknya mengusahakan agar pengosongan lahan bisa segera diselesaikan. Dengan begitu, pengerjaan di lahan seluas 2 hektar lainnya juga bisa segera dimulai. "Kami ingin waduk tersebut rampung hingga akhir tahun," kata Rustam.

Banjir di kawasan Kelapa Gading rutin terjadi. Selama ini tampungan air hanya mengandalkan Danau Sunter yang berada sekitar 1 kilometer dari letak waduk yang sedang dibangun ini. Berdasarkan Data Pemkot Jakarta Utara, kawasan Kelapa Gading hanya memiliki dua tampungan air yang luasnya masing-masing tidak lebih dari 1 hektar.

Sementara itu, pengerukan saluran air di Jalan Pulo Raya, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, belum dimulai. Sebuah alat berat yang akan dipakai untuk mengeruk sedimentasi masih berada di badan jalan. Lokasinya tidak jauh dari saluran air yang penuh lumpur dan sampah.

Tangguh Pribadi, petugas Pintu Air Pompa Saringan Pulo Raya, mengatakan, petugas belum mengoperasikan alat berat karena masih menunggu truk sampah datang. "Percuma kalau sudah dikeruk tetapi tidak ada alat yang bisa dipakai untuk mengangkut sampah," katanya.

Alat pengeruk sampah

Tangguh menjelaskan, alat berat pengeruk sampah sudah datang sejak hari Minggu malam. Menurut rencana, pekan ini alat mulai dioperasikan. Sampah dan lumpur lalu akan dibawa ke tempat pembuangan akhir.

Kepala Suku Dinas Tata Air Jakarta Selatan Deddy Budiwidodo mengatakan, pengerukan saluran air dan waduk menjadi agenda prioritas. Selain di saluran air Pulo Raya, pengerukan juga akan dilakukan di Waduk Rawa Lindung, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Kondisi waduk dipenuhi sedimentasi lumpur. "Dari tepi waduk terlihatnya waduk terisi air. Padahal, di dalam banyak lumpur," ujarnya.

Menurut Deddy, pengerukan relatif lebih mudah dilakukan karena pihaknya sudah memiliki alat-alat yang dibutuhkan. "Kalau pembangunan, kami masih harus menunggu proses lelang," katanya. (JAL/DNA)

Sumber: Kompas | 16 Juni 2015

Berikan komentar.