TRP
Antara Tuntutan Pembangunan dan "Jantung" Lingkungan
16 Juni 2015 \\ \\ 402

Menjelajahi sebagian kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, seperti memasuki hutan rimba di Papua atau Kalimantan. Begitu banyak jenis tumbuhan, hewan, dan sejumlah sumber mata air yang mudah ditemui. Kawasan itu menjadi jantung kehidupan masyarakat Pulau Sumba. Sebagian besar adalah lahan padang ilalang.

Taman nasional Manupeu Tanah Daru (MPTD) berdampingan dengan Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti di Sumba Timur. Dua taman nasional dengan 22.241 hektar itu menjadi kebanggaan masyarakat Sumba. Karena berstatus taman nasional, dua kawasan itu aman dari pembalakan liar, pembukaan lahan, dan permukiman.

Sekretaris Dinas Kehutanan, Pertanian dan Perkebunan Sumba Tengah, Martinus Umbu Joka, di Waibakul, Sabtu (14/3), mengatakan, yang menjadi persoalan adalah kawasan TN MPTD. Hampir 60 persen kawasan itu termasuk wilayah Kabupaten Sumba Tengah. Kini, Pemkab Sumba Tengah mengeluarkan sekitar 40.000 hektar dari total luas 87.984,09 hektar MPTD. Wilayah ini penggabungan dari beberapa kawasan, yakni hutan lindung Praimamongutidas, hutan produksi terbatas Praingpalindi-Tanah Daru, dan cagar alam Langgaliru.

"Lahan seluas 40.000 hektar itu merupakan kawasan permukiman penduduk, pemakaman umum, lahan pertanian, dan kawasan padang ilalang. Kalau pemerintah pusat tidak mengabulkan usulan itu, pembangunan Sumba Tengah tidak bisa dijalankan karena kawasan 1.121 kilometer persegi dari total 1.868,7 kilometer persegi luas Sumba Tengah atau 60 persen, masuk taman nasional itu," kata Joka.

Perlakuan pengelola TN MPTD dinilai berlebihan. Sebatang kayu, sehelai daun, dan seutas tali hutan di dalam kawasan itu tidak boleh diambil, meskipun pohon sudah tumbang atau jatuh di tanah. Pemda yang ingin membangun jalan dari Waibakul, ibu kota kabupaten, menuju pantai pun dilarang.

Penggalian tanah untuk penancapan tiang listrik di sepanjang ruas Trans-Sumba juga dilarang. Bahkan kabel telepon dan listrik tidak boleh melewati ruas jalan itu, karena dinilai bersentuhan dengan ranting pohon atau kayu-kayu sekitar.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Wilayah Sumba Tengah, Umbu Manurara, menyatakan sangat mendukung lingkungan yang asri, lestari, dan berkesinambungan. Namun, dia tidak suka dengan kontrol dan pengawasan yang ketat terkait kegiatan masyarakat adat di sekitar kawasan TNMPTD.

"Kami ini masyarakat adat, penjaga hutan, dan tinggal di sekitar hutan. Sejak nenek moyang, kami bangun rumah dari kayu, rumput ilalang, dan tali-tali hutan. Sekarang, kami dilarang masuk hutan, apalagi mengambil kayu, rumput ilalang, dan tali-tali hutan untuk membangun rumah. Masyarakat sangat kecewa," kata Manurara.

Ungkapan kekecewaan

Kasus penjarahan hutan di kawasan MPTD seluas 250 hektar tahun 2014 merupakan ungkapan kekecewaan masyarakat. Meskipun saat ini pihak TN membangun pagar kawat keliling sebagian kawasan, itu tidak menghalangi pencurian kayu.

Kawasan hutan masyarakat adat seluas 1.000 hektar harus dikembalikan kepada masyarakat adat. Masyarakat paham bagaimana mengelola hutan itu. Selama wilayah itu tetap dinilai kawasan TN, masyarakat tetap melakukan penjarahan.

Ketika Kompas memasuki TNMPTD, 14 Maret lalu, beberapa jenis batang pohon berdiameter hingga tujuh meter, dan dirangkul 20 tangan orang dewasa untuk melingkari batang itu. Ada batang pohon dengan kulit luar keputihan, lurus, dan memiliki cabang setelah sekitar 50 meter. Ada pula batang pohon berwarna coklat kehitaman, berwarna mirip kulit harimau, kulit kerbau, berbagai jenis tanaman anggrek hutan, rotan, dan berbagai jenis bambu.

Kawasan itu mirip rimba di Papua atau Kalimantan. Suasana sekitar tampak gelap oleh rerimbunan pohon, dengan ketinggian sampai 150 meter. Sebagian pohon tampak tumbang dan dibiarkan tergeletak. Berbagai jenis kayu, termasuk kayu bertali saling membelit, menjulang tinggi sampai puluhan meter.

Sekelompok monyet ekor panjang berteriak di sepanjang hutan yang dilalui. Sejumlah burung khas Sumba bertengger di pohon-pohon itu, bernyanyi dan melompat dari satu dahan ke dahan lain. Berbagai jenis semut dari yang berbahaya sampai jinak membuat sarang dari tanah, bertengger di dedaunan, batang kayu, dan di dalam lubang batu. Bekas kaki babi hutan mirip bekas kaki gerombolan sapi, dijumpai di sepanjang perjalanan. Demikian pula lintah.

Choki Deddy, warga Dusun Hubha Madha, yang tinggal sekitar 200 meter di luar kawasan TNMPTD, mengingatkan agar bekas kaki yang digigit lintah segera diolesi dengan air daun sirih hutan yang bertengger di mana-mana di dalam kawasan itu. Hal ini dilakukan agar darah tidak terus mengucur.

"Lintah-lintah ini jika ditaburi dengan kapur sirih pinang, langsung mati atau mengering. Jika tidak, dia bertahan hidup cukup lama, apalagi kalau sudah kenyang dengan darah manusia," kata Deddy.

Kepala Balai TNMPTD, Rajendra, mengatakan, kawasan TNMPTD memiliki keanekaragaman bernilai tinggi yakni 118 jenis tumbuhan, di antaranya suren (Schleichera oleosa), pulai (Alstonia scholaris), cemara gunung (Casuarina sp), dan taduk (Sterculia foetida). Sebagian besar kawasan MPTD merupakan tebing-tebing terjal dengan ketinggian sampai 600 meter.

Di TNMPTD terdapat 87 jenis burung, termasuk tujuh jenis endemik Sumba, antara lain kakatua cempaka (Cacatua sulphurea citrinocristata), julang sumba (Rhyticeros everetti), punai sumba (Treron teysmannii), dan sikatan sumba (Ficedula harterti). Burung julang sumba dan kakatua sumba paling langka dan terancam punah di pulau itu. Julang sumba menjadi ikon Sumba Tengah. Terdapat pula 57 jenis kupu-kupu, tujuh di antaranya endemik Sumba.

"Mengenai kepentingan pembangunan di kawasan itu, sudah diatur dalam UU tentang taman nasional dan keputusan menteri. Kami bertindak sesuai ketentuan itu. Kegiatan ekowisata, juga ditangani pengelola taman bukan oleh pemkab," kata Rajendra. (KORNELIS KEWA AMA)

Sumber: Kompas | 15 Juni 2015

Berikan komentar.