TRP
Tantangan Hutan Lindung
16 Juni 2015 \\ \\ 424

Kota Pagar Alam mempunyai kondisi yang unik. Dari luas wilayah 63.366 hektar, sekitar 60 persen merupakan kawasan hutan lindung. Kondisi ini memberikan Pagar Alam kecantikan sekaligus sumber daya alam yang luar biasa, tetapi juga menciptakan tantangan dalam pembangunan kota. Kesetimbangan dalam menjaga kelestarian alam sembari tetap menjalankan pembangunan perlu selalu dijaga.

Dengan lingkungan yang masih lestari, udara Pagar Alam sejuk dan segar, karena minim polusi udara. Bumi Pagar Alam yang berbukit-bukit pun melimpah dengan sumber daya air. Bahkan, dikabarkan di lahan penduduk di kaki Gunung Dempo itu, mata air memancarkan jernih tanpa perlu digali lagi.

Ditemui di rumah dinasnya, beberapa saat lalu, Wali Kota Pagar Alam Ida Fitriati optimistis kota itu berpotensi menjadi pemasok air bersih untuk wilayah Sumatera Selatan pada 2025. Kecantikan alam juga diyakini sangat menjanjikan sebagai pariwisata pertanian (agro tourism) yang akan menggerakkan perekonomian rakyat di masa mendatang, selain bidang pertanian.

Perempuan Kepala Daerah pertama dan satu-satunya di Sumsel itu menegaskan, menjaga kelestarian alam merupakan prioritas. "Ini ada dalam semboyan kota, Pagar Alam Secerah Alam yang kependekan dari Pagar Alam sehat, cerdas dengan ekonomi kerakyatan tangguh dan akhlak mulia di alam yang baik," kata Ida, yang juga dokter itu.

Hambatan

Di sisi lain, sejumlah hambatan timbul, karena luasnya kawasan lindung, pembangunan fasilitas perkotaan berulang kali terkendala perizinan. Kendati tak pernah kekurangan air bersih, saat ini baru 11,9 persen warga yang tersentuh jaringan air bersih.

Hal ini karena Pemerintah Kota Pagar Alam kesulitan memperoleh izin pinjam pakai kawasan hutan untuk membangun saluran air yang bersumber dari hutan lindung. Kendala perizinan juga ditemui untuk merealisasikan saluran irigasi untuk sawah.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Pagar Alam Zaitun mengatakan, saluran irigasi itu dirancang untuk mengairi sawah seluas sekitar 3.000 hektar. Namun, izin pinjam pakai yang sudah diajukan dua tahun lalu belum diperoleh juga.

Dengan berbagai tantangan ini, potensi yang ada terus digali, terutama pariwisata yang berbasis alam. Pagar Alam sempat menjadi tuan rumah festival bunga yang menurut rencana digelar setiap dua tahun sekali sejak tahun 2009. Namun, karena kultur menanam bunga belum tumbuh di kota itu, sebagian besar bunga itu harus diimpor ke Pagar Alam.

Pagar Alam, kata Ida, juga potensial dikembangkan sebagai daerah wisata kesehatan. Lingkungan yang sehat dan indah diyakini menjadi faktor penting yang dapat menurunkan stres, sehingga mendukung kesembuhan pasien. "Saat ini kami sudah punya dokter ahli jantung dan pembuluh darah satu-satunya di Sumsel," katanya.

Kendati merupakan kota kecil, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Besemah patut dibanggakan. RSUD ini merupakan satu dari dua rumah sakit daerah yang tersambung dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dengan fasilitas konferensi jarak jauh juga dengan Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Dengan fasilitas bantuan Kementerian Kesehatan ini, kasus berat bisa dikonsultasikan dengan ahli di Jakarta. (IRE)

Sumber: Kompas | 15 Juni 2015

Berikan komentar.