TRP
Indramayu Jadi Pusat Mangrove Wilayah Barat
16 Juni 2015 \\ \\ 427

INDRAMAYU — Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan kawasan hutan mangrove Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sebagai sentra pengembangan mangrove di wilayah barat Indonesia. Kawasan itu juga akan dikembangkan menjadi daerah ekowisata.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengemukakan itu saat menghadiri acara Karangsong Mangrove Festival di Desa Karangsong, Indramayu, Minggu (14/6). Kegiatan itu merupakan kerja sama antara harian Kompas dan PT Pertamina (Persero). Dalam acara itu hadir pula General Manager Pertamina Refinery Unit VI Balongan Yulian Dekri, Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi, dan Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo.

Penetapan Karangsong sebagai pusat mangrove di wilayah barat melengkapi penetapan Bali sebagai pusat mangrove wilayah timur Indonesia, Februari lalu. Kegiatan di Bali merupakan kerja sama yang pertama Kompas dengan Pertamina dalam pengembangan dan kampanye pelestarian mangrove di Indonesia. Kerja sama itu ditindaklanjuti dengan kegiatan di Indramayu.

"Melihat potensi mangrove yang dimiliki Indramayu, tidak salah jika daerah ini ditetapkan sebagai sentra mangrove di wilayah barat. Dalam waktu dekat, saya akan meminta Ditjen DAS dan Hutan Lindung untuk mempersiapkan segalanya terkait penetapan tersebut, sebab 8.000 hektar dari total 12.000 hektar lahan mangrove di Karangsong ini termasuk ke dalam kawasan hutan lindung," ujar Siti.

Siti menyeberangi tepian pantai di Karangsong untuk menuju hutan mangrove yang sejak 2010 dikembangkan Pertamina bekerja sama dengan warga setempat.

Hutan mangrove Karangsong rimbun dengan ketinggian pohon sekitar empat meter. Berbagai jenis mangrove dikembangkan, antara lain pidada, api-api, dan berbagai jenis mangrove rhizopora. Menteri dan ratusan peserta pun menanam 1.000 bibit mangrove di Karangsong.

Siti menuturkan, mangrove memiliki peranan luar biasa dalam ekosistem pesisir. Tidak hanya mencegah abrasi, hutan mangrove juga menjadi tempat pemijahan ikan dan habitat alami bagi berbagai satwa lain.

Namun, 95 persen manfaat itu tidak ada gunanya jika mangrove tidak ditanam. Oleh karena itu, Siti mengapresiasi upaya Pertamina dan Kompas yang menyelenggarakan festival mangrove di Karangsong. Festival itu diharapkan kian mengenalkan manfaat dan peranan mangrove bagi warga pesisir, sehingga pelestarian dapat dioptimalkan.

"Beberapa hal perlu dilakukan untuk mendukung penetapan Karangsong sebagai pusat mangrove, antara lain sarana dan prasaran, termasuk akses dan infrastruktur lain. Ke depan, hal itu akan dibicarakan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat," ucap Siti.

Ia pun menyoroti banyaknya hutan mangrove yang rusak di Indonesia. Dari sekitar 1,3 miliar hektar hutan mangrove di dunia, sekitar 2 persen di antaranya di Indonesia. Dari jumlah itu, lebih dari separuhnya rusak.

Problem kerusakan hutan mangrove, menurut Siti, antara lain dipicu oleh sifat pembangunan masyarakat di Tanah Air yang berorientasi pada air atau water point. "Orang cenderung membangun di dekat sungai atau air, sehingga banyak permukiman didirikan di tempat itu. Hal itu turut memicu perusakan mangrove," katanya.

Rangkul komunitas

General Manager Pertamina Refinery Unit VI Balongan Yulian Dekri mengatakan, pihaknya mengembangkan hutan mangrove Karangsong sebagai kawasan ekowisata bekerja sama dengan Kelompok Pantai Lestari. "Komitmen itu mendapatkan apresiasi dalam Indonesian Green CSR Awards 2015," katanya.

Upaya pengembangan mangrove di Karangsong bermula dari tragedi kebocoran minyak Pertamina di Indramayu, tahun 2008. Wilayah Karangsong termasuk yang paling terdampak akibat pencemaran minyak tersebut. Sebagai bentuk tanggung jawab, PT Pertamina gencar melakukan penanaman dan konservasi terhadap mangrove di kawasan tersebut.

Beberapa kelompok masyarakat dirangkul, antara lain kelompok Jaka Kencana dan Kelompok Pantai Lestari. Saat ini, kedua kelompok itu masih giat menanam bibit mangrove, selain mengembangkan mangrove menjadi bahan olahan pangan.

Salah satunya seperti yang dilakukan Abdul Latif dengan kelompoknya, Jaka Kencana, yang beranggotakan sekitar 50 orang. Warga membuat sirup, kecap, tempe, cokelat, dan aneka keripik dari bahan dasar mangrove.

Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo menuturkan, saat ini media tidak cukup hanya menyampaikan informasi, kritik, dan masukan, tetapi juga perlu melakukan tindakan terhadap suatu persoalan. "Dalam konteks kampanye pelestarian mangrove ini, Kompas bekerja sama dengan Pertamina. Ini adalah seri kedua kerja sama kami dengan Pertamina setelah di Bali," katanya. (rek/dmu/ast)

Sumber: Kompas | 15 Juni 2015

Berikan komentar.