TRP
Daya Dukung Kota Bandung Defisit
16 Juni 2015 \\ \\ 538

JAKARTA — Jumlah penduduk yang terus bertambah menyebabkan daya dukung lingkungan Kota Bandung saat ini masuk kategori defisit dan tidak berkelanjutan. Tingkat pemanfaatan yang melebihi daya dukung bukan hanya pada lahan, melainkan juga pada sumber air dan pangan.

Jika kondisi ini berlanjut, penurunan daya dukung lingkungan akan kian tajam sehingga menurunkan kualitas lingkungan hidup ke tingkat terendah. "Akhirnya, perkembangan Kota Bandung tak dapat lagi dinikmati generasi berikutnya," kata Agus Kuswanto (49) seusai sidang disertasi doktor ilmu lingkungan di Universitas Indonesia, Sabtu (13/6). Pada sidang itu, Dr Tri Edhi Budhi Soesilo menetapkan Agus, peneliti pada Pusat Teknologi Sumber Daya Mineral BPPT, meraih predikat sangat memuaskan. Sidang dipromotori Prof Dr Djoko M Hartono.

Agus yang pernah menjadi Kepala Bidang Teknologi Eksplorasi dan Penambangan Direktorat Pengembangan Sumber Daya Mineral BPPT mengatakan, konversi lahan persawahan menjadi permukiman terjadi sejak dua abad lalu. Kota Bandung semula hanyalah desa kecil yang tahun 1810 bernama Desa Bandung.

Tahun 1901, luas Kota Bandung 900 hektar, yang jadi 2.150 ha tahun 1917. Tahun 1987, luasnya menjadi 16.730 hektar

Saat masih desa, Bandung hanya dihuni 40 keluarga atau 200-300 orang. Tahun 2011 menjadi 2.424.957 jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Bandung. Tahun 2015, Kota Bandung jadi kota terpadat ketiga di Indonesia. Kepadatannya 14.322 jiwa per kilometer persegi.

Belakangan, konversi merambah Bandung Utara yang seharusnya jadi resapan air. Kini, kawasan itu dipenuhi rumah, vila, dan hotel. Pertumbuhan permukiman juga terjadi di lahan miring lebih dari 30 derajat, seperti di Dago.

Beberapa penelitian memperlihatkan penurunan muka air tanah. Tahun 1983-1985, muka air tanah 2,5-10 meter di bawah permukaan tanah. Tahun 1985-1990 turun jadi 10-25 meter.

Tak berkelanjutan

Demi mengetahui daya dukung lingkungan, Agus menghitung "jejak ekologi" untuk mengetahui luas lahan yang diperlukan memenuhi beban yang ditimbulkan aktivitas manusia.

Jejak ekologi mengacu Global Footprint Network yang membandingkan jumlah semua areal yang dimanfaatkan manusia (antara lain untuk pertanian, perikanan, peternakan, hutan, dan bangunan) dengan jumlah semua areal yang sudah dimanfaatkan ataupun yang belum.

Hasil penelitian, daya dukung lingkungan Kota Bandung defisit. Indeks keberlanjutan lingkungannya 49, yang berarti lingkungannya tidak berkelanjutan. "Daya dukung lingkungan menurun atau defisit ditandai penurunan muka air tanah, tanah ambles, longsor, dan banjir," urai Agus.

Daya dukung lingkungan Kota Bandung dihitung berdasarkan tiga pendekatan, yaitu kesesuaian lahan, daya dukung pangan, dan air. Penelitian tahun 2013, daya dukung lahan turun dari 62,48 persen tahun 2007 menjadi 60,65 persen tahun 2013. Itu mengakibatkan degradasi daya dukung.

Daya dukung pangan Kota Bandung termasuk defisit. Pertaniannya tak cukup memenuhi kebutuhan pangan warga. Daya dukung air, yaitu rasio ketersediaan air di alam dengan kebutuhan warga, juga defisit.

Jumlah penduduk Kota Bandung tahun 2010 ada 2.424.957 jiwa, butuh lahan 21.189 ha. Ternyata, lahan hanya 16.730 ha. (YUN)

Sumber: Kompas | 15 Juni 2015

Berikan komentar.