MyPassion
Liu Thai Ker - Penata Kota Singapura
05 September 2016 \\ \\ 396

Mendekati usia 80 tahun, Liu Thai-Ker tidak mau berhenti berkarya. Negerinya, Singapura, telah ia tetapkan menjadi kanvas besar yang tak bertepi. Kanvas tempat ia menuangkan segala ide dan kreasinya untuk menjadikan kota sekaligus negara itu lebih baik.

Laki-laki yang disebut warga serta pemerintah setempat sebagai bapak penata kota Singapura itu kini tengah mendorong agar negara seluas 719,1 kilometer persegi tersebut mempersiapkan diri menghadapi pertambahan penduduk hingga 10 juta jiwa atau sekitar dua kali lipat saat ini. Ia bersemangat bercerita saat mengobrol singkat dengan Kompas, di sela-sela World Cities Summit 2016 di Singapura, 9-13 Juli.

"Penduduk, warga negara, adalah aset paling berharga dan tidak akan pernah habis. Pembangunan yang dirancang baik untuk bisa melayani mereka pasti menggerakkan banyak sektor yang akan menjadi penjamin kehidupan kota itu sendiri di masa kini dan masa depan. Jadi jangan takut dengan urbanisasi," kata Liu.

Mengelola dan melayani warga tidak mudah. Tahun 1960-an ketika Singapura baru merdeka, penduduknya 1,89 juta, sekitar 1,3 juta di antaranya hidup di kawasan kumuh. Ada krisis identitas akut. "Tidak ada yang merasa sebagai orang Singapura, adanya orang Melayu, China, dan India," ujarnya.

Pemerintah Singapura saat itu melihat kerapuhan sosial yang terjadi terutama disebabkan kemiskinan parah yang menjerat warga. Hak atas tempat tinggal layak, pekerjaan dengan penghasilan baik, serta kehadiran pemerintah sebagai penolong warga belum terlihat.

Berangkat dari kondisi itu, pemerintah memutuskan membangun pulau seluas sekitar 500 kilometer persegi (sebelum melakukan reklamasi) menjadi kota taman, di mana setiap penghuni harus punya rumah dengan lingkungan yang baik.

Langsung di bawah komando Perdana Menteri Lee Kuan Yew kala itu, tangan dingin Liu memberikan andil besar dalam mewujudkan mimpi merumahkan warga Singapura di tempat tinggal layak. Langkah ini menjadi tonggak awal perubahan Singapura dari negara dunia ketiga menjadi negara maju kaya raya.

Pemimpin pembelajar

Liu mengikuti orangtuanya pindah ke Singapura setelah Perang Dunia II. Liu kecil menamatkan sekolah dasar hingga menengah di Singapura. Pada 1956-1969, ia belajar sekaligus praktik kerja di dunia arsitektur dan perencana urban di Australia serta Amerika Serikat. Di sela-sela waktu belajar dan bekerja, ia sempatkan mendalami dunia seni, khususnya seni lukis, yang ia sukai.

"Tahun 1969, saya kembali ke Singapura dan bergabung di Housing and Development Board (HDB) sebagai Kepala Unit Desain dan Penelitian. Saya belajar mendengar apa kebutuhan dan keinginan orang tentang rumah impian mereka. Lalu menuangkannya dalam desain perumahan vertikal dan lingkungan hijau di sekelilingnya. Juga bagaimana mendesain perumahan untuk warga dari berbagai etnis," katanya.

Pemerintah Singapura mengawinkan program penyediaan rumah dengan angkutan publik, lapangan pekerjaan, fasilitas pendidikan dan kebutuhan dasar lain, seperti ketercukupan bahan pangan.

Setelah sekitar 20 tahun di HDB, Liu dipercaya menjadi CEO dan Kepala Perencana Kota di Urban Redevelopment Authority (URA) Singapura. Liu makin berpikir bahwa kota adalah kehidupan warga itu sendiri. Jadi, kebutuhan warga yang paling mendasar hingga pengembangan diri masing-masing menjadi fokus bagaimana kota ini harus dibangun.

Untuk alasan itu, kata Liu, penting bagi pemimpin di mana pun untuk belajar tentang pembangunan kawasan urban. Terlebih saat ini pertumbuhan kota-kota di dunia begitu cepat. Dalam 10-20 tahun ke depan, lebih dari 50 persen penduduk dunia akan hidup di perkotaan.

Pemimpin kota, juga negara, bagi Liu, harus selalu rendah hati sehingga mau terus belajar membangun kota yang baik. "Namun, pemimpin harus juga bisa sangat rasional. Kebenaran adalah otoritas terbesar yang harus didengar pemimpin, terlebih kebenaran yang menyangkut hajat hidup warganya," ujarnya.

Dengan prinsip-prinsip itu, Singapura banyak dicap orang luar sebagai negara otoriter. Akan tetapi, otoriter itu dilakukan dengan alasan yang jelas. Menurut Liu, kegiatan blusukan pemimpin seperti yang dicontohkan Lee Kuan Yew ditiru jajarannya, termasuk dirinya. Mengenakan kemeja biasa lengan pendek, bercelana kain, sepatu untuk berjalan kaki, tanpa dasi apalagi jas, lalu berkeliling ke setiap proyek pembangunan dan bicara langsung dengan warga. Itu menjadi kebiasaan pemimpin Singapura sejak lebih dari setengah abad silam hingga kini.

Rencana

Kebijakan pembangunan menara pencakar langit untuk perumahan publik segera menjadi simbol kesuksesan strategi tata kota negara kecil itu. Kini, sekitar 90 persen dari 5,1 juta penduduk Singapura tinggal di perumahan publik.

Namun, kesuksesan itu ternyata menyisakan kesalahan fatal. Setelah hanya fokus mengubah kota lebih nyaman ditinggali, Singapura mulai sadar mereka nyaris meluluhlantakkan budaya mereka sendiri. Saat mulai bertugas di URA, Liu menyadari hal itu dan menghentikan sebagian proyek pembangunan yang menghancurkan situs-situs cagar budaya di awal 1970-an.

Liu pun berpikir keras dan keluarlah Urban Redevelopment Concept Plan yang mengedepankan kebijakan konservasi lingkungan dan kawasan bangunan bersejarah. Muncullah pengembangan distrik sekaligus kawasan konservasi Chinatown, Little India, Kampong Glam, Singapore River-termasuk Boat Quay and Clarke Quay-juga kawasan permukiman seperti Emerald Hill, Cairnhill, Blair Plain, Joo Chiat, dan Geylang.

"Kita menjadi kita saat ini karena ada sejarah panjang yang menyertai, ada kebijakan-kebijakan lokal dan tradisi-tradisi mendarah daging. Ini membuat kota menjadi manusiawi, punya kekhasan, dan semakin nyaman," kata Liu.

Bahkan, kini, konsep kampung, yaitu saling gotong royong, dibawa ke lingkup perumahan publik vertikal. Di Singapura, biasa ditemukan unit rusun yang dihuni satu keluarga lengkap dengan kakek nenek, orangtua, hingga cucu. Kegiatan para orang tua/manula diwadahi. Para sukarelawan digalang untuk rutin mengunjungi, mengobrol, dan memantau kesehatan manula.

Fasilitas bagi anak-anak, orang dewasa, dan manula pun terjamin, seperti ruang main juga berkumpul di lingkup apartemen ataupun ruang publik kota, mudah dijangkau. Konsep kedekatan keluarga yang memang selalu ada dalam diri orang Melayu terus dilestarikan karena itu bagian dari kekuatan warga yang juga membentuk ketahanan kota.

"Apakah semua sudah terpenuhi di Singapura? Tentu saja belum. Kami berusaha bersyukur dan berbahagia dengan pencapaian saat ini. Namun, di Singapura, kami meyakini bahwa kami selalu dalam kondisi berproses menuju lebih baik. Sekarang kami fokus untuk bisa terus berkembang dan bertahan 100-200 tahun ke depan," tutur Liu. Oleh NELI TRIANA

Sumber: Kompas | 5 September 2016

Berikan komentar.