MyPassion
Presiden Siapkan Pidato Restorasi Ekosistem Gambut
01 Desember 2015 \\ \\ 1123

JAKARTA — Presiden Joko Widodo menyiapkan materi restorasi ekosistem gambut pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Paris, Perancis, 30 November hingga 11 Desember 2015. Presiden dijadwalkan berpidato tiga menit pada Senin (30/11) pukul 15. 30 waktu setempat.

Pada saat pernyataan para kepala negara dan pemerintahan itu (147 pemimpin dunia akan hadir), Presiden Jokowi berpidato pada sesi kedua urutan ke-15 setelah Presiden Ukraina dan sebelum Presiden Montenegro. Di ruang Loire, Parc des Expositions du Bourget, Presiden duduk baris ketiga dari panggung utama. "Diapit Wakil Presiden Republik Iran dan Perdana Menteri India," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung sebelum keberangkatan Presiden Joko Widodo, Minggu (29/11) di Jakarta.

Restorasi ekosistem gambut dinilai sangat penting di tengah sorotan global pada perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global. Pemanasan global yang ditandai Bumi yang menghangat adalah efek gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, yang menjebak sinar ultraviolet di Bumi.

GRK terbentuk dari unsur-unsur gas, seperti metana dan karbon dioksida yang dihasilkan aktivitas industri menggunakan bahan bakar fosil, serta kebakaran lahan gambut. Akibat kebakaran hutan dan lahan tahun ini, Indonesia berpotensi masuk dalam kelompok kecil negara pengemisi besar. Karena itu, pidato tentang restorasi ekosistem gambut sangat penting.

Perbaikan ekosistem gambut yang dimaksud, menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, antara lain penegasan tidak ada izin baru lagi di lahan gambut, tidak ada pembersihan lahan baru, serta mengkaji ulang semua perizinan. Perbaikan tata kelola gambut itu kontekstual dengan kebakaran hutan dan lahan, terutama lahan gambut, Juli-November 2015.

Menurut Pramono, Badan Restorasi Ekosistem Gambut yang dibentuk akan bekerja berada di bawah Presiden Jokowi. Mereka langsung bertugas menangani rehabilitasi jutaan hektar lahan gambut rusak. "Badan ini akan mengelola kanal-kanal bersekat di lahan gambut," ujarnya.

Komitmen pemerintah menurunkan emisi GRK, kata Pramono, ditunjukkan dengan penyampaian dokumen niatan kontribusi penurunan emisi nasional (intended nationally determined contribution). "Presiden berkomitmen menekan emisi 29 persen secara mandiri dari kondisi tanpa intervensi pada tahun 2030," ? ujarnya.

Di Paris, menurut Kepala Sekretariat Presiden Darmansjah Djumala, seusai pidato, Presiden Jokowi akan bertemu Perdana Menteri Kerajaan Norwegia Erna Solberg dan Presiden Serbia Tomislav Nikolic.

Norwegia adalah negara yang beberapa tahun bersama Indonesia menurunkan emisi dari program menjaga hutan di Kalimantan. Sebagian kecil dari komitmen dana jutaan dollar AS sudah dikucurkan.

Sementara itu, saat praupacara peluncuran Konferensi Iklim 2015 di Bentara Budaya Jakarta, Kamis lalu, Wakil Duta Besar Kedutaan Besar Perancis di Indonesia Stéphane Baumgarth mengatakan bahwa suara Indonesia penting. Hal ini karena Indonesia rentan dampak perubahan iklim sekaligus emitor signifikan GRK.

"Sebagai negara berkembang yang tergabung G-20, Indonesia bisa memberi contoh negara- negara berkembang lain," tuturnya. (HAR/WHY/JOG)

Berita ini dimuat di Harian Kompas, Senin/30 November 2015

Berikan komentar.