MyPassion
Kota Cerdas Dibutuhkan Masyarakat
20 Maret 2015 \\ \\ 1593

BANDUNG, KOMPAS. Sejalan dengan pertambahan penduduk di kota-kota, permasalahan semakin meningkat. Beberapa dekade lalu, Bandung dan Yogyakarta masih nyaman sebagai kota tempat tinggal. Sekarang jumlah orang dan kendaraan meningkat pesat, juga perumahan semakin padat.

"Tahun 1950 dulu itu jumlah penduduk di kota hanya 30 persen. Sampai tahun 1980-an, kota masih hijau, Bandung masih asri. Lambat laun terjadi urbanisasi. Seusai Lebaran penduduk kota pasti meningkat karena kedatangan para pencari kerja dari desa-desa," kata salah satu pemrakarsa kota cerdas (smart city) di Indonesia, Suhono H Supangkat, di Bandung, Kamis (19/3).

Secara global, penduduk dunia sekarang ini sekitar 7 miliar jiwa, 50 persen atau 3,5 miliar di antaranya hidup di perkotaan. Tahun 2050 diperkirakan akan menjadi 9,6 miliar yang hidup di kota.

Peningkatan jumlah penduduk membuat kebutuhan sumber daya di kota-kota meningkat, baik itu masalah transportasi, energi, pengelolaan sampah, maupun lingkungan.

Kota perlu pengelolaan yang lebih baik, yang sesuai dengan perkembangan persoalan itu sendiri.

Suhono, dosen yang juga Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Institut Teknologi Bandung, mengatakan, untuk memperbaiki kehidupan di kota, muncul gagasan kota hijau (green city). Gagasan ini utamanya untuk mengatasi pencemaran udara kota akibat asap kendaraan bermotor dan polusi pabrik.

Dalam perkembangannya, para ahli perencanaan kota melihat, mewujudkan sekadar kota hijau tidaklah cukup. Dibutuhkan sebuah kota layak huni.

"Lantas muncul smart city, yang menempatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu dengan cepat mengetahui persoalan di lapangan," kata Suhono.

Wali kota atau gubernur yang blusukan, lanjut Suhono, sebenarnya mencerminkan keinginan mereka untuk mengetahui secara langsung titik-titik persoalan kota, seperti kemacetan, kawasan kumuh, daerah banjir, dan persoalan sampah.

Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga ingin serba cepat mengetahui permasalahan yang ada di kotanya. "Misalnya, jika warga ingin bepergian, kalau bisa secepatnya mengetahui tempat yang macet atau banjir dan solusinya apa, ini antara lain yang disebut kota cerdas," ujar Suhono.

sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/03/20/Kota-Cerdas-Dibutuhkan-Masyarakat

Berikan komentar.