MyPassion
JANUMINRO BUNSAL, Perintis Restorasi Hutan Rawa Gambut
12 Maret 2015 \\ \\ 1567

Berkendara menyusuri Jalan Trans-Kalimantan dari Palangkaraya menuju Banjarmasin, jutaan hektar lahan gambut yang gersang pada musim kemarau dan tergenang banjir pada musim hujan menjadi pemandangan mengenaskan. Pepohonan tumbuh, tetapi kering bagai hidup segan mati pun enggan. Hanya perdu dan semak belukar yang merajai lahan gambut eks proyek lahan gambut sejuta hektar itu.

Pemandangan berbeda tampak di hutan gambut milik Januminro Bunsal (53), seorang pegawai negeri sipil. Dari keprihatinan, muncul kepedulian. Di hutan seluas 10 hektar itu aneka pepohonan kayu seperti tumih, geronggang blangiran, dan galam tumbuh rimbun menjulang hingga 25 meter.

Hutan dengan status hak milik itu terletak di Kilometer 30,5 dari Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah. Hutan itu tepatnya berada di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Januminro mengatakan, lahan gambut itu pada 1973 hingga 1993 merupakan kawasan hak pengusahaan hutan dari suatu perusahaan, kemudian beralih menjadi areal proyek lahan gambut sejuta hektar untuk program swasembada pangan. Setelah hutan habis ditebang, kanal-kanal dibuat. Karena kedalaman gambut yang mencapai 12 meter dengan keasaman tanah yang tinggi, lahan itu tidak cocok untuk ditanami padi.

Lagi pula, kontur yang datar membuat permukaan gambut sejajar dengan sungai-sungai besar, seperti Sungai Kahayan dan Barito. Akibatnya, air yang tersimpan di kubah gambut justru habis mengalir ke sungai saat kemarau melalui kanal-kanal buatan. Sebaliknya, pada musim hujan, luapan sungai pun masuk membanjiri areal rawa gambut itu. ”Setiap kemarau, lahan gambut selalu terbakar. Puncak kebakaran yang mengakibatkan kabut asap paling parah terjadi pada 1997-1998.

”Akibatnya, aktivitas sosial lumpuh. Sekolah diliburkan sampai sebulan dan transportasi terganggu,” kata Januminro, Jumat (27/2).

Saat menjabat kepala di Cabang Dinas Kehutanan Kabupaten Kapuas periode 1997-1999, Januminro tergerak untuk mengembalikan keasrian hutan dengan membeli 2 hektar areal lahan gambut itu dengan harga Rp 250.000 per hektar. ”Saat itu, meski sudah bersertifikat, harganya masih murah karena orang-orang tidak bisa mengolahnya. Lahan banyak dibiarkan telantar,” kata suami Evi Veronica (53) itu.

Berbekal pengetahuan dari bangku kuliah di Fakultas Manajemen Hutan, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan juga pengalaman di dinas kehutanan, Januminro secara bertahap menjaga, merawat, dan menanami lahan gambut itu.

”Alam punya kemampuan merestorasi diri sendiri dengan syarat tidak ada gangguan. Oleh karena itu, pohon-pohon kayu seperti tumih yang hampir roboh saya biarkan saja dan justru malah bertunas sehingga sekarang tumbuh pohon-pohon baru,” katanya sambil menunjukkan pohon tumih yang rebah dengan berdiameter sekitar 30 sentimeter, tetapi ”melahirkan” anak-anak tumih baru.

Untuk menjaga restorasi alami itu, Januminro pun membentengi hutannya dari rembetan api kebakaran dengan membuat parit yang lebar dan kedalamannya 1 meter. Agar air tetap menggenang, sejumlah ruas parit dibendung. Pertahanan dari dalam hutan dilakukan dengan membuat sumur bor dengan jarak 100 meter. ”Ada sembilan sumur bor dengan kedalaman 18-20 meter. Jarak antarsumur menyesuaikan panjang maksimal selang, yaitu 50 meter per selang. Tanpa sumur bor, api pasti cepat menghabiskan pohon-pohon,” paparnya.

Melibatkan masyarakat

Januminro tidak sendirian mengelola hutan yang diberi nama Jumpun Pambelom itu. Sesuai arti nama hutan dalam bahasa Dayak, yaitu hutan sumber kehidupan, hutan itu juga memberikan kehidupan bagi masyarakat setempat. Sedikitnya ada tiga kepala keluarga yang diajak menjaga dan mengelola hutan itu. Selain itu, ada lima warga yang bergabung menjadi tim serbu api yang telah dibekali keterampilan memadamkan api.

Sebagai uang lelah, Januminro memberikan upah harian berkisar Rp 50.000-Rp 100.000 per hari dengan makan tiga kali sehari jika keadaan api sangat parah seperti yang terjadi pada 2014. Jika keadaan relatif aman dari api, Januminro memberikan uang bulanan Rp 500.000 ditambah bingkisan beras.

Saat menjadi kepala di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pulang Pisau periode 2000-2004, Januminro mendorong sedikitnya 200 warga di Desa Tumbang Nusa untuk membibitkan aneka tanaman endemis. Selama dua tahun, warga telah menghasilkan enam juta bibit pohon. Kini, di sekitar hutan itu warga mulai secara mandiri membuka usaha pembibitan.

”Agar bibit dapat tumbuh di lahan gambut yang rawan banjir, minimal tingginya sudah 1 meter dengan diameter batang 1 sentimeter. Bibit seperti ini lebih kuat menghadapi genangan air setinggi 50 sentimeter di rawa gambut saat musim hujan,” tutur pemilik blog www.jumpunpambelom.blogspot.com itu.

Selain itu, Januminro juga menerima bantuan dari instansi atau pihak lain, misalnya bersama BNI, dia bermitra dalam program adopsi pohon. Program dari dana tanggung jawab sosial perusahaan itu dilakukan dengan memberikan donasi Rp 100.000 per batang untuk biaya bibit, biaya tanam, dan pemeliharaan oleh warga sekitar hutan. Bibit yang disediakan antara lain ulin, jelutung, gaharu, ramin, blangiran, dan pasak bumi.

Bersama rekan-rekan akademisi dan pensiunan dari dinas kehutanan, Januminro juga membentuk Lembaga Tane Ranu Dayak pada 2012. Lembaga itu, antara lain, menyediakan fasilitas penyuluhan tentang pertanian, kehutanan, dan riset lahan gambut. Hal itu diwujudkan dengan terbukanya akses bagi siapa saja yang ingin berkunjung untuk belajar di hutan yang dilengkapi sebuah aula berukuran 7 meter x 11 meter. Di aula itu juga diisi dengan 3.000 judul buku tentang kehutanan, pertanian, dan rotan.

”Kami terbuka kepada siapa saja yang peduli dengan lingkungan,” kata penulis buku Rotan Indonesia (Penerbit Kanisius, 2000) itu.

Januminro mengatakan, hutan Jumpun Pambelom merupakan pelopor kelola hutan gambut hak milik. Menurut dia, konsep Hutan Kemasyarakatan yang ada selama ini kurang berjalan efektif dan efisien. Hutan jenis itu merupakan hutan negara yang dikelola dalam waktu tertentu oleh masyarakat. ”Di Kalimantan sebenarnya banyak hutan yang dimiliki masyarakat, tetapi belum tersertifikasi. Dengan adanya hak milik, masyarakat akan lebih bertanggung jawab dalam mengelolanya. Selain itu, jangka waktunya tidak terbatas seperti dalam Hutan Kemasyarakatan,” ujarnya.

Atas jerih payah dan upayanya merestorasi hutan gambut yang rusak serta mengajak masyarakat sekitar untuk melakukan pembibitan pohon, ayah tiga anak itu pada Januari lalu menerima Anugerah Kehati Award 2015 dalam kategori Pendorong Lestari Kehati.

 

BIODATA

NAMA

Januminro Bunsal

LAHIR

Buntok, Barito Selatan, Kalimantan Tengah, 13 Juli 1962

Istri: Evi Veronica (53)

Anak: Karina Novi Vriesiana (26) Evan Chrisentius (25) Billy Christianto (17)

PENDIDIKAN

Fakultas Manajemen Hutan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalsel (1986)

JABATAN PNS

Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Palangkaraya (2013-sekarang)

PENGHARGAAN

Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun Pengabdian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2013

Pendorong Lestari Kehati pada Anugerah Kehati Award 2015

 

Sumber: Kompas | 11 Maret 2015

Berikan komentar.