MyPassion
Dirjen Taru: "Tanpa RTRW Pembangunan Infrastruktur Akan Terhambat"
06 Februari 2014 \\ rtrw \\ 1107

"Saat ini Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW sudah menjadi pertimbangan awal dalam proses pembangunan, tanpa adanya RTRW maka semua yang akan dibangun menjadi terhambat", Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum (PU) M. Basuki Hadimuljono dalam acara International Conference on Georesources and Geological Engineering di Yogyakarta (11/12).

Acara ini diprakarsai oleh Unversitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang dibuka oleh Wakil Rektor UGM Dwikorita Karnawati. Pada acara tersebut hadir sebagai pembicara yakni Koichiro Watanabe yang merupakan Profesor dari Universitas Kyushu Jepang, Nanang Abdul Manaf - Vice President PT. Pertamina dan Direktur Jenderal Penataan Ruang Kementerian PU M. Basuki Hadimuljono.

Dalam paparanya, Basuki menyampaikan bahwa peran dari penataan ruang dalam pembangunan infrastruktur sangat penting, untuk itu semua pembangunan harus mengacu pada Rencana Tata Ruang, “tanpa RTRW pasti tidak akan sesuai dan pembangunan itu sendiri akan terhambat†tegas Basuki.

Lebih lanjut, Basuki mengutarakan salah satu contoh penataan ruang yang dijadikan acuan utama dalam pembangunan adalah ditunjuknya Direktorat Jenderal Penataan Ruang (DJPR) sebagai koordinator dalam pembangunan tanggul depan pantai (giant sea wall) di Jakarta. menurutnya, dalam pembangunannya harus mengacu pada rencana tata ruang yang sudah ada serta diperlukan kerjasama dari beberapa sektor sehingga pembangunannya dapat dikawal dari berbagai aspek kepentingan.

Pada kesempatan yang sama, Koichiro Watanabe menyampaikan tentang program kerjasama yang dilakukan antara AUN/SEED-Net dengan Perguruan Tinggi yang ada di Asia Tenggara. AUN/SEED-Net merupakan jaringan perguruan tinggi yang kredibel di Asia Tenggara dan merupakan salah satu proyek yang didanai oleh JICA (Japan International Cooperation Agency). Saat ini di Indonesia terdapat empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang termasuk jaringan AUN/SEED, yaitu Universitas Indonesia UI), Intitut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Institut Teknologi sepuluh Nopember (ITS). Koichiro mengungkapkan, kerjasama tersebut merupakan komitmen Pemerintah Jepang dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya bidang ilmu kebumian di Asia.

Sementara itu Vice President PT. Pertamina Nanang Abdul Manaf menjelaskan peran dari ahli geologi dalam rangka meneliti potensi-potensi geologi yang ada di Indonesia dalam hal ini minyak dan gas, erta program ke depan dari Pertamina yang akan membuat green concept, dimana green concept yang diterapkan adalah pengelolaan minyak & gas dengan mengoptimalkan sisa migas tersebut agar tidak terbuang sia-sia, salah satunya dengan mengubah sisa pembakaran (gas flare) menjadi CNG sebagai bahan bakar kapal nelayan.

Basuki Juga menjelaskan, bahwa saat ini DJPR dengan beberapa ahli geologinya bekerjasama dengan perintah daerah dalam mengendalikan area penyerapan air permukaan yang berada di hulu. “salah satu peran serta Ahli Geologi dalam penataan ruang adalah mengusulkan lokasi Stasiun Lapangan Bayat di Kabupaten Klaten-Jawa Tengah sebagai Kawasan Strategis Provinsi/Kabupaten yang merupakan kawasan konservasi sumber daya alam geologi†ujar basuki Untuk ke depannya, DJPR akan melakukan review untuk peraturan mengenai tata ruang dengan mempertimbangkan kapasitas dan kemampuan dari lahan yang terbatas dengan melibatkan ahli-ahli di bidang kebumian. (ald/har).


Sumber : admintaru_121213

Berikan komentar.